Bismillah wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ba’du.
Saudaraku sekalian ketauhilah nikmat ilmu di atas kebenaran adalah karunia yang begitu besar dari Allah Ta’ala. karena dengan sebab ilmu tersebut seseorang mendapatkan banyak keutamaan.
Allah Ta’ala berfirman :
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al Mujaadilah 58:11)
Seseorang yang telah berilmu tentang kebenaran maka sudah sepantasnya dia menyampaikan apa yang telah diilmuinya di tengah-tengah manusia. Karena dengan menyampaikan hal tersebut akan membuka jalan bagi orang lain untuk keluar dari kebatilan yang dimana mereka berkubang di dalamnya. Seandainya seseorang berhenti menyampaikan kebenaran maka tidak heran jika kebanyakan manusia lebih berkaribkan dengan kebatilan dari pada melazimkan kebenaran.
Allah Ta’ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوٓا۟ أَنصَارَ ٱللَّهِ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah”. (Ash Shaff 61:14)
Tentunya seruan ini ditujukan atas seluruh umat muslim dan tentunya kita menjadi bagian di dalamnya. Sejatinya Allah Ta’ala hendak menguji manusia siapa diantara kita yang bersungguh-sungguh di atas keimanannya dan siapa pula di antara kita yang tulus mengharap ganjaran dari Allah ta’ala dalam setiap amal perbuatannya. Lalu apakah ada perbuatan yang lebih mulia dari membela agama Allah Ta’ala?
Ibnu Aqil al-Hambali berkata:
قال ابن عقيل الحنبل : لو سكت المحقّون، ونطق المبتلون لتوّد البشر ما شاهادوا، وأنكرواما لم يشاهظوا فمتى رام التديّن إحياء سنة أنكر ها الناس، وظنوها بدعة
Seandainya orang-orang mengetahui kebenaran diam dari menyampaikannya, maka para pemuka kebatilan akan menyiarkan kebatilanya sehingga manusia terbiasa dengan apa yang telah mereka dapatkan serta mengingkari apa yang mereka tidak dapatkan sebelumnya. Kemudian apabila seorang alim menghendaki hidupnya sunnah manusiapun mengikarinya dan menganggap hal tersebut bid’ah. (Lihat kitab Showarif ‘Anil Haq. (Hal:140). Cet.Dar imam ahmad)
Syaikh Mubil berkata :
وما ضلّ و أضلّ إلا تهاون العلماء بالصدع بالحق
“Seseorang tidak akan tersesat dan menyesatkan kecuali jika para ulama lalai dari menyampaikan kebenaran”. (Lihat kitab showarif anil haq. (Hal:141). Cet.Dar imam ahmad)
Al-Alamah Ibnul Wajir berkata :
ولو أن العلماء تركوا الذب عن الحق، خوفا من كلام الخلق، لكانو قد أضاعوا كثيرا، وخافوا حقيرا.
“Seandainya para ulama berhenti membela kebenaran disebabkan rasa takut dari perkataan manusia, niscaya mereka telah menyia-nyiakan sesuatu yang besar karena khawatir akan celaan”. (Lihat kitab showarif anil haq. (Hal:141). Cet.Dar imam ahmad)
Ketahuilah saudaraku seiman berhenti dari menyeru kebenaran laksana memupuk kejahilan hingga akan tampak subur darinya kebathilan. Ilmu dan iman yang Allah Ta’ala telah karuniakan pada diri-diri kita jangan dibiarkan kecuali kita jadikan hal tersebut sebagai pijakan serta sumber dari kekuatan untuk membela agama Allah Ta’ala sampai pada hari yang telah ditetapkan.
Wallahu’alam.
***
[Faidatu Ta’lim Kitab Showarif ‘Anil Haq Ustadzuna Harits Kusyfi, Lc Hafidzohullah]
Dompu – NTB : 9 Jumadal Ula 1444 H/3 Desember 2022
Penulis : Muhammad Hidayatullah, S.Psi (Santri Ma’had Meci Angi angkatan 7)
Dimuroja’ah oleh : Tim Meci Angi
Artikel: Meciangi.or.id






