Bismillah.
Alhamdulillah kita masih melanjutkan seri pembahasan tafsir ayat-ayat tauhid dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H).
Kita lanjutkan pada ayat ketiga yang beliau bawakan di bagian awal kitabnya. Yaitu firman Allah :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Rabbmu telah memerintahkan/mewasiatkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan kepada kedua orang tua hendaklah kalian berbuat baik…” (al-Isra’ : 23).
Qatadah menafsirkan : yaitu Allah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Begitu pula tafsiran dari Ibnu ‘Abbas. Adapun Mujahid menafsirkan maksudnya Allah mewasiatkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya (lihat Tafsir ath-Thabari [klik])
Di dalam ayat ini terkandung tafsiran tauhid, bahwa tauhid adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan syirik, demikian keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 15).
Ayat di atas juga menunjukkan kepada kita bahwa tauhid merupakan perintah yang paling agung, sebagaimana syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Ayat ini juga menunjukkan betapa besar kedudukan orang tua karena Allah perintahkan untuk berbuat baik kepadanya setelah perintah bertauhid, dan bahwasanya durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang sangat berat.
Di dalam ayat ini juga terkandung makna yang sama dengan kalimat laa ilaha illallah; yaitu mencakup penolakan terhadap syirik dan penetapan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Kalimat ‘laa ta’buduu’ semakna dengan ‘laa ilaha’, sedangkan ungkapan ‘illa iyyaahu’ semakna dengan ‘illallah’ (lihat Ibthal at-Tandid bi Ikhtishar Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 10).
Di dalam al-Qur’an Allah sering menggandengkan perintah untuk menunaikan hak-Nya dengan menunaikan hak kedua orang tua. Seperti misalnya dalam ayat (yang artinya), “Hendaklah kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (Luqman : 14). Di dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan bahwa amal yang paling dicintai Allah setelah sholat pada waktunya adalah berbakti kepada kedua orang tua (lihat penjelasan Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah dalam Ibthal at-Tandid, hal. 10-11).
Hal ini juga mengandung isyarat bahwa pembahasan tauhid tidak bisa lepas dari bab syukur kepada Allah. Termasuk bentuk syukur kepada Allah adalah dengan bersyukur/berterima kasih kepada sesama. Karena itu disebutkan dalam hadits bahwasanya tidaklah termasuk orang yang bersyukur kepada Allah orang yang tidak pandai berterima kasih kepada sesama manusia. Wallahu a’lam.
***
Repost : Sidayu Gresik : 12 Rabiul Akhir 1446 H / 5 Oktober 2025
Penulis : Ustadz Ari Wahyudi, S.Si






