Bismillahirohmanirohim.
Salah satu bentuk pendidikan yang seharusnya kita lalui dan sadarilah bahwa itu adalah salah satu rukun dalam pendidikan manusia mendasar yaitu pendidikan bermasyarakat.
Mungkin sebagian kita mengatakan: “saya diciptakan berkepribadian pendiam, tidak terampil dalam bergaul dengan orang lain” dan kalimat sejenis lain. Padahal yang benar adalah semua manusia senantiasa bisa menyesuaikan lagi dan membentuk jiwa yang baru. Sebagaimana penilaian dirinya bahwa dia tidak bisa bersosialisasi itupun adalah hasil pembentukan dari berbagai aksi dan reaksi yang ia terima dari orang tuanya dan orang terdekatnya. Sebagaimana petunjuk utusan Allah Muhammad shollalahu ‘alaihi wasallam yang mulia disampaikan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ على الفِطْرَةِ، فأبَواهُ يُهَوِّدانِهِ، أوْ يُنَصِّرانِهِ، أوْ يُمَجِّسانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ البَهِيمَةَ هلْ تَرى فِيها جَدْعاءَ (رواه البخاري)
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” (HR Bukhari)
Saudaraku, terbentuknya masyarakat adalah konsekuensi langsung adanya manusia. Juga apalagi jika direnungkan dan nilai secara transparan inshaf, terbuka, sesungguhnya bergaul dengan sesama manusia adalah tabiat mendasar, dan juga suatu kekuatan dari dalam jiwa manusia -kecil ataupun besar- bahwa kita sudah didorong untuk bersosialisasi. Hal ini tidak bertentangan dengan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di surat Al-Hujurat ayat 13 :
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرࣲ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبࣰا وَقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوۤا۟ۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِیمٌ خَبِیرࣱ
Artinya : “Wahai sekalian manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian semua dari jenis laki dan perempuan dan kami menjadikan kalian beraneka bangsa dan kabilah Agar kalian semua saling mengenal sesungguhnya yang paling mulia adalah yang paling bertakwa Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Hal yang Lahir dan batin.” (QS. Al-Hujurat : 3)
Pada artikel pendek ini penulis ingin mendorong diri sendiri kemudian para pembaca agar memberanikan dirinya untuk bergaul dan bersosialisasi, dengan motivasi beberapa hal dari syariat Islam yang akan datang ini, yang mana kalau poin-poin ini hadir dalam hati mudah-mudahan upaya keras kita untuk bersosialisasi diganjar dengan pahala dari Allah subhanahu wa Ta‘ala. Bukankah bergaul dan bersosialisasi itu merupakan suatu hal yang diperjuangkan oleh sebagian kita disebabkan bukan kecenderungan alaminya untuk bergaul dengan masyarakat? Akan tetapi semoga dengan motivasi ini menjadi lebih ringan merealisasikan sosialisasi dan bermasyarakat.
Dengan bergaul maka kita pribadi menghidupkan sunnah mengenal manusia satu dengan yang lainnya dan berusaha menyukai bercampur Baur dengan mereka. Tentu saja campur baur ini bukan artinya kita menjadi objek atau korban dari pergaulan akan tetapi berusaha menjadi sosok yang mewarnai memberikan pengaruh yang baik. Terkadang hal ini diperumpamakan dengan ikan yang hidup di air laut akan tetapi dagingnya tidak asin. Artinya ikan ini bisa mencegah dirinya dari terpengaruh lingkungan sekitar.
Terdapat beberapa proyek-proyek kebaikan yang bisa direalisasikan dalam perjuangan seorang dalam bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat umum.
Tujuan pertama seorang yang bergaul adalah ia mentaati Allah. Dengan bergaul ini ia punya kesempatan dan bisa meraih tujuan besar dari bergaul dengan orang lain yaitu agar mentaati Allah subhanahu wa ta’ala dan mentaati rasulnya. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Orang beriman yang berinteraksi sosial dengan manusia lainnya dan bersabar dari gangguan mereka adalah lebih besar balasan pahalanya dari orang beriman yang tidak demikian dan tidak bersabar dari gangguan manusia.” (HR. Ahmad).
Manfaat Bergaul Untuk Diri Sendiri
- Terbuka peluang mengajari mereka dan demikian juga kita belajar dari mereka
- Bisa memberi manfaat dan demikian juga mendapatkan manfaat dari mereka
- Melatih diri untuk beradab dan akhlak dan mereka akan mengambil teladan dari adab dan akhlak kita
- Kita bisa merasakan nyamannya sopan santun mereka sebagaimana kita juga berlaku sopan santun lemah lembut dengan mereka
- Bisa meraih banyak pahala dari Jalan melayani manusia dan juga kita menjadi Sebab mereka mendapatkan pahala karena menemani kita dalam kebaikan menunaikan hak-hak persaudaraan
- Kita membiasakan untuk tawadhu, merendahkan diri di hadapan manusia, bukankah kita sudah tahu bahwa tawadhu adalah salah satu yang dituntut oleh syariat Islam
- Terakhir, dan poin ini tidak bisa kita sangkal adalah: Mendapat pengalaman berharga, karena dalam pergaulana pasti kita memperhatikan kondisi-kondisi manusia yang beraneka macam, akhlak dan kepribadian yang berbeda-beda sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari itu semua. Pelajaran untuk masa depan.
Tujuan Syar’i Lainnya Dari Bergaul Dengan Masyarakat
Tujuan lainnya dari bergaul adalah memberikan Hidayah orang yang tersesat dan meluruskannya dunia maupun akhirat bersamaan. Kita ingat pahala memberi petunjuk adalah lebih baik dari unta merah.
Mendakwahkan non Islam, mengajak untuk menyambut kebutuhan nurani dan fitrah nya yaitu beribadah kepada Tuhannya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa perantara dan masuk ke akidah Islam.
Bergaul dengan masyarakat dan mengenal mereka akan memberi manfaat bagi yang melakukannya berupa ia mengetahui apa saja permasalahan yang ada di masyarakat kecil maupun besar sehingga punya kemampuan dalam berinteraksi dengan mereka. Sehingga jika di suatu waktu di masa depan ada permasalahan yang terjadi di lingkungan tempatnya hidup, ia tidak geger, kebingungan, kikuk karena sudah punya pengalaman sebelumnya yang mengantarkan kepada solusi untuknya maupun masyarakat lebih luas.
Adanya bentuk sosialisasi pergaulan antar manusia akan tercipta tolong menolong untuk merealisasikan kemaslahatan atau menghilangkan kerusakan yang ada. Allah yang maha agung berfirman :
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَ ٰنِۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ
Artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah : 2)
Juga tujuan dari bersosialisasi adalah membiasakan manusia lainnya dan melatih mereka untuk konsisten komitmen dengan nilai mulia Islam dan ini adalah sangat logis karena jikalau ada seorang yang bertakwa kepada Allah berilmu namun tidak bergaul meskipun sedikit maka bagaimana orang awam di sekitarnya bisa mendapatkan manfaat dari dia tentu saja dibutuhkan dari ‘alim ini untuk berinteraksi dengan orang awam mengasihi mereka mengajarkan menasehati mengajak mereka salat dan syair Islam yang lainnya mudah-mudahan waktu demi waktu akan semakin banyak manusia yang terbiasa dengan kebaikan menunaikan ajaran agama Sehingga masyarakat yang ada pada suatu waktu nanti menjadi masyarakat Islami, yang nilai universal Islamnya nampak.
Untuk saya pribadi dan pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa Nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabi yang terbuka, dan demikianlah semua nabi, terbuka memberi hidayah, pengajaran, memperbaiki keandaan mereka, memberi nasihat dan lainnya yang hanya bisa terealisasi jika berinteraksi dengan masyarakat. Tentu saja bagi kita dengan tidak melupakan bahwa salah tujuan bergaul dengan manusia sebagaimana disebutkan di atas adalah kita menjadi subjek bukan objek. Maksudnya adalah kita memberikan pengaruh yang baik kepada mereka, bukan kita yang terwarnai dengan hal ihwal tidak terpuji yang mungkin ada di dalam masyarakat, karena dalam bergaul dengan masyarakat jika berlebihan dan tanpa persiapan maka tidak bisa kita abaikan bahwa ada juga bahaya yang mengintai.
Wallahu a’lam
Sumber bacaan:
- Masyru’l Ibnil Mahbub,li Ridho al Mishri
- Majalah Ar-Risalah, Ahmad Hasan Az-Zayyat
- Tafsir QS Al-Hujurat:23 dari Fathul Qodir lis Syaukani
***
Sidayu, Gresik : 10 Rabiul Awwal 1445 H/25 September 2023
Penulis : Denny Juzaili
Artikel : Meciangi.or.id






