Alhamdulillah ‘ala ihsanih wasyukru lahu ‘ala taufiqihi wamtinanih wassholatu wassalamu ‘ala nabiyyina wa ikhwanih.
Saudara seiman yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah.
Sungguh bulan Ramadhan di depan kita tinggal hitungan jari, betapa Allah ‘Azza wa Jalla memuliakan kita dengan menjadikan kita diantara hamba-hamba-Nya yang bisa menuai limpahan kebaikan dan ganjaran pahala dalam bulan yang mulia ini. Sangat tidak elok untuk dikatakan wajar ketika kita mendapati bulan ini karena perputaran waktu selama setahun semata, namun ada yang lebih besar dari itu yaitu sebuah kesempatan, keberuntungan serta amanah yang Allah ‘Azza wa Jalla titipkan agar kita bisa bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala bentuk amal shaleh dan menjauhi keburukan serta maksiat di bulan yang penuh keberkahan ini. betapa banyak mereka yang telah bertekad untuk beramal shaleh dengan sungguh ketika datang ramadhan, sebagian mereka bertekad untuk bertobat dengan sebenar-benarnya, namun semua harapan itu lenyap karena ajal mendahului mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Nabi ﷺ sangat bahagia ketika datang bulan Ramadhan, Beliau ﷺ dengan perasaan senang dan suka cita bersabda kepada para sahabatnya dan juga berlaku kepada kita umatnya:
قد جاءكم رمضان، شهر مبارك، افترض الله عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغل فيه الشياطين، فيه ليلة خير من ألف شهر، من حرم خيرها، فقد حرم
“Sungguh telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, bulan yang mana Allah mewajibkan atas kalian berpuasa, bulan dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, padanya dibelenggu syaitan-syaitan, bulan yang terdapat di dalamnya satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang diharamkan untuk menuai kebaikan di dalamnya, maka dia telah diharamkan dari seluruh kebaikan. (Shahih an Nasai: 2105)
Kita sebagai umat Nabi ﷺ yang berharap bersama beliau di hari akhir kelak dengan menjadikan beliau suri tauladan dalam hidup agar menyambut bulan ramadhan dengan penuh suka cita dan kebahagiaan sebagaimana beliau ﷺ, kebahagiaan yang bahkan meneteskan air mata, kebahagiaan yang membuat kita menyiapkan segala sarana agar sukses dalam menyambut tamu yang telah lama dirindukan.
Nabi ﷺ sangat menyiapkan segala hal ketika akan menyambut bulan ramadhan, kesiapan psikis untuk Istiqomah menjadikan Allah sebagai prioritas utama melebihi hari-hari biasanya, kesiapan fisik untuk berpuasa sebulan penuh, menahan lisan dari segala macam virusnya, kesiapan harta untuk bersedekah, kesiapan dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, mengingatkan diri dan keluarga untuk benar-benar memanfatkan bulan mubarak ini dengan sebaik-baiknya. Karena setiap kebaikan yang dilakukan di bulan ramadhan akan dilipatgandakan oleh Malikul muluk Allah ‘Azza wa Jalla terkhusus amalan utama yaitu puasa.
Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌعِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)
Jika kita dijanjikan oleh wali kota sebuah hadiah yang dirahasiakan, tentu kita sangat yakin hadiah tersebut sangat besar karena yang memberikan adalah wali kota, bagaimana jika yang menjanjikan adalah seorang gubernur, bagaimana jika presiden, pasti dalam benak kita hadiah itu begitu besar karena itu kita menjadi sangat bahagia, lalu bagaimana jika yang menjanjikan hadiah tersebut adalah Malikul muluk, pencipta dan penguasa langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya!? Tentu ini keutamaan yang sangat besar yang perlu dihadirkan agar kita lebih semangat ketika menjalani ibadah-ibadah di bulan mulia ini.
Bahkan terdapat atsar dari Nabi ﷺ dimana beliau ketika memasuki sepuluh terakhir bulan ramadhan semangat beliau bahkan semakin bertambah.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.” (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).
Maka hendaknya kita menjadikan setiap hari, jam bahkan menit di bulan ramadhan berbeda dengan hari-hari selainnya, kita berusaha untuk memiliki semangat yang tinggi dalam beribadah, menghadirkan ihsan yaitu beribadah seakan-akan kita melihat Allah, merasakan bahwa kita selalu diawasi sehingga membuat jiwa semakin khusyuk kepada-Nya, menjadikan ramadhan ini adalah ramadhan terakhir sehingga benar-benar memanfaatkan segala peluang kebaikan yang meraih ridha-Nya, dan kita memohon kepada Allah Jalla wa ‘ala agar memudahkan kita untuk merealisasikan keinginan-keinginan kita di bulan ramadhan ini. Innahu Waliyyun Dzalika wal Qoodiru ‘alaihi.
اللَّهُمَّ أَعِنّا عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Ya Allah, tolonglah kami dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu
***
Surabaya, 23 Sya’ban 1445vH/4 Maret 2024
Penulis: Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel: Meciangi.or.id






