Mencaci-maki penguasa atau pemimpin atau pemerintah, menghujat, mengkritik kebijakannya bukan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, tapi ini jalannya para khowarij dan para pemberontak.
عن زياد بن كسيب العدوي قال : كنت مع أبي بكرة رضي الله تعالى عنه تحت منبر ابن عامر وهو يخطب وعليه ثياب رقاق فقال أبو بلال انظروا إلى أميرنا يابس ثياب الفساق فقال أبو بكرة اسكت سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (من أهان سلطان الله في الارض أهان الله). رواه أحمد والترمذي وقال : هذا حديث حسن غريب، وحسنه الألباني
Dari Ziyad bin Kusaib al-‘Adawiy berkata : Dahulu aku bersama Abu Bakrah radhiyallahu Ta’ala ‘anhu dibawah mimbarnya Ibnu ‘Amir, dia berkhutbah sedangkan dia menggunakan pakaian yang tipis, maka berkata Abu Bilal : “Lihatlah pemimpin kita ini, dia memakai pakaian orang-orang fasik.” Maka berkata Abu Bakrah : “Diamlah kamu!, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (Barangsiapa yang menghina penguasa Allah diatas bumi, maka Allah akan menghinakannya). Diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dan Tirmidzi berkata : Ini merupakan hadits yang hasan ghorib, dan Al-Albaaniy telah menghasankannya. (Kitab Al-Arba’iin fii Madzhabis Salaf, hal : 21-22)
Dalam hadits diatas ada ancaman untuk orang yang mencela penguasa atau pemimpin atau dizaman kita sekarang ini adalah pemerintah. Maka barangsiapa yang mencela pemimpin, penguasa atau pemerintah mendemonya, membuka aibnya di khalayak ramai, merendahkan serta menghinanya, maka kita khawatir Allah akan menghinakannya. Dan betapa banyak sebuah ucapan yang tidak disadari atau bahkan dianggap remeh namun ternyata ucapan itu bisa mengantarkan kedalam neraka sejauh barat dan timur. Karena itu hati-hati mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah, bisa jadi dengan hal itu Allah akan menghinakan kita dan menggelincirkan kita kedalam neraka. Waliyaadzubillah.
Faedah yang bisa diambil :
1. Tidak boleh menghina, melecehkan, menghuhat, mencaci-maki penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin
2. Orang yang menghina penguasa pemimpin atau pemerintah kaum muslimin Allah akan menghinakannya
3. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk taat pada penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin, bukan malah menghina apalagi mencaci-makinya. Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’ : 59)
4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun memerintahkan kita untuk taat kepada penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin meskipun mereka merampas harta kita dan mencambuk punggung-punggung kita. Dalam hadits riwayat Ubadah bin Shomit radhiyallahu ‘anhu :
.(وإن أكلوا مالك وضربوا ظهرك إلا أن يكون معصية. رواه ابن حبان
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (Mendengar dan taatlah dalam keadaan engkau sulit maupun mudah, semangat maupun terpaksa, meskipun dia berlaku sewenang-wenang terhadapmu, dan meskipun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu. (Tetap harus mendengar dan taat), kecuali jika nampak kemaksiatan kepada Allah yang nyata”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban) (Kitaab Al-Arba’iin fii Madzhabis Salaf, hal : 20)
5. Haramnya mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin baik secara langsung atau dengan cara demonstrasi, karena itu merupakan bentuk kedurhakaan terhadap Allah dan Rasul-Nya
«مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌۭ»
Artinya : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof : 18)
7. Mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin yang individu-individunya muslim merupakan kefasikan dan kekafiran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((سباب المسلم فسوق
.وقتاله كفر)) رواه البخاري ومسلم
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu Ta’ala ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran)).” [Riwayat al-Bukhari dan Muslim] (Kitaab Al-Arba’iin fii Madzhabis Salaf, hal : 30)
8. Satu ucapan baik celaan terhadap penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin bisa jadi hal itu akan menggelincirkan pelakunya dalam neraka sejauh barat dan timur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وروى البخاري في صحيحه (٦٤٧٧) ومسلم في صحيحه (٢٩٨٨)، واللفظ لمسلم عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين ما فيها، يهوي بها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب))
قال الحافظ ابن رجب في شرحه من كتابه جامع العلوم والحكم (١٤٧/٢) : ((والمراد بحصائد الألسنة : جزاء الكلام المحرم وعقوباته ؛ فإن الإنسان يزرع بقوله وعمله الحسنات والسيئات، ثم يحصد يوم القيامة ما زرع، فمن زرع خيرا من قول أو عمل حصد الكرامة، فمن زرع شرا من قول أو عمل حصد غدا الندامة))
.((لسانه فقد ملك أمره وأحكمه وضبطه
Al-Bukhaari meriwayatkan dalam shohihnya (6477) demikian juga Muslim dalam shahihnya (2988), dan lafadz ini milik Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata, yang ia tidak memerhatikannya (tidak memikirkan kejelekan dan dampaknya), ternyata menggelincirkan ia ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara timur dan barat)).
Dan diakhir hadits wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (2616) dan dia berkata ((Hadits yang hasan shohih)), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Bukankah menusia itu disungkurkan di Neraka diatas wajah mereka atau diatas hidung mereka kecuali karena ucapan lisan-lisanmereka?)).Sabda Nabi tersebut sebagai jawaban ucapan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ((Wahai Nabi Allah! Sungguh apakah kami benar-benar akan dihukum dengan sebab apa yang kami ucapkan?))
Berkata Al-Hafidz Ibnu Rojab dalam syarah kitabnya Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (2/147) : ((yang dimaksud dengan حصائد الألسنة : yaitu balasan ucapan yang haram dan hukuman-hukumannya ; karena sesungguhnya manusia itu dia akan menanam kebaikan atau menanam keburukan dengan ucapannya, kemudian dia akan menuai pada hari kiyamat apa yang telah dia tanam, barangsiapa yang menanam kebaikan berupa ucapan atau amalan dia pasti menuai kemuliaan, dan barangsiapa yang menanam keburukan berupa ucapan atau amalan besok dia akan menuai penyesalan)).
Dan dia -Al-Hafidz Ibnu Rojab dalam kitabnya Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam- (2/146) berkata juga : ((Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan, menahannya serta memenjarakannya merupakan pokok kebaikan seluruhnya, dan bahwasanya orang yang (mampu) menguasai lisannya sungguh dia telah menguasai urusannya, mengokohkannya serta menguatkannya)). (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal.19-20))
9. Hendaknya orang-orang yang mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin dia menghisab dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum mencela orang lain, karena betapa banyak orang-orang yang pandai mencela orang lain tapi tidak pandai mencela dirinya dan menghisab dirinya dari aib dan kekurangan. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :
حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا وزنوا أنفسكم قبل أن توزنوا، فإنه أهون عليكم في الحساب غدا أن تحاسبوا أنفسكم اليوم، وتزينوا للعرض الأكبر يومئذ تعرضون لا تخفي منكم خافية
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena hal itu lebih memudahkan kalian di hari hisab besok agar kalian menghisab diri kalian hari ini, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Muhaasabatun Nafsi, Ibnu Abid-Dunya, 22)
10. Orang-orang yang pandai mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin termasuk orang-orang yang tidak memiliki adab, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menasehati penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin, bukan justru mencelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الدين النصيحة. قلنا : لمن يا رسول الله؟ قال : لله، ولكتابه ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم. (رواه مسلم)
“Agama adalah nasihat”, kami (para sahabat) berkata : ‘Untuk siapa wahai Rasulullah?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat pada umumnya.” (HR. Muslim)
11. Orang-orang yang suka mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin, ada padanya ciri-ciri Khowarij
12. Orang-orang yang suka mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin, mereka menyerupai sifat orang-orang yahudi dan sifat orang-orang munaafiq
13. Hendaknya setiap kita menjaga lisan dari berkata-kata kecuali yang baik, termasuk terhadap penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari, Muslim)
14. Hendaknya orang-orang yang mencela penguasa, pemimpin atau pemerintah kaum muslimin takut kepada hari hisab dimana semua amal-amal akan ditampakkan dan bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha. Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur : 31)
«وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابًۭا»
Artinya : “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqon : 71)
Allah Ta’ala juga berfirman :
«إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَبَيَّنُوا۟ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ»
Artinya : “Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqaroh : 160)
Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam.
***
Dompu, 8 Muharrom 1441 H / 7 September 2019 M
Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy






