Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.
Setelah kita membahas ketinggian Allah berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang ketinggian Allah diatas Arsy-Nya berdasarkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta perkataan para salaf serta berdasarkan akal sehat maupun fitrah yang selamat.
الأول : من قول صلى الله عليه وسلم، فقد ثبت في الصحيحين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : «الا تامنوني و أنا أمين من في السماء؟…» وفيهما من حديث أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لما خلق الله الخلق كتب في كتابه فهو عنده فوق لعرش : إن رحمتي سبقت غضبي
“Telah tetap ketinggian Allah ‘Azza wa Jalla dalam As-Sunnah pada tiga sisi :
Yang pertama : Dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah tetap hal tersebut dalam shohih Al-Bukhari dan Muslim bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidakkah kalian beriman kepadaku sedangkan aku kepercayaan Yang di langit?.”
Dan di dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim (juga) dari hadits Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Ketika Allah menciptakan makhluk Dia menulis dalam kitab-Nya sedangkan kitab tersebut ada disisi-Nya diatas Arsy : “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemarahanku-Ku.” (Tuhfatul Muriid, Syarh al-Qaul al-Mufiid, hal.14. Maktabatul Irsyaad).
الثاني : من فعله صلى الله عليه وسلم، كما في صحيح البخاري من حديث ابن عباس وغيره في خطبة الوداع، وهو يقول في آخرها ((الا هل بلغت؟ اللهم فاشهد))، ويشير بأصابعه إلى السماء وقال : ((اللهم اسقنا
Yang kedua : Dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana (disebutkan) dalam shohih Al-Bukhari dari hadits Ibnu Abbas dan selainnya pada waktu khutbah perpisahan, dan Rasulullah bersabda di akhir khutbah tersebut :
((Bukankah aku sudah menyampaikan? Ya Allah saksikanlah!)), Kemudian Nabi mengisyaratkan dengan jarinya ke arah langit. Dan dalam hadits Ibnu Abbas juga ketika datang kepada Nabi orang arab badui yang meminta (didoakan) agar diturunkan hujan kepada mereka. Maka Nabi menengadahkan tangannya keatas langit dan berkata : ((Ya Allah turunkan kepada kami hujan..)) (Tuhfatul Muriid, Syarh al-Qaul al-Mufiid, hal.15. Maktabatul Irsyaad).
الثالث : من تقريره صلى الله عليه وسلم، لما ثبت في مسلم من حديث معاوية بن الحكم السلمي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال للجارية : أين الله؟ قالت : في السماء، قال : من أنا؟ قالت : رسول الله، قال : أعتقها فإنها مؤمنة
Yang ketiga : Dari persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah tetap hal tersebut dalam hadits Muslim dari hadits Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang budak wanita :
Ketinggian Allah Berdasarkan Fitrah yang Selamat
Berkata Asy-Syaikh Nu’man bin Abdul Karim al-Watr :
من الفطرة السليمة : وذلك أن قلوب العباد مفطورة على إثبات العلو لله والتوجه إليه عند الدعاء، قال تعالى : «فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ» الآية، وفي صحيحين عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((كل مولود يولد على الفطرة..)) الحديث.
(Ketinggian Allah) berdasarkan fitrah yang selamat :
“Dalam hal ini bahwasannya hati seluruh hamba di fitrahkan untuk menetapkan ketinggian Allah dan menghadap kepada-Nya ketika berdoa, Allah berfirman :
Artinya : “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah.” (QS.Ar-Ruum : 30)
Dan di dalam shohih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Setiap anak di lahirkan diatas fitrah..” (Hadits) (Tuhfatul Muriid, Syarh al-Qaul al-Mufiid, hal.16. Maktabatul Irsyaad).
Ketinggian Allah Berdasarkan Akal
Berkata Asy-Syaikh Nu’man bin Abdul Karim al-Watr :
العقل : وذلك أن العلو صفة كمال عقلا، و السفل صفة نقص، وبإجماع العقلاء أن الكمال ثابت لله
(Ketinggian Allah secara) akal :
“Dalam hal ini bahwasannya tinggi merupakan sifat yang sempurna secara akal, dan rendah merupakan sifat yang kurang, dan kesepakatan orang yang berakal bahwasannya kesempurnaan itu telah tetap untuk Allah.” (Tuhfatul Muriid, Syarh al-Qaul al-Mufiid, hal.16. Maktabatul Irsyaad).
Ketinggian Allah Berdasarkan Kesepakatan Salaf
.ومما تقدم يتبين أن دعوة أهل الحلول والاتحاد مخالفة للكتاب والسنة، والإجماع، والعقل، والفطرة
(Ketinggian Allah) berdasarkan kesepakatan salaf :
“Dan sungguh telah ternukilkan lebih dari satu orang, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, bahwasanya seluruh salaf telah bersepakat menetapkan ketinggian Allah.
Penjelasan tentang pendapat yang telah berlalu bahwasanya dakwah ahli filsafat dan tasawuf serta paham wihdatul wujud (paham yang menyatakan Allah menyatu dengan makhluk) merupakan dakwah atau paham yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah dan ijma (salaf), serta menyelisihi akal dan fitrah.” (Tuhfatul Muriid, Syarh Qaulil Mufiid, hal.16. Maktabatul Irsyaad).
Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin :
والعرش لغة : السرير الخاص بالملك، وفي الشرع : العرش العظيم الذي استوى عليه الرحمان جلا جلاله وهو أعلى المخلقات وأكبرها، وصفه الله بأنه عظيم وبأنه كريم وبأنه مجيد.
«Artinya : (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy»[Thoha : 5]
Dan Allah telah menyebutkan tentang istiwa’nya Ia diatas Arsy-Nya ada dalam tujuh tempat didalam Al-Qur’an.
Dan telah bersepakat para salaf dalam menetapkan istiwa’nya Allah diatas Arsy-Nya ; maka wajib menetapkan hal tersebut tanpa memalingkan (maknanya), tanpa menolak, tanpa membagaimanakan dan tanpa mempermisalkan, dan Istiwa’ tersebut merupakan Istiwa’ yang hakiki, maknanya : yaitu tinggi dan menetap pada sisi yang pantas bagi Allah Ta’ala.
Dan sungguh ahlu ta’thil (orang-orang yang menolak sifat Allah) telah menafsirkan (kata Istiwa’) dengan menguasai, maka kami bantah mereka dengan qoidah yang keempat dan kami tambah pula dengan sisi yang ke empat : Bahwasanya tidak diketahui dari qoidah bahasa arab kecuali makna ini (yaitu Allah beristiwa’ diatas Arsy bukan menguasai Arsy), dan sisi yang kelima : Bahwasannya ucapan tersebut (yaitu ucapan Allah menguasai Arsy bukan Istiwa’) melazimkan makna yang bathil, contoh : Bahwasanya Arsy dahulu bukan kerajaan bagi Allah kemudian setelah itu Allah menguasai Arsy tersebut!!”
‘Arsy secara bahasa : yaitu tempat tidur yang khusus untuk raja.
Adapun secara syar’i : yaitu ‘Arsy yang agung yang beristiwa’ diatasnya Allah Jalla Jalaaluhu, dan ‘Arsy adalah makhluk yang paling tinggi/ujung dan paling besar, dan Allah telah mensifati ‘Arsy bahwasanya ia sangat besar, sangat mulia dan dimuliakan.” (Lum’atul I’tiqaad Al-Haadi Ila Sabiilir Rosyad, hal. 33-34. Cet.Daarul Atsaar).
Berkata Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah :
سأل الإمام مالك بن أنس رحمه الله فقيل : يا أبا عبد الله، «ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ» [طه : ٥]. كيف استوى؟ فقال : الاستواء غير مجهول، والكليف غير معقول، والأمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، ثم أمر بالرجل فأخرج
“Telah ditanya Imam Malik bin Anas rahimahullah dan dikatakan : Wahai Abu Abdillah, «(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy» [Thoha : 5]
“Bagaimana Allah beristiwa’? Imam malik berkata : Istiwa itu tidak majhul (diketahui maknanya) dan bagaimananya itu diluar nalar (tidak diketahui), beriman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya bid’ah, kemudian beliau memerintahkan agar orang tersebut di keluarkan (dari majelisnya).
كيف استوى؟ فقال رحمه الله : ((الاستواء غير مجهول)). أي : معلوم المعنى وهو العلو والاستقرار، ((والكليف غير معقول)). أي كيفية الاستواء غير مدركة بالعقل ؛ لأن الله تعالى أعظم وأجل من أن تدرك العقول كيفية صفاته، ((والأمان به)). أي : الاستواء ((واجب)) ؛ لوروده في الكتاب والسنة، ((والسؤال عنه)). أي : عن الكيف ((بدعة)) ؛ لأن السؤال عنه لم يكن في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه، ثم أمر بالسائل فأخرج من المسجد خوفا من أن يفتن الناس في عقيدتهم وتعزيزا له بمنعه من مجالس العلم
“Imam Malik ditanya dan dikatakan (kepadanya) : Wahai Abu Abdillah, «(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy» [Thoha : 5]
“Bagaimana Allah beristiwa’? Berkata Imam malik rahimahullah : ((Istiwa’ itu tidak majhul)). Yaitu : diketahui maknanya yaitu tinggi dan menetap, ((bagaimananya itu diluar nalar)). Yaitu : kaifiyah Istiwa’, tidak diketahui (tidak terjangkau) oleh akal ; karena Allah Ta’ala Maha Agung dan Maha Suci dari pengetahuan akal-akal (manusia) tentang kaifiyah sifat-Nya, ((beriman dengannya)). Yaitu : (beriman tentang) Istiwa’ ((wajib)) ; karena Istiwa’ disebutkannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ((bertanya tentangnya)). Yaitu : tentang kaifiyah Istiwa’ ((bid’ah)) ; karena bertanya tentang Istiwa’ tidak pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kemudian Imam Malik memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan dari masjid karena khawatir akan menimbulkan fitnah bagi manusia terkait aqidah mereka, dan memperkuatnya dengan melarang orang tersebut dari majelis-majelis ilmu. (Lum’atul I’tiqaad Al-Haadi Ila Sabiilir Rosyad, hal. 37. Cet.Daarul Atsaar).
Faedah yang dapat di ambil dari pembahasan ini :
1. Allah berada diatas Arsy berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
2. Orang yang mengingkari Allah berada diatas Arsy dia tidak beriman kepada Al-Qur’an dan Hadits
3. Allah memiliki sifat marah (murka)
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin berkata :
وفسر أهل التعطيل بالانتقام، ونرد عليهم بما سبق في القاعدة الرابعة، وبوجه رابع : أن الله تعلى غاير بين الغضب والانتقام ؛ فقال تعالى : «فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا» [الزخروف : ٥٥]. أي أغضبونا «ٱنتَقَمْنَا مِنْهُم» [الزخروف : ٥٥]. فجعل الانتقام نتيجة للغضب فدل على أنه غيره.
“Marah (murka) termasuk sifat Allah yang tetap bagi-Nya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan Ijma’ salaf.
Allah Ta’ala berfirman kepada orang yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja : «Dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya» [An-Nisaa’ : 93].
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
((Sesungguhnya Allah telah menulis sebuah kitab disisi-Nya diatas ‘Arsy : Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku)). Disepakati oleh Bukhari dan Muslim.
Dan para salaf-pun telah bersepakat atas tetapnya sifat marah (murka) bagi Allah ; maka wajib menetapkan sifat tersebut tanpa memalingkan (maknanya) tanpa menolak, tanpa membagaimanakan dan tanpa mempermisalkan, dia merupakan kemarahan (kemurkaan) yang hakiki yang pantas bagi Allah.
Dan ahlut ta’thil menafsirkan (sifat marah) dengan hukuman, dan kami bantah mereka dengan apa-apa yang telah berlalu dari qoidah yang ke empat, dan pada sisi yang ke empat : Bahwasanya Allah Ta’ala membedakan antara marah (murka) dengan menghukum ; Allah Ta’ala berfirman «Maka tatkala mereka membuat Kami murka» Yaitu ; menimbulkan kemarahan (kemurkaan) Kami, «Kami menghukum mereka» [Az-Zukhruf : 55] maka menghukum itu merupakan hasil dari kemarahan (kemurkaan) maka hal itu telah menunjukkan bahwa menghukum tidak termasuk kemarahan.” (Lum’atul I’tiqaad Al-Haadiy ila Sabiilir Rasyaad, hal. 29. Cetakan. Daaru Atsaar).
4. Allah memiliki sifat Rahmah. Allah berfirman :
«ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ»
Artinya : “Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fathihah : 2)
5. Ketinggian Allah ditetapkan juga berdasarkan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bersabdanya : ((bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah saksikanlah!)) Kemudian Nabi mengisyaratkan dengan jarinya kearah langit menunjukkan Allah diatas
6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menengadahkan tangannya ke langit, sebagai isyarat Allah berada diatas Arsy
7. Lauhul mahfudz (kitab yang bertulis) berada disisi Allah diatas Arsy
8. Dianjurkannya bertanya tentang dimana Allah sebagaimana hadits jariah (budak wanita)
9. Mengetahui Allah diatas langit menjadi syarat keimanan dan dimerdekakannya budak wanita tersebut
10. Mengetahui Muhammad sebagai rasul juga menjadi syarat keimanan dan dimerdekakannya budak wanita tersebut
11. Tingginya derajat wanita tersebut meskipun dia budak, karena dia telah beriman kepada Allah dan Rasulnya dan dia menjadi shahabiyah
12. Mengetahui Allah diatas Arsy bisa dibuktikan dengan fitrah yang selamat, contoh tanyalah anak kecil yang belum baligh dan belum terkontaminasi oleh syubhat, dimana Allah Dia pasti akan menunjuk ke langit meskipun tidak ada yang mengajarkannya
13. Ketika kita sedang berdoa, hati kita difitrahkan untuk menghadap keatas langit, meskipun dia orang kafir sekalipun. Ini menunjukkan bahwa Allah berada diatas
14. Seluruh hamba dilahirkan diatas fitrah (Islam) kecuali kedua orang tuanya yang menjadikan mereka nashrani, yahudi atau majusi
15. Bathilnya pahaman ahli kalam, filsafat, tasawwuf, dan paham wihdatul wujud
Ini saja yang bisa kami paparkan di sini, karena pembahasan masalah ini sangat panjang. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
***
Repost : Sidayu, Gresik : 7 JUmadil Awwal 1446 H / 9 November 2024
Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com






