Tukar kado acara bukber dan hari raya (bagaimana hukumnya). Ummu Tholhah – Balikpapan.
Jawab :
Tukar menukar adalah hakikat jual beli, sehingga syarat syarat jual beli wajib terpenuhi supaya acara atau akad ini sah.
Di antara syarat jual beli adalah, jelas, halal, ridho, baligh berakal dan bisa mentasarufkan harta sebagaimana mestinya, barang milik sendiri atau perwakilan dan tidak ada unsur ribanya. Lihat minhaj salikin Syeikh Sa’di kitab jual beli.
نَهَى رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عن بَيْعِ الحَصَاةِ، وَعَنْ بَيْعِ الغَرَرِ.
“Rasulullah ﷺ melarang dari jual beli lempar batu dan jual beli ghoror (penipuan).” (HR. Muslim 1513).
Hal ini diberlakukan untuk menghindari kedzaliman yang menimpa salah satu pihak dan menghindari cek-cok dan perselisihan yang bakal terjadi.
Dan segala muamalah antara sesama hamba yang mengarah kepada kedzaliman dan cek cok adalah perkara yang dihindari dan dia bisa menjadi terlarang.
Bayangkan saja tukar kado dan ada yang usil g ngisi apa apa atau cuma isi barang senilai 5000 saja sedang di pihak lain ada yang ngisi senilai 500k, apa tidak mengundang perselisihan dan rusaknya ukhuwah di antara sesama?!!!
Iya akan terjadi hal tersebut, dan banyak terjadi perseteruan dan rusaknya hubungan di antara sesama muslim karena diawali dari ketidak jelasan akad yang akan dilaksanakan.
Namun jika semua syarat tadi terpenuhi maka tentunya akad tersebut diperbolehkan karena tidak akan terjadi kedzaliman maupun perseteruan yang akan datang.
Kemudian jika tukar menukar kado tidak ada kesepakatan diawal dan tidak ada kelaziman maka ini adalah perkara yang diperolehkan.
***
Tuban, malam Sabtu 29 Ramadhan 1446 H/28 Maret 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






