Bismillah. Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.
Tawadhu, kita mengenalnya dengan rendah hati. Orang yang rendah hati karena Allah dan rendah hati dihadapan para hambaNya akan Allah angkat derajatnya.
Pengangkatan ini Allah sebutkan dalam firmanNya:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ
Artinya : “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Surat Al-Mujadalah : 11).
Dalam ayat di atas Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman, dan diantara buah dari ilmu dan keimanan adalah tawadhu.
Tawadhu merupakan tunduk terhadap kebenaran dan patuh akan perintah Allah dan menjauhi laranganNya disertai rendah hati terhadap sesama, perhatian, baik dengan anak-anak maupun dewasa, baik dengan orang yang memiliki kehormatan ataupun tidak.
Adapun lawan dari tawadhu adalah sombong. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Tidaklah seorang tawadhu karena Allah…”
(Karena Allah), ini merupakan peringatan untuk memperbaiki niat dan keikhlasan dalam tawadhu hanya karena Allah.
Karena kebanyakan orang menampakkan ketawadhuan dihadapan orang kaya dengan harapan supaya dia diberi sebagian dari dunianya.
Ada juga yang tawadhu di depan penguasa, dengan harapan dengan sebab penguasa tersebut ia mendapatkan keinginannya.
Ada juga orang yang tawadhu supaya dilihat/riya’ dan didengar/sum’ah (bahwa dia adalah orang yang tawadhu).
Semua tujuan diatas merupakan tujuan yang rusak. Tidak akan bermanfaat kecuali tawadhunya karena Allah, yaitu:
1. untuk mendekatkan diri kepadaNya
2. mencari pahala dariNya,
3. Untuk berbuat baik kepada makhluk. Perbuatan baik yang paling sempurna dan ruh dari kebaikan adalah keikhlasan.
_______
Diterjemahkan dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy. Semoga Allah rahmati beliau.
***
Sidayu, Gresik : 12 Dzulqo’dah 1444 H/1 Juni 2023
Penulis : Safto Mulyono (Abu Haniyfah)
Artikel : Meciangi.or.id






