Ana izin bertanya, mengenai hukum jamak di waktu hujan Ustadz, bagaimana mengenai penjabarannya terkait hukum jamak ketika hujan.
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Menjamak sholat ketika adanya hujan baik di rumah maupun di masjid karena adanya sebab yang bisa berdampak kepada orang yang hendak sholat, sehingga jika dampak yang dikhawatirkan tersebut hilang maka kembali kepada hukum awal yaitu wajib berjamaah.
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
الجمع رخصة عند نزول المطر، أو عند المرض، وفي السفر كذلك، الله -جل وعلا- يحب أن تؤتى رخصه، فإذا نزل بالمسلمين مطر يشق عليهم معه أداء الصلاة في وقتها، العشاء أو العصر مع الظهر؛ فلا بأس أن يجمعوا كما يجمع في السفر، المسافر يجمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء، فهكذا المسلمون في القرى والأمصار إذا نزلت بهم الأمطار، وصارت الأسواق فيها الدحض والزلق والسيول، فإنهم يجمعون بين المغرب والعشاء جمع تقديم؛ لئلا يشق عليهم الخروج للعشاء مع وجود المطر المتتابع، أو الزلق في الأسواق، والدحض، والطين في الأسواق، والظهر والعصر في الجمع بينهما خلاف بين أهل العلم.
“Menjamak sholat ketika turun hujan, atau ketika sakit atau ketika safar adalah rukhsoh (keringanan) Allah Ta’ala suka jika rukhsohnya diambil, maka jika turun hujan yang memberatkan kaum muslimin mengerjakan sholat berjamaah di waktunya, isya atau ashar dengan dhuhur maka tidak mengapa menjamaknya seperti jamak ketika safar, musafir menjamak dhuhur dan ashar dan maghrib dan isya.
Maka begitu pula kaum muslimin di desa-desa dan pelosok-pelosok jika tertimpa hujan dan pasar jadi licin dan bandang, maka mereka menjamak maghrib isya jamak taqdim; supaya tidak memberatkan mereka untuk keluar ke masjid ketika ada hujan yang bersambung, atau jalan licin di pasar-pasar dan becek.
Adapun menjamak antara dhuhur dan ashar ada perbedaan pendapat di antara para ulama.” (Lihat fatawa bin baz 11585).
أما إذا كانت محلات المسجد -حي المسجد- ليس فيه أذى، وليس فيه مطر يؤذي المصلين؛ فلا وجه للجمع لمجرد وجود آثار المطر.
“Dan adapun jika masjid masjid kampung aman aman saja, tidak ada hujan yang menyulitkan kaum muslimin, maka tidak ada alas an untuk menjamaknya jika hanya alasan nya Cuma bekas hujan saja.” (Lihat fatawa bin baz 3526).
Semoga bermanfaat.
***
Gresik, Malam Rabu 21 Dzulqo’dah 1445 H / 28 Mei 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






