Teman ana sholat Isya Ustadz, dia posisi sedang tahiyat akhir tapi dudukya iftirosy. Apakah sholatnya haru mengulang? (Fajar dari Jember).
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه أجمعين وبعد
Seorang muslim diperintahkan meniru Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam tata cara sholat nya.
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Sholat lah kalian sebagaimana kalian melihat ku sholat.” (HR. Bukhari 631).
Dan duduk Iftirosy maupun tawarruk diakhir rakaat adalah sunnah.
السنة أن يفترش رجله اليسرى ويجلس عليها بين السجدتين ناصباً قدمه اليمنى ، وهكذا في التشهد الأول ، أما التشهد الأخير ، فالسنة هو التورك ، وهو أن يدخل قدمه اليسرى تحت ساقه اليمنى ، ويجلس على مقعدته ، وهذا كله مستحب ، ولو تورك المصلي في التشهد الأول وافترش في التشهد الأخير لم تبطل صلاته
“Sunnahnya seseorang duduk Iftirosy di duduk di antara dua sujud menegakkan kaki kanannya, begitu pula di duduk tasyahud pertama.
Adapun tasyahud akhir maka sunnahnya adalah duduk tawarruk. Yaitu memasukkan kaki kirinya di bawah betis kanannya dan duduk dengan pantatnya.
Ini semuanya mustahab.
Seandainya di tasyahud pertama dia tawarruk dan Iftirosy di duduk yang terakhir sholat nya tidak batal.” (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 6/446.).
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
التورك سنة، مستحب في التشهد الأخير، فإذا كان يؤذي به إخوانه؛ فلا يتورك، يجلس على رجله اليسرى كجلوسه بين السجدتين وهو في التشهد الأول؛ لأن إيذاء إخوانه محرم، فلا يستبيح المحرم بمستحب، يترك المستحب حتى يتوقى المحرم، فإيذاء إخوانه، والتعدي عليهم أمر لا يجوز، فإذا كانت مضايقة في الصف؛ فإنه لا يتورك
“Duduk tawarruk hukumnya sunnah mustahab di tasyahud akhir, jika hal itu menyakiti saudara disebelah kirinya maka dia tidak boleh ber tawarruk, dia harus duduk Iftirosy, karena menyakiti saudara nya adalah haram.
Maka tidak boleh menghalalkan yang haram demi yang hanya sunnah. Dia harus tinggalkan yang sunnah demi menghindari yang haram.
Jika shofnya sempit maka dia tidak ber tawarruk.” (Lihat Fatawa bin Baz 10376).
Karena duduk tawarruk sudah dianggap sangat sakral di negri kita sehingga banyak yang tidak mau merapatkan shof biar nanti bisa longgar duduk tawarruk nya, padahal merapatkan shof hukumnya lebih kuat dari pada duduk Iftirosy ataupun tawarruk.
***
Sidayu, Ahad 3 Rabiul akhir 1446 H/6 Oktober 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






