Apakah mode pengajaran dengan gaya dongeng ala Kak Erlan itu tepat bagi anak-anak?
Bagaimana para salaf mendidik anak-anak mereka memahamkan agama? Apakah dengan syair/nyanyian seperti yang dicontohkan Kak Erlan dkk?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah dongeng yang tidak ada realitanya di dunia nyata.
Sebagian menganggap ini sebagai dusta yang diharamkan dan sebagian lagi memperbolehkan jika untuk tujuan kebaikan.
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata:
وكذلك إحداث القصص التي لا أساس لها، يخشى أن تكون من الكذب، ينبغي له أن يوضح للناس ما هو واضح، وما هو بين من أمر الخير، وما هو بين من أمر الشر؛ حتى يحذروا الشر، وحتى يرغبوا في الخير بالآيات والنصوص التي جاءت عن رسول الله -عليه الصلاة والسلام-.
Begitu pula dengan membuat dongeng yang tidak ada sumbernya, dikhawatirkan ini adalah dusta, hendaknya dia menjelaskan kepada manusia perkara perkara yang sudah jelas, perkara kebaikan yang sudah jelas, menjelaskan perkara keburukan yang jelas supaya manusia menghindarinya, supaya mereka lebih suka kepada kebaikan dengan ayat ayat dan nash yang datang dari Nabi ﷺ.
يعني يكفي المؤمن في تعليمه وفي وعظه وتذكيره ما كفى الأولين، مع البعد عن الكذب الذي هو التمثيل، أو القصص التي لا أساس لها .. قصص غير واقعة
Yakni seorang mukmin dalam mengajar cukup dengan nasehat dan mauidzoh yang dipakai para salaf zaman awal, menjauhi kedustaan baik itu drama maupun dongeng yang tidak ada sumbernya, kisah yang tidak ada realitanya. [Lihat fatawa jami Kabir, bin Baz 3267]
Adapun syeikh Utsaimin rahimahullah lebih memilih pendapat yang membolehkan dengan catatan.
الإنسان إذا ضرب مثلاً بقصة ، مثل أن يقول : أضرب لكم مثلاً برجل قال كذا أو فعل كذا وحصلت ونتيجته كذا وكذا ، فهذه لا بأس بها ، حتى إن بعض أهل العلم قال في قول الله تعالى : ( وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلاً رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ ) الكهف/32، قال : هذه ليست حقيقة واقعة .
Seseorang jika menyebutkan kisah, contohnya seperti: aku kasih contoh untuk kalian ada seorang yang begini dan begini dan hasilnya begini dan begini, maka ini tidak mengapa.
Bahkan sebagian ulama menafsirkan firman Allah ta’ala:
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang”. Kisah ini tidak real.
فإذا ذكر الإنسان قصة لم ينسبها إلى شخص معين ، لكن كأن شيئاً وقع ، وكانت العاقبة كذا وكذا ، فهذا لا بأس به
“Maka jika menyebutkan kisah dan tidak menunjuk langsung seseorang, hanya sekedar seakan akan ini betulan, nanti akibatnya begini dan begini maka ini tidak mengapa.”
أما إذا نسبه إلى شخص وهي كذب فهذا حرام ، تكون كذبة
Adapun jika menyebutkan seseorang dan ternyata itu dusta maka ini haram. [Lihat liqoat bab maftuh liqo 77 soal 10]
Adapun bagaimana para salaf mendidik anak anak mereka maka jawabannya adalah mereka mendidik anak anak mereka berdasarkan arahan arahan Nabi ﷺ dalam mendidik anak seperti menyuruh anak sholat sejak usia 7 tahun, mengajari mereka al Qur’an sejak dini, mendidik akhlak karimah kepada mereka sejak kecil.
Dan jika dilihat pada tata cara mereka dalam bercanda dengan anak anak tidak didapati mereka membawakan dongeng dongeng dalam Pendidikan mereka.
Dahulu mereka memotivasi anak anak mereka untuk belajar agama dan menghafal hadits, bahkan mereka mengorbankan harta yang tidak sedikit dalam hal ini.
Ibrahim bin Adham berkata: bapakku berkata kepadaku: wahai anakku, belajarlah hadits, setiap kali kamu mendengar hadits dan menghafalnya maka kamu dapat 1 dirham, karena itulah aku belajar hadits.
Muawiyah bin Abi Sufyan sang khalifah kaum muslimin mengirim anaknya yang bernama yazid kepada seorang ulama untuk belajar Bahasa arab, nasab Quraisy, perbintangan dan nasab manusia.
Ibnu Miskawaih juga memperingatkan manusia supaya tidak meninggalkan anak anak mereka kepada para pembantu karena khawatir akan tertular akhlak buruk mereka.
Bahkan ulama tabi’in sekelas Ibnu Syihab Az Zuhri gurunya imam Malik ketika mengajar anak anak berkata:
لا تحتقروا أنفسكم لحداثة أسنانكم؛ فإن عمر بن الخطاب كان إذا نزل به الأمر المعضل دعا الفتيان فاستشارهم يتبع حدة عقولهم
“Jangan kalian minder karena kalian masih kecil, Umar bin Khattab jika menghadapi masalah berat memanggil anak anak muda untuk dilihat ketajaman akal mereka untuk diambil pendapat mereka.”
***
Sidayu, Malam Ahad 8 Muharram 1446 H / 13 Juli 2024 M
Dijawab Oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






