Cinta dan benci merupakan dua hal yang selalu menghiasi hati anak adam. Apapun itu, mari bersikap pertengahan. Dalam sebuah atsar :
رواه البخاري في (الأدب المفرد) ؛ وله طرق عدة يصيح بها عن علي رضي الله عنه
Dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau mengatakan : ((Cintailah orang yang kamu cintai sedang-sedang saja ; bisa jadi orang yang kamu cintai sekarang suatu saat nanti menjadi orang yang kamu benci ; bencilah orang yang kamu benci sendang-sedang saja ; bisa jadi orang yang kamu benci sekarang suatu saat nanti menjadi orang yang kamu cintai)).
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab (Al-Adabul Mufrod) ; atsar ini memiliki beberapa jalan yang shohih atsar ini dengan jalan tersebut, dari Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu. [Al-Ghuror min Mauquufil Atsar, karya Asy-Syaikh Sholih bin Abdillah bin Muhammad al-‘Ushaimiy, hal : 7]
Faedah yang bisa diambil :
1. Cintailah orang yang anda cintai seperti teman-teman anda, karib kerabat anda, ustadz-ustadz yang mengajarkan ilmu, anak-anak, bahkan orang tua, serta istri maupun suami anda dengan cinta yang sedang-sedang saja, jangan berlebihan. Karena bisa jadi suatu saat anda akan membencinya, karena Allah adalah Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati.
2. Bencilah orang yang anda benci sekedarnya saja jangan berlebihan, karena bisa jadi orang yang anda benci sekarang suatu saat nanti menjadi orang yang paling anda cintai.
3. Segala sesuatu yang sifatnya ghuluw (berlebih-lebihan), maka itu tidak baik dilakukan, lebih-lebih dalam urusan agama sebagaimana firman Allah kepada yahudi dan nashara dan termasuk juga kepada kita secara umum :
«إِلَّا ٱلْحَقَّ
Artinya : “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu ghuluw (melampaui batas) dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An-Nisa : 171)
4. Segala sesuatu yang sifatnya pertengahan, pasti didalamnya ada kebaikan, karena itu Allah menyebut umat Islam sebagai umat yang pertengahan. Allah Ta’ala berfirman :
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَـٰكُمْ أُمَّةًۭ وَسَطًۭا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ»
«وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًۭا ۗ
Artinya : “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS. Al-Baqaroh : 143)
5. Jika ingin cinta dan benci anda tidak keluar dari koridor syariat, maka cintailah sesuatu karena Allah dan bencilah sesuatu karena Allah, sebab itu merupakan bentuk keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.((فقد استكمل الإيمان
((Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah : maka sungguh ia telah menyempurnakan imannya)). [At-Taudhiihu wal Bayaan lisy-Syajaratil Iimaan, hal : 18. Maktabah Abdul Mushawwir]
Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.
***
Repost : Gresik : 25 Muharrom 1445 H/12 Agustus 2023
Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com






