Sabtu, Juni 6, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Rihlah Untuk Menuntut Ilmu

Abu Dawud ad-Dombuwiyy by Abu Dawud ad-Dombuwiyy
18 Desember 2025
in ADAB DAN AKHLAQ
Reading Time: 7 mins read
0
Home ADAB DAN AKHLAQ

Bismillah. Alhamdulillahi. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.

RELATED POST

Mulai dari yang Ringan

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

Berbicara tentang menuntut ilmu, harus ada perjuangan dan pengorbanan, diantaranya berjalan untuk mencari sumber-sumber ilmu atau rihlah menuju tempat-tempat tertentu untuk menuntut ilmu. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۭ ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya : “Tidak sepatutnya bagi orang-orang  mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah : 122)

Allah mengatakan dalam ayat diatas bahwa tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min berangkat semuanya ke medan jihad atau ke medan pertempuran, tapi harus ada sekelompok dari orang-orang mu’min yang rihlah alias bepergian untuk menuntut ilmu atau memperdalam ilmunya, agar mereka bisa memberi peringatan kepada manusia sekembalinya dari menuntut ilmu, supaya manusia bisa menjaga dirinya dari bid’ah, kesesatan, penyimpangan dan dari adzab Allah dan lain sebagainya.

Sekelompok orang-orang yang rihlah untuk menuntut ilmu pada ayat diatas maksudnya adalah para ahli hadits.

Berkata Abdur Rozzaq mengenai makna ayat diatas :

((هم أصحاب الحديث))

“Mereka adalah para ahli hadits.” (An-Nubadz fii Aadaab Tholabil ‘Ilmi, hal.38)

Berkata Ikrimah mengenai firman Allah Ta’ala :

ٱلسَّـٰٓئِحُون» : هم طلب الحديث»

Artinya : “Yang melawat (bepergian).” : Mereka adalah penuntut ilmu hadits. (An-Nubadz fii Aadaab Tholabil ‘Ilmi, hal.38)

Berkata Ibrahim bin Adham :

((إن الله عز وجل يدفع البلاء عن هذه الأمة برحلة أصحاب الحديث))

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menolak musibah dari ummat ini karena sebab rihlahnya para ahli hadits.” (An-Nubadz fii Aadaab Tholabil ‘Ilmi, hal.38)
 

Termasuk dalam ayat ini juga adalah setiap penuntut ilmu yang rihlah ke suatu tempat secara khusus untuk mempelajari ilmu agama, mendalaminya dalam rangka untuk mengangkat kebodohan yang ada pada dirinya dan orang lain, mengamalkannya serta berniat agar menjaga agama agar tidak sirna.

Karena urgensinya rihlah menuntut ilmu, sampai-sampai nabi Allah yang mulia Musa ‘alaihissalam berjalan berhari-hari untuk mencari nabi Khidir ‘alaihissalam supaya beliau bisa belajar kepadanya ilmu yang tidak Allah ‘Azza wa Jalla ajarkan kepada dirinya.

Allah Ta’ala berfirman tentang perihal Nabi Musa ‘alaihissalam :

«قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًۭا»

Artinya : “Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi : 66)

Berkata Al-Haafidz Ibnu Rojab rahimahullah :

،فلو استغنى أحد عن الرحلة في طلب العلم لاستغنى عنه موسى حيث كان أعطاه الله التوراة التي كتب له فيها عن كل شيء ومع هذا فلما أخبره الله عن الخضر أن عنده علما يختص به سأل السبيل إلى لقائه ثم سار هو وفتاه اليه)). اھ

((Seandainya seseorang merasa cukup dari rihlah dalam menuntut ilmu, maka sungguh Nabi Musa pasti merasa cukup darinya ketika Allah telah memberinya kitab taurat yang ditulis didalamnya segala sesuatu, namun bersamaan dengan itu tatkala Allah mengabarkan tentang Nabi Khidir dan tentang ilmu yang ada padanya, maka beliau secara khusus bertanya tentang jalan agar bisa berjumpa dengan Khidir, kemudian Nabi Musa berjalan bersama seorang pemuda (Nabi Yusya bin Nun) menuju kepadanya)). (An-Nubadz fii Adaab Tholabil ‘Ilmi, hal : 39)

Kisah diatas menunjukkan tawadhunya Nabi Musa ‘alaihissalam, padahal beliau Nabi Ulul ‘Azmi, bahkan Allah ‘Azza wa Jalla telah mengangkat derajatnya dan berbicara langsung kepadanya.

Dalam kitab shohihnya Imam al-Bukhari pernah menyebutkan kisah seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu yang berjalan mencari satu hadits :

“ورحل جابر بن عبد الله مسيرة شهر، الى عبد الله ابن انيس، في حديث واحد”

“Jabir bin Abdillah rihlah dengan jarak perjalanan selama satu bulan menuju ‘Abdullah bin Unais untuk mencari satu hadits.” (Shahiih Al-Bukhari, hal.40)

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu termasuk seorang sahabat yang mulia, tapi beliau rela menempuh perjalanan selama satu bulan untuk mencari satu hadits, beliau khawatir sahabat ‘Abdullah bin Unais akan wafat, dan beliau khawatir jika tidak bisa mendapatkan hadits tersebut. Setelah mendapatkan hadits tersebut, beliau langsung kembali pulang.
Demikian juga sahabat yang lain dan juga para tabi’in. Asy-Syaikh Hammad bin Ibrahim mengatakan :
 
وقال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه : ((والذي لا إله غيره، ما أنزلت سورة من كتاب الله إلا أنا أعلم أين أنزلت، ولا أنزلت آية من كتاب الله إلا وأنا أعلم فيمن أنزلت، ولو أعلم أحدا أعلم مني بكتاب الله تبلغه الإبل لركبت إليه))
 
.ورحل جابر بن عبد الله رضي الله عنه مسيرة شهر إلى عبد الله بن أنيس في حديث واحد
 
.وقال سعيد بن المسيب : ((إن كنت لأرحل الأيام والليالي في طلب الحديث الواحد.
 

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan : ((Demi yang tidak ada ilah (yang benar) selain Dia, tidaklah diturunkan satu surat didalam kitabullah kecuali aku yang paling tahu kapan surat itu diturunkan, dan ttidaklah diturunkan satu ayat dari kitabullah kecuali aku yang paling tahu kepada siapa ayat itu diturunkan, seandainya aku tahu ada seseorang yang lebih mengetahui dariku tentang kitabullah, niscaya unta akan mencapainya karena aku akan berangkat kepadanya)).

Dan Jabir bin Abdillah rihlah dengan jarak perjalanan selama satu bulan menuju ‘Abdullah bin Unais untuk mencari satu hadits.

Berkata Sa’id bin Musayyib : ((Dahulu aku berjalan siang dan malam untuk mencari satu hadits)). (An-Nubadz fii Adaab Tholabil ‘Ilmi, hal : 39)

Subhanallah, mereka rihlah dalam menuntut ilmu menggunakan unta, keledai bahkan berjalan kaki. Melintasi panasnya padang pasir yang gersang dan tandus berbulan-bulan, tapi mereka sanggup melewatinya. Adapun sekarang, rihlah-nya kita dengan kendaraan super canggih ; pesawat terbang, mobil mewah, kapal laut  dan lain sebagainya, tapi keberkahan ilmu tetap ada pada para salaf. Apapun itu, jangan jadikan hal ini sebagai pemutus semangat, tetaplah bersemangat dalam menuntut ilmu saudaraku, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

.من سلك طريقا يلتمس فيه علما، سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Shahih Muslim no.2699, (hal.1082))

Jalan menuju surga memang sangat berat, karena ia diliputi oleh perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia, penuh onak dan duri, batu-batu terjal, bahkan jurang dan lembah. Sedangkan jalan menuju neraka, lebih mudah untuk dilalui, karena ia diliputi oleh perkara-perkara syahhwat yang disukai oleh jiwa manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah :

حفت الجنة بالمكاره، وخفت النار بالشهوات

“Surga itu diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci, dan Neraka itu diliputi dengan perkara-perkara syahwat.” (HR. Muslim, no.2822 (hal.1132))

Dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah :

حجبت النار بالشهوات، وحجبت الجنة بالمكاره

“Neraka itu diliputi dengan perkara-perkara syahwat, dan Surga itu diliputi dengan perkara-perkara yang dibenci.” (HR. Al-Bukhari, no.6487 (hal.1244))

Diantara perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa manusia adalah menuntut ilmu, khususnya dengan cara mulazamah, belajar mulai dari kitab-kitab dasar, lalu meningkat ke kitab-kitab diatasnya. Untuk belajar seperti ini, dibutuhkan tekad dan kesabaran, jika tidak maka kita akan berjalan di tempat selamanya.

Karena itu, jika kita mampu untuk rihlah dalam mencari ilmu, maka lakukanlah, karena hal ini termasuk kebiasaan orang-orang sholeh terdahulu, bahkan termasuk kebiasaan para Nabi diantaranya Nabi Musa dan Nabi Yusya ‘alaihimussalam. Bahkan rihlah dalam menuntut ilmu, akan menumbuhkan sikap tawadhu, karena sejatinya kita semua masih  kurang ilmu, sehingga kekurangan itu akan menjadi cambuk bagi kita untuk terus belajar dan belajar.

Berkata Al-Hasan bin Manshur rahimahullah:

.((قلت لأحمد بن حنبل : ((إلى متى يكتب الرجل الحديث؟ قال : حتى يموت

“Aku berkata kepada Ahmad bin Hambal : ((Sampai kapan seorang ahli hadits menulis hadits? Berkata Ahmad bin Hambal : “Sampai dia mati)). [An-Nubadzu fii Aadaabi Tholabil ‘Ilmi, hal.350]

Atsar ini menjelaskan bahwa belajar itu tidak boleh berhenti, selama masih ada umur kita akan terus menuntut ilmu.

Berkata asy-Syaikh Ibrahim bin Isma’il penulis kitab Ta’liimul Muta’allim :

قيل : وقت التعلم من المهد إلى اللحد

“Dikatakan : Waktu belajar itu dimulai dari buaian (ibu) hingga sampai ke liang lahat.” (Ta’liimul Muta’allim, hal.117).

***

Sidayu, Gresik : 20 Shofar 1445 H/6 September 2023

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi.or.id
ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had al-Furqon al-Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Mulai dari yang Ringan
ADAB DAN AKHLAQ

Mulai dari yang Ringan

17 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

8 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)

11 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)

8 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 1)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 1)

30 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati

8 Mei 2026
Next Post
Hak Pemimpin di Dalam Syariat Islam

Hak Pemimpin di Dalam Syariat Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Angkatlah Do’amu di Hari Arafah
  • Puasa Awal Dzulhijjah
  • Kambing 1,7 Tahun Belum Powel
  • Biografi Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdan

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp