Amalan puasa sunah 10 hari di bulan Dzulhijah apakah ada hadistnya? (Anik Indrayani)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين وبعد
Ada dua hadits yang bertentangan dalam masalah ini.
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata:
ما رَأَيْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ صَائِمًا في العَشْرِ قَطُّ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam puasa 10 hari Dzulhijjah sama sekali.” (HR. Muslim 1176)
Di sisi lain ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan puasa ini.
Dari Hunaidah bin Khalid radhiyallahu dari istrinya dari sebagian istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ
“Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam puasa 9 hari Dzulhijjah, hari Asyura dan 3 hari setiap bulan.” (HR. Abu Dawud 2437 dan Syeikh Albany mengatakan sanadnya shohih)
Hadits kedua ini yang menjadi pembahasan antara yang menshahihkan nya dan yang mendhaifkannya seperti Syeikh bin Baz.
Namun walaupun begitu jumhur ulama tetap sepakat akan kesunnahan puasa 9 hari pertama bulan Dzulhijjah, sehingga mereka menafsirkan hadits Aisyah radhiyallahu anha yang menafikan puasa Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan berbagai macam tafsir.
Imam Nawawi rahimahullah menafsirkan hadits Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak puasa di 10 awal Dzulhijjah karena alasan safar, sakit atau yang lainnya.
لَعَلَّهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَصُومُ بَعْضَهُ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ، وَكُلَّهُ فِي بَعْضِهَا , وَيَتْرُكُهُ فِي بَعْضِهَا لِعَارِضِ سَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ أَوْ غَيْرِهِمَا
“Barang kali Nabi shallallahu alaihi wasallam puasa sebagian di sebagian waktu dan semua nya di sebagian nya dan meninggalkan nya di sebagian yang lainnya karena ada safar, sakit atau yang lainnya.” (Lihat Al Majmu 6/441)
Imam Syaukani rahimahullah berkata:
تَقَدَّمَت أَحَادِيثُ تَدُلُّ عَلَى فَضِيلَةِ الْعَمَلِ فِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ عَلَى الْعُمُومِ , وَالصَّوْمُ مُنْدَرِجٌ تَحْتِهَا
“Telah lewat hadits hadits yang menunjukkan keutamaan amal sholeh pada 10 hari Dzulhijjah secara umum, dan puasa masuk di dalamnya.
الْمُرَادُ أَنَّهُ لَمْ يَصُمْهَا لِعَارِضِ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِمَا، أَوْ أَنَّ عَدَمَ رُؤْيَتِهَا لَهُ صَائِمًا لَا يَسْتَلْزِمُ الْعَدَمَ
Adapun hadits Aisyah maka maksud nya adalah beliau tidak puasa karena sakit atau safar atau yang lainnya.
Atau beliau tidak melihat nya tidak melazimkan bahwa beliau tidak puasa.” (Lihat Nail Author 4/283)
Sebagian lagi menafsirkan bahwa benar terkadang Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak puasa 10 hari Dzulhijjah karena khawatir diwajibkan atas ummatnya.
Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
وَاسْتُدِلَّ بِهِ – أي بحديث ابن عباس – عَلَى فَضْلِ صِيَامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ لِانْدِرَاجِ الصَّوْمِ فِي الْعَمَلِ، وَلَا يَرد عَلَى ذَلِكَ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا الْعَشْرَ قَطُّ
“Dan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dijadikan dalil akan keutamaan puasa 10 awal Dzulhijjah karena sudah masuk ke dalam keumuman amal sholeh.
Dan ini tidak bisa dibantah dengan hadits Aisyah riwayat Abu Dawud dan yang lainnya yang mengatakan aku tidak pernah melihat nabi shallallahu alaihi wasallam puasa 10 hari Dzulhijjah sama sekali.
لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ كَانَ يَتْرُكُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَهُ خَشْيَةَ أَنْ يُفْرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ
Karena itu ada kemungkinan beliau meninggalkan nya padahal menyukai nya karena takut diwajibkan atas ummatnya.” (Lihat Fathul Bari 2/460)
Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk bisa maksimal beramal sholeh di bulan Dzulhijjah yang mulia ini.
***
Jember, Rabu 1 Dzulhijjah 1446 H/28 Mei 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






