Apakah boleh menunda menjual rumah warisan karena menunggu harganya sesuai yang diinginkan …padahal ahli warisnya menunggu dijual tapi karena kakak pertama ingin harga yang tinggi jadi ditahan tidak dijual jual…?
Berdosakah orang yang menahan untuk tidak menjual rumah warisan padahal ahli warisnya memerlukan?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Menunda pembagian warisan atas kesepakatan persama diperbolehkan jika mereka semua telah baligh dan berakal.
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
إذا كان الورثة مرشدين واتفقوا على بقاء التركة على حالها وأن يتولاها أحد منهم أو وكيل آخر يتصرف فيها وينميها كأن تكون التركة مزرعة فيقوم عليها أحدهم أو يوكلون عليها من يرعاها أو تكون التركة عمارة تؤجر ويأخذون أجرتها بواسطة وكيل أو بواسطة أحدهم، كل هذا لا بأس به إذا كانوا مرشدين، وكذلك لو كان نقود وجعلوها عند أحدهم يتصرف فيها ويتجر فيها لا بأس، المال مالهم، فإذا اتفقوا على شيء وهم مرشدون فلا بأس بذلك.
“Jika para ahli waris baligh dan berakal dan semua sepakat supaya warisannya dibiarkan saja tidak dibagi dan dipegang salah satu dari mereka atau perwakilan yang lainnya untuk memegangnya dan mengembangkannya, seperti jika warisannya berupa sawah yang dikelola salah satu mereka atau perwakilannya yang merawatnya, atau warisannya berupa bangunan yang disewakan dan dikelola perwakilan atau salah satu dari mereka ini semua tidak mengapa jika mereka semua baligh berakal. Begitu pula jika bebrwujud uang dikelola salah satu dari mereka untuk dikembangkan dengan bisnis ini tidak mengapa, karena harta masih harta mereka.” (Lihat Fatawa Nur Ala Darb, Bin Baz 12493).
Dan pemegang harta waris juga boleh menahan warisan jika ada maslahat terkait dengan si mayyit seperti kisahnya Abdullah bin Zubair yang menahan warisan peninggalan ayahnya selama 4 tahun dan baru dibagi tahun 40 H.
Syeikh bin Baz rahimahullah ditanya masalah seperti ini beliau berkata :
نعم، ابن الزبير أجَّل؛ لأن ديون الزبير كثيرة، فخشي أن بعض الناس غائبون لم يعلموا موته، فجعل يُنادي في الموسم في الحج كل سنةٍ: مَن له على الزبير دَيْنٌ فليُوافنا، حتى مضى أربع سنين، وكان قتله سنة ست وثلاثين، معناه: أنه لم يُوزِّع إلا على رأس الأربعين، بعدما مضى أربع سنين، حتى احتاط لأبيه وبَرَأت ذمته، رضي الله عنه وأرضاه.
“Iya, Ibnu Zubair menundanya; karena hutang Zubair sangat banyak, maka beliau khawatir banyak orang yang tidak tahu dengan kematiannya, maka setiap musim haji beliau mengumumkan kepada manusia siapa yang menghutangi Zubair untuk memintanya kepada kami.
Hal ini berlangsung selama 4 tahun, dan pembunuhan Zubair terjadi tahun 36, maknanya Abdullah bin Zubair tidak membagi warisannya selama 4 tahun sampai dia berhati-hati terkait tanggungan ayahnya dan benar benar beres, radhiyallahu anhum. (Lihat Fatawa Durus, Bin Baz 21540).
Namun jika salah satunya tidak setuju dan meminta haknya maka yang memegang harta tersebut tidak boleh menunda maupun menahan hak ahli warisnya.
Syeikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqity dalam syarh bab Rahn kitab Zadul Mustaqni berkata :
لا يجوز لمن يقوم على أموال الموتى وإرثهم، كالإخوان الكبار والأعمام ونحوهم -ممن يلي الأموال والتركات- لا يجوز له أن يؤخر قسمة الأموال دون وجود عذرٍ شرعي، أو رضاً من الورثة، فإذا رضي الورثة، وقالوا: رضينا بأن نبقى شركاء في هذه العمارة، أو رضينا أن نبقى شركاء في هذه المزرعة، فهم ورضاهم، ولا بأس بإبقاء المال، ولو إلى سنوات، بل حتى ولو إلى أجيال، مادام أنهم رضوا بذلك فالمال مالهم، فكما يجوز لهم أن يشتركوا بالطلب، يجوز لهم أن يشتركوا بحكم الشراكة.
“Pemegang harta waris seperti saudara, paman dll tidak boleh menunda pembagian harta waris tanpa ada udzur syar’i atau ridho semua ahli waris, jika ahli waris berkata: kita ridho supaya bangunannya dibiarkan saja, atau kita ridho sawahnya tetap jadi milik Bersama maka tidak mengapa untuk dibiarkan saja walaupun bertahun tahun atau bahkan turun temurun selama mereka ridho, karena harta adalah harta mereka.
Sebagaimana mereka boleh meminta pembagian maka begitu pula mereka boleh membiarkannya dengan status milik bersama”.
أما لو أن أحد الورثة طالب بحقِّه، أو عُلِم أنه محتاج، أو بقي محتاجاً مديوناً، ويبقى إخوانه يكتسبون ذلك منه مستغلين حياءه وخجله، فيمتنعون من قسمة المواريث، ورد الحق إلى صاحبه، وإعطاء كل وارثٍ ما تركه له مورِّثه، فهذا من الظلم
“Adapun jika salah satu ahli waris meminta haknya atau dia butuh atau dia butuh karena hutangnya banyak, dan saudara saudaranya sengaja memanfaatkan rasa tidak enaknya dia sehingga menahan warisannya, mengembalikan haknya kepada pemiliknya, memberikannya kepada ahli warisnya maka ini adalah kedzaliman”.
وظلم ذوي القربى أعظم من ظلم غيرهم، وعلى هذا ينبغي على أولياء الأموال أن يتقوا الله في إخوانهم، وأن يتقوا الله في قرابتهم، وأن يقسموا بقسمة الله عز وجل التي قسمها من فوق سبع سماوات.
“Dan mendzalimi kerabat dekat lebih besar daripada mendzalimi selainnya, oleh karena itu para pemegang harta hendaknya bertaqwa kepada Allah terhadap saudara mereka dan kerabat mereka dengan membagi warisan sesuai pembagian Allah yang telah dibagi dari atas langit yang ke tujuh.” (Lihat Syarh Zad Mustaqni, Mukhtar Syinqity 174/21).
Semoga bermanfaat.
***
Gresik, Selasa 27 Dzulqo’dah 1445 H / 4 Juni 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A






