Assalamu’alaikum. Boleh gak kita bayar zakat fitrah kepada orang tua kita sendiri Ustadz? (Abu Nabilah – Dompu -) dan (Abu Ahmad bung Tomo – Bojonegoro).
Jawab :
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. At Taubah 60].
Sehingga boleh menyerahkan zakat kita kepada mertua jika mereka orang yang fakir atau miskin, karena mereka bukan orang yang wajib kita nafkahi.
Namun jika mereka sudah ditanggung nafkahnya oleh salah satu anaknya maka dia bukan kategori fakir maupun miskin sehingga tidak berhak mendapatkan zakat.
Dan tentunya hak mereka sangat besar dari kita karena anak mereka adalah istri kita. Sehingga membayarkan zakat kepada mereka tidak jauh berbeda dengan membayarkan zakat kepada kerabat kita.
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
ولا شك أن الأصهار لهم حق ليس لأحد سواهم ممن ليس بصهر
“Tidak diragukan lagi bahwa shihr (dari hubungan nikah) mereka memiliki hak yang tidak dimiliki oleh selain mereka yang tidak ada hubungan nikah.” (Lihat fatawa Nur ala darb 682).
Sedangkan membayarkan zakat kepada orang tua sendiri ada khilaf di antara para ulama antara yang membolehkan dan tidak.
Dan yang lebih kuat adalah pendapat yang tidak membolehkannya.
Ibnul Mundzir rahimahullah berkata :
أجمع أهل العلم على أن الزكاة لا يجوز دفعها إلى الوالدين
“Para ulama telah ijma bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada kedua orang tua.” (Lihat Al Mughni 2/269).
Dan Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
الزكاة لا تدفع للأم ولا للأب ولا للجدات ولا للأجداد ولا للأولاد ذكورًا كانوا أو إناثًا ولا لأولادهم؛ لأن هؤلاء الأصول والفروع ليس لهم حق في الزكاة بالنسبة إلى الولد، وإنما يعطيهم وينفق عليهم من ماله إذا دعت الحاجة إلى ذلك.
“Zakat tidak diberikan kepada ibu, bapak, kakek, nenek, anak-anak, karena mereka adalah asal usul dan penerus, mereka tidak berhak dapat zakat, akan tetapi sang anak menafkahinya kapan mereka membutuhkan.” (Lihat fatawa bin Baz 14/305).
Dan yang membolehkan seperti Syaukani rahimahullah berkata :
ثم الأصل عدم المانع فمن زعم أن القرابة أو وجود النفقة مانعان فعليه الدليل ولا دليل
“Kemudian hukum asalnya tidak ada larangan, maka siapa yang mengklaim kerabat atau adanya kewajiban menafkahinya menghalangi dapat zakat maka wajib atasnya mendatangkan dalil, dan di sini tidak akan ada dalilnya.” (Lihat Nailul Author 4/249).
“Dan sebagian lagi menambahkan catatan bolehnya orang tua menerima zakat anaknya jika bukan karena faktor fakir miskin, akan tetapi karena faktor yang selainnya, seperti amil zakat, orang yang punya hutang, budak yang sedang mukatabah, maka mereka boleh menerima zakat anaknya.
Sebagian lagi berpendapat bahwa orang tua boleh menerima zakat anaknya jika dia fakir miskin dan anaknya tidak menafkahinya.” (Lihat Mausuah Fiqhiyah 23/177).
Dan sebagian lagi memandang tidak boleh jika ini untuk akal-akalan saja biar hartanya tidak pergi ke mana-mana, namun jika unsur akal-akalan ini tidak ada dan murni membayar zakat kepada yang membutuhkannya maka ini diperbolehkan.
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
دفع الزكاة إلى أصله وفرعه أعني آباءه وأمهاته وإن علوا ، وأبناءه وبناته وإن نزلوا إن كان لإسقاط واجب عليه لم تجزئه ، كما لو دفعها ليسقط عنه النفقة الواجبة لهم عليه إذا استغنوا بالزكاة ، أما إن كان في غير إسقاط واجب عليه ، فإنها تجزئه
“Membayar zakat kepada asal-usulnya maupun penerusnya bapak ibunya ke atas dan anaknya ke bawah, jika ini untuk akal-akalan biar kewajiban menafkahinya gugur maka ini tidak sah, namun jika tidak ada unsur menggugurkan kewajiban maka sah.” (Lihat fFatawa Syeikh Utsaimin 18/415).
Sehingga pendapat yang terpilih adalah tidak mengapa memberikan zakat kepada orang tua untuk selain faktor fakir miskin, akan tetapi faktor yang lainnya seperti ghorim (punya hutang) dll maka zakatnya sah.
***
Tuban, malam Kamis 27 Ramadhan 1446 H/26 Maret 2025 H
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






