Apa hukumnya menyambung silaturrahim dengan kerabat yang kafir?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Menyambung silaturahim dengan kerabat yang kafir hukum asalnya wajib jika itu adalah orang tua kandung.
Allah Ta’ala berfirman :
{ وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰۤ أَن تُشۡرِكَ بِی مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمࣱ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِی ٱلدُّنۡیَا مَعۡرُوفࣰاۖ }
Artinya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman : 15)
Adapun selebihnya maka hukumnya boleh tergantung kondisi.
Allah Ta’ala berfirman :
{ لَّا یَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِینَ لَمۡ یُقَـٰتِلُوكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَلَمۡ یُخۡرِجُوكُم مِّن دِیَـٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوۤا۟ إِلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِینَ }
Artinya : “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(QS. Al-Mumtahanah : 8)
Dalam hadits yang Shahih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghadiahkan baju kepada Umar radhiyallahu anhu seraya bersabda :
إنِّي لم أكْسُكَها لِتَلْبَسَها، فكساها عُمَرُ أخًا له مُشرِكًا بمكَّةَ
“Aku tidak memberimu untuk kamu pakai. Maka Umar memberikannya kepada saudaranya yang masih musyrik di Mekkah.” [HR Bukhari 886 dan Muslim 2068]
نصَّ المالِكيَّةُ على أنَّ صِلةَ الكُفَّارِ الواجبةِ مُنحَصِرةٌ في الوالِدَينِ، أمَّا غيرُ الوالِدَينِ من القراباتِ، فظاهِرُ كلامِهم الجوازُ، ما لم يؤَدِّ إلى مودَّتِهم.
“Malikiyah menyebutkan wajibnya menyambung silaturahim dengan orang kafir hanya wajib pada kedua orang tua, adapun selainnya maka dhahir nya boleh selama tidak mengundang rasa saling cinta.” [Lihat Ar Risalah, Qoiruwani 153]
Adapun Syafi’iyah berkata :
تجِبُ صِلةُ الوالِدَينِ، وتُسَنُّ صِلةُ الأقارِبِ، لكِنْ إذا وصَلَهم يحرُمُ عليه قَطعُها بعد ذلك، ولم يُفَرِّقوا بين المسلمِ والكافرِ.
“Wajib silaturahim dengan kedua orang tua, dan disunnahkan silaturahim dengan kerabat, dan jika sudah menyambung silaturahim maka haram hukumnya memutuskannya setelah itu, dan tidak membedakan antara muslim dan kafir.” [Lihat Al Majmu, Nawawi 6/241]
Semoga bermanfaat
***
Ma’had Al Furqon Al Islami Sidayu, Ahad 4 Dzulqodah 1445 H / 12 Mei 2024 M
Dijawab Oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc, M.A
Artikel : Meciangi.or.id






