Ana mengeluarkan zakat untuk istri dan anak ana serta menyalurkan zakat fitrah ke mertua ana.
Kemudian istri dan anak ana biasa setelah Eid ziaroh ke rumah mertua ana, sesekali istri dan anak ana makan siang atau malam di situ (sebagaimana kebiasaan anak yang sedang di rumah orang tuanya).
Apakah makan dari makanan yang disitu terdapat harta zakat diperbolehkan Ustadz? (M. Hidayatullah – Dompu)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Suatu ketika bariroh mantan budaknya Aisyah radhiyallahu anhuma mendapatkan makanan sedekah, kemudian Rasulullah ﷺ masuk rumah dan menanyakan hidangan makanan yang ada dagingnya yang sempat beliau lihat, maka seisi rumah menjawab :
بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَلَكِنْ ذَلِكَ لَحْمٌ تُصُدِّقَ بِهِ عَلَى بَرِيرَةَ ، وَأَنْتَ لَا تَأْكُلُ الصَّدَقَةَ
“Tentu wahai Rasulullah, akan tetapi itu adalah daging sedekah yang diberikan kepada bariroh, dan engkau tidak makan makanan sedekah.”
Maka beliau ﷺ bersabda :
هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ ، وَهُوَ لَنَا هَدِيَّةٌ
Iya dia benar sedekah untuk nya, dan untuk kita jadi hadiah.” (HR. Bukhari 5279 dan Muslim 1074).
Yang bisa diambil faidahnya dari hadits ini adalah boleh bagi kita makan makanan sedekah yang dihidangkan kepada kita, karena bukan kita yang mendapatkan zakat tersebut, akan tetapi yang menghidangkannya kepada kita dialah yang dapat sedekah, sehingga kita boleh memakannya karena bukan kita si penerima zakatnya.
Imam Nawawi rahimahullah berkata :
فيه دَلِيل عَلَى أَنَّهُ إِذَا تَغَيَّرَتْ الصِّفَة تَغَيَّرَ حُكْمُهَا ، فَيَجُوز لِلْغَنِيِّ شِرَاؤُهَا مِنْ الْفَقِير ، وَأَكْلهَا إِذَا أَهْدَاهَا إِلَيْهِ
“Ini adalah dalil bahwa sesuatu itu jika sudah berubah sifatnya maka hukum nya berubah, maka boleh bagi si kaya untuk membelinya dari si fakir dan kemudian memakannya jika dia menghadiahkan nya.” (Lihat syarh shohih Muslim 5/274).
***
Tuban, 26 Ramadhan 1446 H/26 Maret 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






