Bismillah.
Alhamdulillah dengan taufik Allah pula, kini kita lanjutkan kembali seri pembahasan tafsir ayat-ayat tauhid yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid-nya.
Allah berfirman :
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً
“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
يأمر تبارك وتعالى بعبادته وحده لا شريك له; فإنه هو الخالق الرازق المنعم المتفضل على خلقه في جميع الآنات والحالات ، فهو المستحق منهم أن يوحدوه ، ولا يشركوا به شيئا من مخلوقاته
“Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Karena sesungguhnya Dia lah Yang Mahamencipta Yang Mahapemberi rezeki Yang Mahamemberikan nikmat dan karunia kepada makhluk-Nya dalam segala waktu dan keadaan. Maka hanya Allah yang berhak untuk diesakan oleh mereka dalam hal ibadah dan mereka tidak boleh mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun dari makhluk-Nya.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir [klik])
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan :
وهذه الآية يُقال لها: آية الحقوق العشرة، اشتملت على عشرة حقوق، وأهمها وأولها توحيد الله، والإخلاص له، تخصيصه بالعبادة، وترك الإشراك به
فالواجب على أهل العلم -خلفاء الرسل- أن يُعنوا بهذا الواجب، وأن يُوضِّحوه للناس، وأن يجتهدوا في نشره بين الناس، وتعليم الصِّغار والكبار، والذكور والإناث؛ لأنَّه أهم الأمور، وأعظم الحقوق؛
“Ayat ini sering disebut oleh para ulama dengan ayat yang menyebutkan huquq/hak-hak yang sepuluh; karena ia mencakup 10 hak yang wajib ditunaikan dan yang paling penting dan paling utama adalah tauhid kepada Allah, pemurnian ibadah untuk-Nya dan mengkhususkan ibadah kepada-Nya serta meninggalkan syirik kepada-Nya. Oleh sebab itu wajib bagi ahli ilmu para penerus perjuangan rasul untuk memperhatikan kewajiban ini sebaik-baiknya dan menjelaskan tauhid ini kepada manusia, mengajarkannya kepada anak-anak maupun orang-orang dewasa, kepada kaum lelaki dan perempuan; karena ia merupakan perkara yang paling penting dan hak yang paling agung…” (lihat Transkrip Pelajaran Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Bin Baz [klik])
Syirik adalah memalingkan ibadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada Allah. Adapun syirik kecil adalah segala sarana yang mengantarkan menuju syirik besar, atau segala ucapan dan perbuatan yang disebut sebagai syirik tetapi tidak mencapai tingkatan mengeluarkan dari agama.
Ayat ini juga mengandung pelajaran bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Apa pun atau siapa pun dia selain Allah; maka tidak boleh disembah; apakah itu nabi, wali, orang salih apalagi batu, pohon dan kuburan. Selain itu, ayat ini juga menunjukkan bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar sedangkan syirik adalah keharaman yang paling berat.
Tauhid inilah yang dikenal dengan sebutan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah.
Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah berkata :
“Tauhid uluhiyah adalah mengesakan-Nya subhanahu wa ta’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba, seperti halnya doa, takut, harap, tawakal, isti’anah/minta pertolongan, istighotsah, menyembelih, dan lain sebagainya dari perbuatan hamba.
Maka wajib atas mereka untuk menujukan semua itu untuk Allah semata, tidak mempersekutukan bersama Allah siapa pun dalam beribadah kepada-Nya. Sebagaimana tiada pencipta selain Allah, tiada yang menghidupkan selain Allah, tiada yang mematikan selain Allah, maka sesungguhnya tiada sesembahan yang benar/berhak disembah selain Allah.” (lihat Min Kunuz al-Qur’an al-Karim, Kutub wa Rasa’il [1/149])
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata :
“Tauhid uluhiyah itu adalah ilmu dan pengakuan bahwa Allah yang memiliki sifat uluhiyah/ketuhanan dan ubudiyah/berhak disembah oleh seluruh makhluk-Nya, mengesakan Allah semata dalam ibadah semuanya, dan memurnikan agama/amal untuk Allah saja.
Jenis tauhid yang terakhir ini melazimkan dan mengandung kedua jenis tauhid yang pertama -rububiyah dan asma’ wa shifat-. Karena sifat uluhiyah ini mencakup semua sifat kesempurnaan dan semua sifat rububiyah dan keagungan.
Maka sesungguhnya Allah lah yang berhak disembah dan diibadahi karena sifat-sifat keagungan dan kemuliaan yang ada pada-Nya, dan juga disebabkan berbagai keutamaan dan kenikmatan yang dilimpahkan oleh-Nya kepada segenap makhluk-Nya. Maka keesaan Allah dalam hal sifat-sifat kesempurnaan dan dalam perkara rububiyah-Nya melazimkan/memberikan konsekuensi bahwa tidak berhak disembah siapa pun selain diri-Nya.” (lihat al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 19)
“Ibadah itu sendiri merupakan perpaduan antara kecintaan dan ketundukan. Apabila ia ditujukan kepada Allah semata maka jadilah ia ibadah yang tegak di atas tauhid, sedangkan apabila ia ditujukan kepada selain-Nya maka ia menjadi ibadah yang tegak di atas syirik. Ibadah kepada Allah yang sesuai dengan syari’at disebut ibadah yang syar’iyah, sedangkan ibadah yang menyelisihi tuntunan syari’at disebut sebagai ibadah yang bid’ah”. (lihat Syarh Risalah Miftah Daris Salam oleh Syaikh Shalih bin Abdillah al-‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 9)
Tauhid kepada Allah ditegakkan di atas ikhlas dan shidq. Ikhlas adalah mengesakan Dzat yang dikehendaki dan disembah; yaitu dengan tidak mengangkat sekutu atau sesembahan lain bersama-Nya, sehingga dia hanya beribadah kepada Allah semata. Adapun shidq artinya mengesakan keinginan dan kehendak yaitu dengan menyatukan tekad dan keinginan untuk menunaikan ibadah secara sempurna dan tidak menyibukkan hatinya dengan hal-hal selainnya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa ikhlas bermakna mengesakan Dzat yang dikehendaki, sedangkan shidq adalah menunggalkan keinginan. (lihat keterangan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 13)
Barangsiapa yang tidak ikhlas dalam mewujudkan makna kalimat laa ilaha illallah maka dia adalah orang musyrik -karena ia telah beribadah kepada selain-Nya-. Dan barangsiapa yang tidak shidq/jujur dalam mengucapkan kalimat laa ilaha illallah maka dia adalah orang munafik. Allah berfirman (yang artinya), “Apabila datang kepadamu orang-orang munafik, mereka berkata ‘Kami bersaksi bahwasanya kamu adalah benar-benar utusan Allah’. Allah benar-benar mengetahui bahwa kamu sungguh rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (al-Munafiqun : 1) (lihat ash-Shidqu ma’a Allah, hal. 16)
Repost. Sidayu Gresik : 17 Rabiul Akhir 1446 H / 10 Oktober 2025
Penulis : Ustadz Ari Wahyudi, S.Si






