Sabtu, Juni 6, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Pengajian Terakhir Di Pelosok Desa Yogyakarta

Pentingnya Bersyukur dalam Kehidupan Sehari-hari

Muhammad Dimas Prasetyo by Muhammad Dimas Prasetyo
28 Januari 2025
in ADAB DAN AKHLAQ
Reading Time: 13 mins read
0
Home ADAB DAN AKHLAQ

Bismillah Wassholaatu Wassalaamu ‘alaa Rosulillah

RELATED POST

Mulai dari yang Ringan

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidaklah dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14]: 34)

Allah Ta’ala berfirman,

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. An-Nahl [16]: 83)

Definisi Syukur:

Imam Ibn Qayyim Rahimahullah mengatakan:

“Syukur adalah tampaknya pengaruh dari nikmat Allah di lisan hamba-Nya: pujian dan pengakuan, di hati dengan kesaksian dan kecintaan, serta pada anggota tubuh dengan ketaatan dan kepatuhan.” (Madârij as-Sâlikîn, 2/244).

Imam as-Sa’di – semoga Allah merahmatinya – dalam tafsirnya mengatakan: “(Syukur adalah) pengakuan hati atas anugerah Allah, penerimaan dengan ketergantungan pada-Nya, dan penggunaan nikmat-Nya dalam ketaatan kepada Allah, serta menjaga agar tidak digunakan dalam kemaksiatan.” (Tafsir as-Sa’di, 11).

Sebagian ulama lainnya mendefinisikan syukur dengan mengatakan:

“Syukur adalah memuji pemberi nikmat atas kebaikan yang diberikan kepada kita.”

Rukun Syukur

1. Pengakuan terhadap nikmat

2. Memuji pemberi nikmat

3. Menggunakan nikmat pada ketaatan

____________________________________________________________ 

1. Pengakuan terhadap nikmat:

Artinya, kita harus mengakui, meyakini bahwa yang memberikan nikmat itu adalah Allah. Hamba hanyalah sarana untuk memperoleh nikmat tersebut. Jangan sampai kita menganggap nikmat tersebut datang dari hamba dan melupakan Tuhan, karena ini adalah perbuatan orang-orang bodoh yang memiliki keyakinan yang sesat. Mereka menisbahkan nikmat kepada selain Penciptanya. Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun yang mengatakan: ‘Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya,’ maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan: ‘Kami diberi hujan karena pengaruh bintang anu,’ maka dia adalah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi ﷺ juga bersabda:

عن النبي ﷺ قال: لا تقولوا: ما شاء الله وشاء فلان، ولكن قولوا: ما شاء الله ثم شاء فلان رواه أبو داود بسند صحيح.

Artinya: “Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Janganlah kalian mengatakan: Apa yang dikehendaki oleh Allah dan dikehendaki oleh si Fulan, tetapi ucapkanlah: Apa yang dikehendaki oleh Allah, kemudian dikehendaki oleh si Fulan.” (Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

2. Mengungkapkan dan memuji pemberi nikmat:

Dengan segala nikmat yang diberikan kepada kita. Karena itu, Nabi Muhammad SAW selalu menghabiskan malamnya dengan memuji Allah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha: “Suatu malam aku kehilangan Rasulullah SAW, lalu aku meraba-raba tempat tidur, ternyata beliau sedang sujud dengan kedua kakinya tegak dan beliau berkata:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك، وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْك، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِك) رواه مسلم.

‘Ya Allah, aku berlindung dengan ridho-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Tidak bisa aku menghitung pujian-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.'” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Adh-Dhuha:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.” (Adh-Dhuha: 11)

3. Menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada Allah:

Allah berfirman dalam Surat Saba’ ayat 13:

ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ

“Beramal lah wahai keluarga Daud, sebagai bentuk syukur kepada-Ku.” (Saba’ 13).

Makna ayat ini adalah: “Wahai keluarga Daud, beramal lah dengan syukur kepada Allah atas segala pemberian-Nya, yaitu dengan taat kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.”

_________________________________________________________________________________

Jadi, Apa perbedaan antara syukur dengan ucapan dan syukur dengan amal?

Syukur dengan ucapan disebut pujian, sedangkan syukur dengan amal disebut syukur. Dalam hal ini, Allah memerintahkan keluarga Daud untuk bekerja sebagai bentuk syukur, bukan hanya sekedar mengucapkan terima kasih. Oleh karena itu, hanya sedikit hamba yang benar-benar bersyukur dengan amal. Jika Allah memberikan rezeki berupa harta, maka jangan digunakan untuk hal-hal yang haram. Jika Allah memberikan kita sarana seperti televisi, maka jangan gunakan untuk hal-hal yang haram. Sebaliknya, gunakan semua itu dalam ketaatan kepada Allah. Karena, syukur terhadap nikmat adalah menggunakannya di jalan Allah, sementara kufur terhadap nikmat adalah menggunakannya untuk kerusakan dan keburukan. Jika Allah memberikan ilmu, syukurilah dengan mengamalkan dan membagikan ilmu itu kepada orang lain. Jika Allah memberikan kedudukan, gunakanlah untuk menolong orang lain. Jika Allah memberikan iman dan keyakinan yang kuat, sebarkanlah kepada orang lain. Begitu juga jika Allah memberi kita keturunan, maka syukuri dengan mengajarkan mereka akidah yang benar dan membesarkan mereka dalam ketaatan kepada Allah.

Abu Abdurrahman al-Hubli berkata:

“Shalat adalah bentuk syukur, puasa adalah bentuk syukur, dan setiap kebaikan yang kamu lakukan untuk Allah adalah bentuk syukur. Dan yang terbaik dari segala bentuk syukur adalah pujian.” (Diriwayatkan oleh Ibn Jarir).

Perbedaan antara Syukur dan Pujian:

Syukur dilakukan dengan anggota tubuh (jaringan), sementara pujian dilakukan dengan lisan dan hati. Oleh karena itu, kita mendengar tentang sujud syukur, tetapi tidak mendengar tentang sujud pujian, karena syukur dilakukan dengan anggota tubuh. Seperti yang telah dijelaskan dalam rukun syukur, syukur berarti menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada Allah, dan ini adalah tindakan yang dilakukan dengan anggota tubuh.

Keutamaan Bersyukur dan Orang-orang yang Bersyukur

Di antara Nama-nama Allah:

Allah adalah “Ash-Shâkir” (Maha Mensyukuri) dan “Ash-Shakûr” (Maha Bersyukur).

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang melakukan haji atau umrah, tidak ada dosa baginya untuk melakukan tawaf keduanya. Dan barang siapa yang melakukan kebaikan lebih, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 158)

Dan Allah berfirman:

إنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Ash-Shura: 23)

Allah adalah Dzat yang tidak mengabaikan pahala bagi orang yang beramal baik, bahkan menghargai sekecil apapun amal shaleh dengan memberi pahala yang berlipat ganda tanpa perhitungan. Sebagai bentuk syukur-Nya, Allah memberikan kebahagiaan yang tak terhingga di akhirat bagi orang yang beramal baik dalam kehidupan yang singkat ini.

Allah berfirman:

كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ

“Makanlah dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan di masa lalu.” (Al-Haaqqa: 24)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Suatu ketika, seorang pria sedang berjalan dan merasa sangat haus. Dia menemukan sebuah sumur, lalu dia minum dari sumur tersebut. Setelah itu, ketika dia keluar, dia melihat seekor anjing yang kehausan dan memakan debu. Dia merasa, ‘Anjing ini mengalami hal yang sama seperti saya,’ lalu dia mengisi sepatu dengan air dan membawanya dengan mulutnya untuk memberi air pada anjing tersebut. Karena perbuatannya ini, Allah mensyukuri amalannya dan mengampuni dosanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita juga mendapat pahala dalam memperlakukan binatang?” Beliau menjawab: “Di setiap hati yang hidup ada pahala.” (Muttafaq Alaih)

Dalam banyak hadits, kita dapat menemukan bahwa bagi setiap amal baik, Allah menjanjikan surga. Ini adalah bukti bahwa Allah itu Maha Mensyukuri, yang memberi balasan lebih banyak atas amal yang sedikit. Betapa Rahmat dan Kebesaran Allah!

Syukur adalah Sifat Para Nabi dan Orang Shalih:

1. Allah berfirman tentang Nabi Nuh AS:

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

“Anak cucu orang-orang yang kami selamatkan bersama Nuh, sesungguhnya Nuh adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.” (Al-Isra: 3)

2. Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin orang-orang yang bersyukur.

Dari al-Mughirah bin Shu’bah radhiyallahu anhu, beliau berkata:

“Nabi ﷺ biasa berdiri untuk shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau berkata: ‘Tidakkah saya ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?'” (HR. Bukhari)

3. Perintah Allah untuk bersyukur:

Allah Ta’ala berfirman:

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (Al-Baqarah: 152)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ

“Dan Kami berikan kepada Luqman hikmah, ‘Bersyukurlah kepada Allah, siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan siapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.'” (Luqman: 12)

Allah juga berfirman:

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah tempat kembali.” (Luqman: 14)

4. Allah memerintahkan Nabi Musa AS untuk bersyukur:

قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّى ٱصْطَفَيْتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ بِرِسَٰلَٰتِى وَبِكَلَٰمِى فَخُذْ مَآ ءَاتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ

“Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilihmu di atas umat manusia dengan wahyu-Ku dan pembicaraan-Ku. Ambillah apa yang Aku berikan kepadamu dan jadilah orang yang bersyukur.” (Al-A’raf: 144)

Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk bersyukur:

يأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah-Nya.” (Al-Baqarah: 172)

5. Sifat orang-orang beriman:

Dari Suhayb radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ. رواه مسلم.

“Ajaibnya keadaan orang beriman, seluruh urusannya baik baginya, dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang beriman. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya, dan jika ia mendapat kesusahan, ia sabar, dan itu lebih baik baginya.” (Sahih Muslim)

Sebagai penyebab keridhaan Allah terhadap hamba-Nya: Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrohim: 7)

6. Keamanan dari azab: Allah berfirman:

مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisa: 147)

Qatadah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab orang yang bersyukur dan beriman.” (Tafsir al-Tabari: 9/342)

7. Penyebab tambahan nikmat:

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ 

“Dan ketika Tuhanmu telah memutuskan, ‘Jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian.'” (Ibrahim: 7)

Beberapa salaf rahimahumullah berkata:

“Nikmat itu seperti binatang liar, maka ikatlah dengan syukur.”

Al-Hasan al-Basri berkata:

“Sesungguhnya Allah memberikan kenikmatan sampai Dia menginginkannya. Namun, jika tidak disyukuri, Dia akan mengubahnya menjadi azab. Karena itu, syukur disebut sebagai ‘pelindung’ karena ia menjaga nikmat yang ada, dan juga sebagai ‘penarik’ karena ia menarik nikmat yang hilang.”

Ali bin Abi Talib radhiyallahu anhu berkata kepada seorang pria dari Hamadzan: “Sesungguhnya nikmat itu terhubung dengan syukur, dan syukur itu berhubungan dengan penambahan nikmat. Keduanya beriringan, dan tambahan nikmat dari Allah tidak akan terputus selama syukur dari hamba tidak terputus.”

8. Pahala yang besar di akhirat:

Allah Ta’ala berfirman:

وَسَنَجْزِى ٱلشَّٰكِرِينَ

“Dan Kami akan memberi pahala yang besar kepada orang-orang yang bersyukur.” (Aali Imran: 145)

Orang-orang yang bersyukur adalah mereka yang dipilih oleh Allah di antara hamba-hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولُوٓا۟ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَآ ۗ أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ

“Dan demikianlah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian lainnya, agar mereka berkata, ‘Apakah orang-orang ini yang diberi nikmat oleh Allah di antara kami? Bukankah Allah lebih mengetahui siapa yang bersyukur?'” (Al-An’am: 53)

9. Ridha Allah tergantung pada syukur:

Ibn Qayyim rahimahullah berkata:

“Di antara kedudukan dalam ayat ‘Hanya kepada Engkau kami sembah, dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan’ adalah kedudukan syukur, yang merupakan salah satu derajat yang paling tinggi. Ia lebih tinggi dari derajat ridha, karena ridha itu bagian dari syukur, dan tidak mungkin ada syukur tanpa ridha.”

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang makan sesuap makanan lalu memuji-Nya atasnya, dan meminum seteguk air lalu memuji-Nya atasnya.” (HR. Muslim)

10. Kesehatan dengan syukur lebih baik daripada musibah dengan sabar:

Murtadha rahimahullah berkata:

“Lebih aku sukai jika aku diberi kesehatan lalu aku bersyukur, daripada aku diuji dengan musibah lalu aku bersabar.” (Mukhtasar Minhaj al-Qasidin: 295)

11. Allah menggambarkan hamba-Nya yang bersyukur sebagai sedikit di antara hamba-Nya:

Allah berfirman:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba: 13)

Bagaimana menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur? yaitu dengan bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan-Nya:

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan sungguh Allah telah memberikan pertolongan kepadamu di Badar, padahal kamu waktu itu lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, agar kamu bersyukur.” (Aali Imran: 123)

Ibnu Ishaq berkata: “Yaitu bertakwalah kepada-Ku, karena itu adalah bentuk syukur atas nikmat-Ku.” (As-Sirah 3/113)

_____________________________________________________________________________________

Kisah Tentang Syukur

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى، فَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا،

“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit lepra, orang berkepala botak dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

 فَأَتَى اْلأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسَ بِهِ، قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبْ عَنْهُ قَذَرُهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: اْلإِبِلُ أَوِ الْبَقَرُ – شّكٌّ إِسْحَاقُ – فَأُعْطِيَ نَاقَةً عُشْرَاءَ، فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit lepra dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan iapun didoakan: “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

 قَالَ: فَأَتَى اْلأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ بِهِ، فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِيَ شَعْرًا حَسَنًا، فَقَالَ: أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْبَقَرُ أَوِ اْلإِبِلُ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا.

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab: “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan: “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

 فَأَتَى اْلأَعْمَى، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: أَنْ يُرِدِ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأَبْصَرَ بِهِ النَّاسَ، فَمَسَحَهُ، فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟، قَالَ: الْغَنَمَ، فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab: “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

 فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ اْلإِبِلِ، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَر، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ.

Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya:

 ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى اْلأَبْرَصَ فِي صُوْرَتِهِ وَهَيْئَتِهِ، قَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحُسْنَ وَالْجِلْدَ الْحُسْنَ وَالْمَالَ، بَعِيْرًا أَتَبَلَّغُ بِهِ فِي سَفَرِي، فَقَالَ: الْحُقُوْقُ كَثِيْرَةٌ، فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرَفْكَ! أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيْرًا فَأَعْطَاكَ اللهُ الْمَالَ؟، فَقَالَ: إِنَّمَا وَرَثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كاَذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ.

“Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit lepra, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit lepra), dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab: “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab: “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka malaikat tadi berkata kepadanya: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.”

 قَالَ: وَأَتَى اْلأَقْرَعَ فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya (disaat masih botak), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit lepra, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “Jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula.”

 قَالَ: وَأَتَى اْلأَعْمَى فِي صُوْرَتِهِ، فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ وَابْنُ سَبِيْلٍ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالِ فِي سَفَرِي، فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ، أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي، فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخَذَ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ، فَوَاللهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ للهُ، فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيْتُمْ، فَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْكَ وَسَخَطُ عَلَى صَاحِبَيْكَ

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah. “Lalu Malaikat tadi berkata: ‘Tahanlah hartamu, karena sesungguhnya kalian sedang diuji. Sesungguhnya Allah telah meridai dirimu dan murka terhadap kedua sahabatmu.”

________________________________________________________________________________________

Cara Untuk Membantu Mensyukuri Nikmat

1. Melihat Orang yang Dalam Keadaan Di Bawah Kita:

Hal ini akan mendorong seseorang untuk menghargai nikmat dan tidak meremehkannya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang lebih diberi kelebihan dalam harta dan akhlak, hendaknya dia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya dalam hal ini.” (Muttafaq ‘alayh).

Imam An-Nawawi berkata: “Ini adalah hadis yang mencakup berbagai jenis kebaikan, karena jika seseorang melihat orang yang diberi lebih banyak dalam urusan dunia, hatinya akan cenderung menginginkan hal itu dan meremehkan nikmat yang dimilikinya. Namun, jika dia melihat orang yang lebih rendah darinya dalam urusan dunia, maka dia akan melihat nikmat Allah yang diberikan padanya dan bersyukur atasnya, bersikap rendah hati, dan berbuat baik.”

2. Mengetahui bahwa Manusia adalah Hamba yang Dimiliki oleh Tuhannya:

Dan bahwa dia tidak memiliki apa-apa secara mutlak, semua yang dimilikinya adalah pemberian dari Tuhannya. Oleh karena itu, dalam hadis yang shahih disebutkan bahwa Nabi SAW berdiri sampai kedua kakinya bengkak. Dikatakan kepada beliau: “Apakah engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab: “Bukankah saya ini hamba yang bersyukur?” Artinya, segala yang dilakukan oleh Allah kepadanya berupa pemilihan, petunjuk, dan pengampunan adalah pemberian-Nya semata yang layak untuk dipuji dan disyukuri, dan beliau adalah hamba-Nya.

3. Memanfaatkan Nikmat dan Tidak Menimbunnya:

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Makanlah, minumlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tanpa kikir, karena Allah menyukai jika Dia melihat dampak nikmat-Nya pada hamba-Nya.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan disahihkan oleh Al-Hakim). Diriwayatkan oleh Al-Albani bahwa hadis ini sahih.

4. Mengingat Allah Azza wa Jalla:

Karena syukur pada hakikatnya adalah mengingat Allah Azza wa Jalla.

Mujahid berkata mengenai ayat Nabi Nuh: “Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang banyak bersyukur.” (Al-Isra: 3): “Dia tidak makan sesuatu kecuali dia memuji Allah atasnya, tidak minum kecuali dia memuji Allah atasnya, dan tidak melakukan sesuatu apapun kecuali dia memuji Allah atasnya.” Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha kepada seorang hamba yang makan sesuap makanan lalu memuji-Nya, atau minum seteguk air lalu memuji-Nya.” (HR. Muslim)

5. Rendah Hati dan Meninggalkan Kesombongan:

Karena kesombongan bertentangan dengan syukur, karena hakikat kesombongan adalah perasaan bahwa seseorang adalah pemilik dan pengatur segala sesuatu, sementara syukur adalah pengakuan bahwa semua yang ada adalah pemberian dari Allah.

6. Menyadari Kekurangan dalam Bersyukur:

Hal ini berarti menyadari bahwa meskipun seseorang berusaha sekuat tenaga dalam bersyukur, dia tidak akan dapat membayar hak satu pun nikmat Allah atas dirinya. Bahkan, syukur itu sendiri adalah nikmat yang memerlukan syukur. Oleh karena itu, ada yang berkata: “Jika syukur saya adalah nikmat Allah yang diberikan, maka tentu saja saya harus bersyukur atasnya. Bagaimana bisa syukur itu ada tanpa karunia-Nya, meskipun waktu berlalu dan umur panjang.”

7. Berjuang Melawan Setan dan Memohon Perlindungan dari-Nya:

Ibnul Qayyim berkata: “Ketika musuh Allah, Iblis, mengetahui kedudukan tinggi syukur dan betapa mulianya kedudukan ini, dia berusaha menghalangi orang-orang untuk mencapainya. Allah berfirman:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ

‘Kemudian aku pasti akan mendatangi mereka dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka, dan kamu tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'” (Al-A’raf: 17)

8. Menghindari Berkumpul dengan Orang yang Lalai (Ghaflah):

Karena berkumpul dengan mereka akan membuat seseorang lupa bersyukur dan tidak merenung tentang nikmat Allah. Dikatakan kepada Al-Hasan: “Ada seorang pria yang tidak bergabung dengan orang lain.” Maka ia pergi kepadanya dan bertanya, “Mengapa engkau tidak bergabung dengan orang lain?” Dia menjawab: “Aku sering berhadapan dengan dosa dan nikmat, dan aku lebih memilih untuk mengingat dosa dan bersyukur atas nikmat Allah.” Maka Al-Hasan berkata: “Engkau lebih bijak daripada saya.”

9. Berdoa:

Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersyukur dan memudahkan kita untuk mengikuti jalan syukur serta meraih kedudukannya yang tinggi. Nabi ﷺ berkata kepada Mu’adz radhiyallahu anhu:

“Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Jangan lupa untuk selalu berdoa setelah setiap salat: ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya.'” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i, dan hadis ini shahih).

_______________________________________________________________________________________

Kesimpulan

Bersyukur adalah suatu bentuk pengakuan kita atas segala nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah. Syukur bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati yang penuh rasa terima kasih dan perbuatan yang mencerminkan rasa syukur tersebut. Ketika kita bersyukur, kita membuka pintu berkah dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, ketidaksyukuran akan membuat kita lalai dan meremehkan nikmat yang sebenarnya sangat berharga. Dalam hidup yang penuh ujian dan cobaan, bersyukur adalah kunci untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Semoga kita senantiasa diberi kemampuan untuk mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan dan terus memperbaiki diri untuk menjadi hamba yang lebih baik.

Wallahu ‘alam

…

“Bersyukur bukan hanya tentang menghitung apa yang kita miliki, tetapi tentang merasakan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupan. Rasa Syukur tidak hanya mengubah apa yang kita miliki, tetapi juga mengubah bagaimana kita melihat kehidupan.”

***

Malam Isya di Musholla Al Ikhlas. Pengajian Bapak-bapak dan Ibu-Ibu Warga Dukuh Warak Desa Girisekar, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 27 Rajab 1446 H/27 Januari 2025 M.

Ditulis oleh : Muhammad Dimas Prasetyo

Artikel : Meciangi.or.id

ShareTweetPin
Muhammad Dimas Prasetyo

Muhammad Dimas Prasetyo

Muhammad Dimas Prasetyo adalah Penghafal Al-Qur'an. Alumni Ma'had Meci Angi Dompu, alumni Ponpes Riyadhus Sholihin Pandeglang, sedang menempuh studi S1 di STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.

Related Posts

Mulai dari yang Ringan
ADAB DAN AKHLAQ

Mulai dari yang Ringan

17 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

8 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)

11 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)

8 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 1)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 1)

30 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati

8 Mei 2026
Next Post
Baju Gamis Wanita Muslimah

Baju Gamis Wanita Muslimah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Angkatlah Do’amu di Hari Arafah
  • Puasa Awal Dzulhijjah
  • Kambing 1,7 Tahun Belum Powel
  • Biografi Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdan

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp