Apakah ada keutamaan khusus berbuka puasa bersama, Ustadz?
Jawab :
Buka bersama tidak ada contohnya dari salaf Ummat ini, apalagi menjadikan masjid sebagai warung makan maka ini bukan tujuan dibangunnya masjid, karena masjid dibangun sebagai sarana Ibadah kepada Allah Ta’ala.
Sehingga menjadikan buka bersama sebagai adat kebiasaan bukanlah perkara syar’i.
Syeikh Sholeh Fauzan Hafidzahullah ditanya terkait para pemuda yang janjian untuk buka puasa bareng dalam rangka puasa Dawud walaupun tidak mengikat, maka beliau berkata :
هذا محدث، هذا محدث، الإفطار الجماعي، والصيام الجماعي، وقيام الليل الجماعي كما يفعله بعض الشُّباب هذا كلّه مُحْدَث، لا أصل له.
Ini semua bid’ah, ifthor berjamaah, puasa berjama’ah, sholat malam berjamaah sebagaimana yang dilakukan sebagian anak muda ini semuanya bid’ah tidak ada asal usulnya.
فكلٌّ يُفطر في مكانه، وفي بيته إلا إذا كان واحد يبذل فطور للَّصائمين، تحضر وتُفطِر معهم، مِن مُحسنٍ من المحسنين يعمل افطار؛ فهذا لا بأس.
Masing-masing ifthor di rumahnya, kecuali ada seseorang / muhsinin bagi bagi ifthor untuk orang yang berpuasa sehingga mereka datang dan makan bersama maka seperti ini tidak mengapa.
أمَّا أنَّكم تتعمَّدون الجماعي تعمُّدًا؛ فهذا لا أصل له
Adapun janjian untuk mengadakan ifthor berjamaah maka ini tidak ada asal usul nya.
Maka berdasarkan keterangan diatas bisa dipahami jika ifthor berjamaah nya merupakan kesepakatan seperti yang dilakukan di atas yaitu janjian untuk buka puasa bersama setiap senin Kamis atau yang lainnya maka ini yang bid’ah karena tidak ada salafnya.
Namun jika hanya sekedar ada muhsinin ingin bagi-bagi makanan ifthor saja sebagai sedekah maka ini tidak mengapa.
Kemudian Syeikh Albani juga punya catatan untuk ifthor berjamaah di masjid, beliau berkata :
الطعام في المسجد وجعل ذلك عادة هذا لا يجوز لأن المساجد لم تبن لهذا كما جاء في الحديث الصحيح
“Makan-makan di masjid dan menjadikannya sebagai adat kebiasaan maka ini tidak boleh karena masjid tidak dibangun untuk perkara ini sebagaimana yang tertera dalam hadits yang shohih.
لكن إذا يعني دفت دافة ونزلت جماعة كثيرة وهم فقراء وبحاجة إلى طعام وشراب ولا يمكن إنزالهم لسبب أو آخر في دار لضيق الدور يومئذ أو في الصحراء أو في العراء فيدخلون المسجد ويأكلون لهذا الأمر العارض
Akan tetapi jika tiba-tiba ada banyak orang miskin datang bergerombol dan mereka butuh makan dan tidak mungkin menjamunya di rumah atau di emperan sehingga terpaksa masuk masjid dan ini hanya sesekali saja maka ini tidak mengapa.
أما أن يصير المسجد كمطعم ولو في بعض الأشهر كرمضان ومثلا وكما يفعلون في بعض المساجد فهذا مما لم يكن عليه عمل السلف أولا ثم هو ينافي مبدأ قوله عليه السلام ( إن المساجد لم تبن لهذا ) .
Adapun menjadikan masjid seperti warung walaupun hanya di sebagian bulan saja seperti Ramadhan sebagaimana yang mereka lakukan di sebagian masjid maka ini tidak pernah dilakukan salaf dulu dan ini juga bertabrakan dengan pondasi sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam (sesungguhnya masjid tidak dibangun untuk perkara ini).
***
Sidayu, 8 Ramadhan 1446 H / 8 Maret 202 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






