Bismillah wassholaatu wassalaamu ‘alaa rosulillah
Dunia saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat. Globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan ekonomi telah membawa banyak dampak pada kehidupan manusia, termasuk dalam hal mencari nafkah. Di satu sisi, teknologi telah membuka peluang baru dalam berbagai bidang, tetapi di sisi lain, banyak pekerjaan tradisional yang hilang akibat otomatisasi dan digitalisasi. Hal ini menimbulkan fenomena di mana semakin banyak orang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Fenomena ini semakin diperparah dengan meningkatnya jumlah penduduk dan persaingan yang ketat dalam dunia kerja. Menurut data terbaru, jumlah penduduk dunia mencapai 8,2 miliar jiwa pada tahun 2024 tempo.co. Di Indonesia sendiri, jumlah penduduk mencapai 278,7 juta jiwa pada tahun 2023 id.wikipedia.org. Tingginya jumlah penduduk ini berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah angkatan kerja, yang sayangnya tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada tahun 2024 sebesar 4,91% ceicdata.com. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun jumlah pengangguran masih cukup signifikan.
Dalam kondisi seperti ini, kekhawatiran terhadap rezeki menjadi hal yang sangat umum. Banyak orang yang merasa cemas tentang bagaimana mereka akan mencukupi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya. Tidak sedikit yang akhirnya mengalami stres, kecemasan, bahkan keputusasaan. Namun, Islam mengajarkan bahwa rezeki adalah ketetapan Allah yang telah diatur sejak sebelum manusia lahir. Oleh karena itu, memahami konsep rezeki dalam Islam dan bagaimana kita harus menyikapinya adalah hal yang sangat penting agar kita tetap tenang dan tidak terjebak dalam ketakutan yang berlebihan.
Makna Rezeki Menurut Islam
Dalam Islam, konsep rezeki memiliki makna yang luas dan mendalam. Rezeki tidak hanya terbatas pada harta atau materi, tetapi mencakup segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti kesehatan, ilmu, keluarga yang harmonis, dan ketenangan jiwa. Para ulama salaf telah memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai makna rezeki ini.
Ibnu Katsir, dalam tafsirnya terhadap Surah Hud ayat 6, menyatakan bahwa rezeki mencakup segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan bagi hamba-Nya, termasuk makanan, minuman, pakaian, dan pasangan hidup. Beliau menekankan bahwa Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, menjelaskan bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya dan mereka dapat memanfaatkannya. Beliau juga menekankan bahwa rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi juga mencakup kesehatan dan nikmat-nikmat lainnya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya, Syarh Riyadhus Shalihin, menjelaskan bahwa rezeki terbagi menjadi dua:
1. Rezeki Umum: Segala sesuatu yang bermanfaat bagi tubuh, baik halal maupun haram, yang diberikan kepada seluruh makhluk, baik mukmin maupun kafir.
2. Rezeki Khusus: Rezeki yang berkaitan dengan hati, seperti ilmu yang bermanfaat, iman, dan hidayah. Rezeki ini khusus diberikan kepada orang-orang beriman.
Beliau menekankan bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah, dan manusia tidak akan meninggal sebelum rezekinya sempurna diberikan.
Imam An-Nawawi dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, menyebutkan bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya oleh makhluk. Beliau juga menegaskan bahwa rezeki telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan berkurang atau bertambah kecuali dengan kehendak-Nya.
Sebab Kekhawatiran terhadap Rezeki
1. Kurangnya Keyakinan terhadap Jaminan Allah
Salah satu penyebab utama seseorang merasa khawatir terhadap rezeki adalah kurangnya keyakinan terhadap jaminan Allah. Padahal, dalam Islam, rezeki telah ditentukan oleh Allah bahkan sebelum manusia lahir. Banyak orang yang merasa cemas karena mereka belum memahami atau belum menginternalisasi keyakinan bahwa Allah-lah yang mengatur rezeki setiap makhluk-Nya.
Allah telah menegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin dan tidak akan tertukar. Salah satu ayat yang sangat kuat dalam hal ini adalah:
وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Hud: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap makhluk hidup, tanpa terkecuali, telah dijamin rezekinya oleh Allah. Hal ini seharusnya menjadi penenang bagi hati setiap manusia, bahwa tidak ada seorang pun yang akan luput dari rezekinya selama ia masih hidup.
Selain dalam Al-Qur’an, jaminan rezeki juga ditegaskan dalam hadits-hadits Rasulullah ﷺ. Salah satu hadits yang paling terkenal mengenai rezeki adalah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama, lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutuslah malaikat kepadanya, lalu ia meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk mencatat empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia akan menjadi orang yang bahagia atau celaka.” (HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643)
Hadits ini menunjukkan bahwa rezeki seseorang telah ditentukan bahkan sebelum ia lahir ke dunia. Maka, jika rezeki sudah ditetapkan oleh Allah, mengapa kita masih merasa cemas dan khawatir?
Para ulama salaf banyak membahas tentang keimanan terhadap jaminan rezeki Allah. Berikut adalah beberapa perkataan mereka:
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata dalam kitabnya Madarij As-Salikin (3/378):
“Ketika seseorang menguatkan tawakalnya kepada Allah, maka hilanglah darinya rasa takut terhadap kehilangan rezeki. Karena ia yakin bahwa rezekinya telah ditetapkan oleh Allah sebelum ia dilahirkan.”
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin (4/290) mengatakan:
“Ketakutan terhadap rezeki adalah tanda kelemahan iman. Orang yang yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki tidak akan pernah ragu bahwa Allah akan mencukupi kebutuhannya, sebagaimana Dia mencukupi kebutuhan seluruh makhluk-Nya.”
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (hal. 492) berkata:
“Seorang hamba tidak akan mati sampai rezekinya sempurna diberikan kepadanya. Maka, mengkhawatirkan rezeki adalah bentuk kekhawatiran yang tidak beralasan.”
Dari perkataan para ulama ini, jelas bahwa kurangnya keyakinan terhadap jaminan Allah adalah sebuah kelemahan dalam iman. Semakin kuat keyakinan seseorang terhadap Allah, semakin berkurang pula rasa cemasnya terhadap rezeki.
Jika kurangnya keyakinan terhadap jaminan Allah menjadi penyebab utama kekhawatiran, maka solusi utamanya adalah bertawakal dengan benar. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi no. 2344, Ahmad no. 205, dan Ibnu Majah no. 4164, dishahihkan oleh Al-Albani)
Burung tidak hanya diam menunggu rezeki, tetapi mereka keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Namun, mereka tidak pernah merasa cemas akan rezeki mereka. Inilah gambaran tawakal yang benar: berusaha semampunya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.
2. Persaingan Hidup yang Ketat
Salah satu faktor utama yang membuat banyak orang merasa cemas terhadap rezeki adalah persaingan hidup yang semakin ketat. Perubahan zaman telah membawa tantangan yang lebih besar, terutama dalam hal mencari pekerjaan, membangun usaha, dan mempertahankan kestabilan ekonomi. Banyak orang merasa bahwa semakin sulit untuk mendapatkan penghidupan yang layak karena jumlah pencari kerja lebih banyak daripada lapangan pekerjaan yang tersedia, sementara biaya hidup terus meningkat.
Fenomena Persaingan Hidup dalam Konteks Modern
Dunia saat ini telah mengalami perubahan besar akibat perkembangan teknologi, globalisasi, dan perubahan ekonomi. Di satu sisi, kemajuan teknologi membuka peluang baru dalam berbagai bidang, namun di sisi lain, banyak pekerjaan tradisional yang tergantikan oleh otomatisasi.
Sebagai contoh, banyak pekerjaan yang dulu dilakukan oleh manusia kini digantikan oleh mesin atau kecerdasan buatan. Hal ini menciptakan tantangan baru bagi angkatan kerja yang harus beradaptasi dengan keterampilan baru agar tetap kompetitif di pasar kerja.
Selain itu, urbanisasi yang pesat menyebabkan semakin banyak orang yang berpindah ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan, sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Di Indonesia sendiri, jumlah angkatan kerja terus meningkat setiap tahunnya, sementara jumlah lapangan pekerjaan tidak bertambah dengan laju yang sama.
Banyak individu yang merasa bahwa mereka harus bekerja lebih keras, mengorbankan waktu dan tenaga, bahkan terkadang mengambil keputusan yang tidak etis demi mendapatkan pekerjaan atau keuntungan ekonomi. Inilah yang seringkali menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan bahkan keputusasaan.
Pandangan Islam tentang Persaingan Hidup
Islam mengajarkan bahwa meskipun dunia ini penuh dengan tantangan, rezeki seseorang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ dan tidak akan tertukar dengan milik orang lain. Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Artinya “Dan tidak ada suatu makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap makhluk, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, telah ditentukan rezekinya oleh Allah. Persaingan dalam kehidupan bukanlah alasan untuk merasa cemas berlebihan, karena Allah telah menetapkan jatah masing-masing.
Namun, hal ini bukan berarti seseorang boleh berdiam diri tanpa usaha. Islam mengajarkan konsep usaha dan tawakal secara seimbang. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Artinya: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi No. 2344, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun burung tidak memiliki pekerjaan tetap seperti manusia, mereka tetap mencari makan setiap hari dan Allah memberi mereka rezeki. Maka, manusia pun harus berusaha semaksimal mungkin, tanpa melupakan bahwa rezeki sejatinya berasal dari Allah.
Para ulama telah memberikan banyak nasihat tentang bagaimana menghadapi persaingan dalam kehidupan, terutama dalam mencari nafkah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarij as-Salikin berkata:
“Rezeki itu ada dua macam: rezeki yang dicari dan rezeki yang datang tanpa dicari. Rezeki yang datang tanpa dicari adalah bagian dari rahmat dan kemurahan Allah, sedangkan rezeki yang dicari membutuhkan usaha dan ikhtiar manusia. Namun, pada akhirnya, keduanya adalah ketetapan Allah yang telah ditentukan. (Madarij as-Salikin, Juz 3, Hal. 318)
Beliau menekankan bahwa ada rezeki yang datang karena usaha, dan ada pula rezeki yang diberikan langsung oleh Allah tanpa disangka-sangka. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh berputus asa hanya karena persaingan yang ketat.
Imam Asy-Syafi’i juga pernah berkata:
“Jangan terlalu mencemaskan rezeki, karena kekhawatiran itu tidak akan menambah jatahmu. Apa yang telah ditetapkan untukmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang bukan milikmu tidak akan bisa engkau dapatkan dengan segala upaya.” (Dikutip dari kitab Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Baihaqi, Juz 2, Hal. 208)
Perkataan Imam Asy-Syafi’i ini memberikan ketenangan bagi mereka yang sering merasa stres dalam menghadapi persaingan. Apa yang menjadi jatah kita tidak akan berpindah ke orang lain, dan apa yang bukan hak kita tidak akan bisa kita miliki meskipun kita berusaha mati-matian.
3. Pengaruh Lingkungan dan Media Sosial
Lingkungan tempat seseorang hidup sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan sikapnya terhadap rezeki. Saat seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengejar dunia tanpa memperhatikan batasan syariat, maka ia bisa saja ikut terjerumus dalam perlombaan duniawi yang tidak ada habisnya. Ditambah dengan perkembangan media sosial, standar kesuksesan kini semakin bergeser. Banyak orang merasa kurang bersyukur atas rezeki yang telah Allah berikan karena membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses atau kaya.
a) Lingkungan yang Materialistis
Lingkungan yang terlalu menekankan kesuksesan duniawi dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap rezeki. Ketika seseorang melihat orang-orang di sekitarnya yang sibuk mengejar harta dan jabatan, ia mungkin merasa tertekan jika tidak mampu mencapai hal yang sama. Padahal, Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah sementara dan bukan tujuan utama hidup.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid: 20)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan betapa kehidupan dunia dipenuhi dengan hal-hal yang melalaikan dan seringkali membuat manusia terbuai oleh kenikmatan sementara. Jika seseorang tidak sadar akan hakikat ini, maka ia akan selalu merasa kurang dalam urusan dunia dan terus cemas terhadap rezekinya.
b) Media Sosial dan Standar Palsu Kesuksesan
Media sosial semakin memperburuk kondisi ini. Banyak orang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan yang ditampilkan oleh orang lain di media sosial. Sayangnya, banyak dari apa yang ditampilkan hanyalah bagian terbaik dari kehidupan mereka, yang sering kali jauh dari kenyataan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)
Hadits ini menegaskan bahwa membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya atau lebih sukses hanya akan membuat kita lupa bersyukur. Namun, justru inilah yang sering terjadi di media sosial. Orang-orang terpengaruh oleh gaya hidup hedonisme yang ditampilkan oleh para influencer, sehingga muncul perasaan tidak puas dan kekhawatiran terhadap rezeki.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Siapa yang lebih banyak memandang kepada kenikmatan duniawi yang dimiliki orang lain, maka ia akan kehilangan ketenangan dan semakin haus dengan dunia yang tak ada habisnya.” (Madarij As-Salikin, jilid 2, hal. 323)
Oleh karena itu, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai apa yang kita lihat di dunia maya membuat kita lupa dengan rezeki yang telah Allah berikan.
4. Ujian Kehidupan
Dalam kehidupan, manusia pasti akan menghadapi ujian dan cobaan yang menguji keyakinannya kepada Allah. Salah satu bentuk ujian yang paling sering terjadi adalah ujian dalam hal rezeki. Kekurangan harta, kehilangan pekerjaan, gagal dalam usaha, atau kesulitan ekonomi sering kali membuat seseorang merasa khawatir akan masa depannya. Namun, Islam telah menjelaskan bahwa ujian dalam rezeki adalah bagian dari ketetapan Allah yang menguji kesabaran dan ketakwaan seorang hamba.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa manusia pasti akan diuji dengan berbagai bentuk ujian, termasuk kekurangan dalam hal rezeki (نَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ). Namun, Allah memberikan solusi bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi ujian ini, yaitu dengan tetap beriman dan bersabar.
Dari Suhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ المُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya itu baik baginya, dan hal ini tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim no. 2999)
Hadis ini menjelaskan bahwa ujian dalam kehidupan, termasuk dalam rezeki, bukanlah tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Sebaliknya, bagi seorang mukmin, setiap keadaan adalah baik, selama ia menyikapinya dengan sikap yang benar: syukur ketika mendapat kelapangan dan sabar ketika mengalami kesulitan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata:
“Kehidupan dunia adalah negeri ujian dan cobaan. Allah menguji hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan, dengan kelapangan dan kesempitan, agar diketahui siapa yang bersabar dan bersyukur.”
(Madarij As-Salikin, 2/128)
Imam As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan:
“Manusia diuji dengan berbagai bentuk kesulitan agar mereka kembali kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan memahami bahwa segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya.”
(Tafsir As-Sa’di, hal. 67)
Dari sini kita memahami bahwa ujian dalam rezeki adalah cara Allah agar kita semakin dekat dengan-Nya, bukan sebagai hukuman semata.
Kesimpulan
kekhawatiran terhadap rezeki adalah bagian dari ujian kehidupan yang harus dihadapi dengan iman, sabar, dan tawakal kepada Allah. Rezeki telah dijamin oleh-Nya, dan tugas manusia hanyalah berusaha serta bertawakal tanpa merasa gelisah berlebihan. Dengan memahami bahwa rezeki bukan hanya harta, tetapi juga kesehatan, ilmu, dan keberkahan, seseorang akan lebih tenang dalam menjalani hidup. Semoga Allah senantiasa melapangkan rezeki kita, memberkahi usaha kita, dan menjadikan kita hamba yang selalu bersyukur serta ridha terhadap ketetapan-Nya.
اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal agar aku tidak mengambil yang haram, dan kayakanlah aku dengan anugerah-Mu agar aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”
Wallahu ‘alam
…
“Rezeki bukan hanya tentang angka, tetapi tentang keberkahan. Sedikit yang cukup lebih baik daripada banyak yang melalaikan. Ketika kita merasa rezeki kita sempit, lihatlah langit yang luas. Sang Pemilik langit tidak pernah kehabisan cara untuk memberi kita kecukupan.”
***
Kota Surabaya, 22 Sya’ban 1446 H/21 Februari 2025 M.
Ditulis oleh : Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel : Meciangi.or.id






