Bismillah. Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.
Ilmu itu luas, dan bisa jadi sesuatu yang saat ini kita anggap salah akan kita sadari kebenarannya di kemudian hari.
Misal :
قَامَا الزَّيْدَانِ
Mungkin nanti ada yang mengatakan “Salah!!!” Yang benar adalah :
قامَ الزَّيْدَانِ
Karena yang benar قام di awal kata jadi tidak boleh ada alif. “Adapun yang selain itu salah”.
Maka kita katakan, ucapanmu benar fi’ilnya tanpa alif. Tapi yang menjadi masalah adalah ucapan “adapun yang selain itu salah”.
Ucapan tersebut harus dikoreksi. Karena kalimat tersebut konsekuensinya sangat berat, seolah-olah kita telah belajar dan membaca banyak kitab.
Kalimat yang pertama (قاما الزيدان) juga sah-sah saja dengan 2 kemungkinan :
Kemungkinan pertama : Dhomir yang terhubung dengan fi’il (ا) pada kata (قام) keduanya menjadi gabungan dari fi’il dan fa’il. (قاما) merupakan jumlah fi’liyah yang menjadi khabar muqoddam, sementara (الزيدان) merupakan mubtada’ muakhar.
Kemungkinan kedua : dhomir tersebut (ا) memanglah fail dari kata (قام), namun kata (الزيدان) merupakan badal dari dhomir tadi (ا). [*]
Nah, bukan masalah nahwu yang menjadi target penyampaiannya, tapi bagaimana kita menyikapi sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui agar tak langsung menyalahkan.
Boleh-boleh saja berpegang dengan sesuatu bahkan itu sebuah keharusan. Namun bila ada sesuatu yang tak kita ketahui sebelumnya, lebih baik katakan dalam benak “aku tidak tahu” kemudian teruslah belajar.
Kok contohnya dengan qowaidul lughoh?
Iya, apabila yang belajar bahasa Arab saja (penuntut ilmu) harus bilang tidak tahu, maka kita yang ga tau apa-apa justru lebih pantas untuk mengatakan “sepertinya aku tidak tahu”.
——
[*] Tahdzib Alfiyah Ibn Malik
***
Sidayu, Gresik: 18 Muharram 1445/5 Agustus 2023
Penulis : Safto Mulyono (Abu Haniyfah)
Artikel: Meciangi.or.id

