Sabtu, Juni 6, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Menuntut Ilmu Meskipun Umur Tidak Lagi Muda

Denny Juzaili by Denny Juzaili
1 Desember 2024
in ADAB DAN AKHLAQ
Reading Time: 15 mins read
0
Home ADAB DAN AKHLAQ

إِنَّ ٱلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَن يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَن يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

RELATED POST

Mulai dari yang Ringan

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب: 70-71)

Menuntut Ilmu Meskipun Umur Tidak Lagi Muda

Ketika seseorang sudah dewasa, bahkan sudah berkeluarga, memiliki anak dan istri, maka tanggung jawab dan tantangan yang dihadapi tentu lebih besar. Mungkin belajarnya harus beliau biayai sendiri, waktu luang yang dimiliki lebih terbatas, perhatian terbagi antara mencari nafkah, mengurus keluarga, dan memenuhi kewajiban lain.

Menyisihkan waktu untuk belajar agama, menghafal Al-Qur’an, menghafal hadits, dan membangun pondasi ilmiah tentu bukan perkara mudah bagi orang dewasa yang harus sibuk dengan urusan dunia. Ini berbeda dengan seorang pelajar yang ditugaskan khusus untuk belajar di pesantren atau institusi keilmuan lainnya, di mana ia hanya fokus pada ilmu dan memiliki waktu yang lebih longgar. Namun, justru di sinilah letak kemuliaan dan keutamaan seseorang yang tetap berusaha menuntut ilmu meskipun dalam kondisi yang penuh keterbatasan.

Ilmu merupakan cahaya yang menerangi jalan hidup seorang muslim. Tidak ada batasan usia dalam menuntut ilmu, karena ilmu adalah anugerah yang harus terus dikejar hingga akhir hayat. Dalam manhaj Salaf, ilmu agama khususnya merupakan perhiasan yang membedakan antara manusia yang sadar akan tujuan hidupnya dengan yang tidak. Para ulama terdahulu mengajarkan bahwa usia tua bukan penghalang untuk belajar, justru menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Diberikan Petunjuk Menjadi Person yang Belajar Agama Adalah Karunia dari Allah

Hidayah untuk menjadi seorang pelajar, untuk mencintai dan memperhatikan ilmu, adalah karunia yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah yang bisa memberi hidayah kepada hati kita, agar kita terdorong untuk mencari ilmu-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (artinya) :
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, maka sungguh, ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Saudara-saudariku rahimakumullah, ketika Allah memberikan kita dorongan untuk belajar, itu adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya. Bukan karena kecerdasan kita atau usaha kita semata. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Dia akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Muslim)

Maksudnya : Siapa orang yang Allah inginkan mendapat kebaikan yang agung dan manfaat sangat banyak, maka Dia jadikan mengerti agama. Dia memberikan ilmu syar’iy yang mana ilmu ini tidak ada apapun yang melebihinya keutamaannya maupun kemuliaannya, juga sangat tinggi derajatnya, karena ini warisannya Nabi, mereka tidak mewariskan kecuali ilmu agama.

Belajar Agama Adalah Tahapan Penting Untuk Mendapat Ridho Allah

Berkata Yusuf bin Al-Hushain rahimahullahu :

بالعلم يصح له العمل, وبالعمل تنال الحكمة, وبالحكمة يفهم الزهد, وبالزهد تترك الدنيا, وبترك الدنيا ترغب في الآخرة, وبالرغبة في الآخرة ينال رضي الله تعالى

“Dengan ilmu amalan akan menjadi baik, dan dengan amalan hikmah akan didapatkan, dan dengan hikmah zuhud akan difahami, dan dengan zuhud dunia akan ditinggalkan, dan dengan meninggalkan dunia kamu akan mencintai akhirat, dan dengan roghbah diakhirat akan diperoleh keridhoan Allah Ta’ala.”

Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Sesungguhnya hati manusia berada di antara dua jari Allah, Dia membolak-balikkan sesuai kehendak-Nya. Maka, mintalah hidayah kepada Allah.”

Jika kita merasakan ada dorongan kuat dalam hati untuk mempelajari agama-Nya, bersyukurlah! Sebab, itu adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi kita.

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar

Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Usia bukanlah penghalang dalam menuntut ilmu. Banyak ulama besar yang mulai belajar di usia tua, tetapi mereka tetap meraih kedudukan tinggi dalam ilmu.

Menuntut ilmu menuntut kesungguhan. Baik di masa muda maupun ketika usia telah lanjut, usaha dalam belajar harus dilakukan dengan sepenuh hati. Kisah-kisah dari ulama terdahulu menjadi inspirasi bagi kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, bahkan saat usia telah senja.

Kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu sangat terkenal. Al-Fudhail dulu adalah seorang perampok yang merampok di jalan. Penyebab tobatnya adalah karena ia jatuh cinta kepada seorang budak perempuan. Suatu malam ketika ia sedang memanjat tembok menuju budak perempuan itu, ia mendengar seseorang melantunkan ayat (yang artinya) : “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16). Ia berkata: ‘Ya Rabb, waktunya telah tiba.’ Maka ia pun pergi dan malam itu ia beristirahat di sebuah reruntuhan bangunan. Di sana ada sekelompok orang yang sedang bepergian, dan sebagian dari mereka berkata: ‘Ayo kita pergi.’ Yang lain berkata: ‘Tunggu sampai pagi, karena Al-Fudhail ada di jalan dan bisa merampok kita.’ Al-Fudhail pun merenung dan berkata: ‘Aku aktif di malam hari untuk berbuat maksiat, sementara sekelompok kaum muslimin di sini takut kepadaku. Aku merasa Allah mengarahkan aku kepada mereka untuk membuatku berhenti dari perbuatanku.’ Maka ia berdoa, ‘Ya Allah, aku telah bertobat kepada-Mu, dan aku menjadikan tobatku ini untuk tinggal di sekitar Baitullah (Ka’bah). Beliau belajar ke ulama besar di zamannya seperti Al-A’masy dan Sufyan Ats-Tsauri.

Imam Al-Kisa’i rahimahullahu mulai belajar di usia 40 , dan beliaulah ahli sastra arab dari mazhab Kufah yang sangat terkenal.

Al-‘Izz bin Abdussalam rahimahullahu, yang dikenal sebagai Sulthanul Ulama, baru mulai belajar ilmu agama ketika usianya sudah tidak lagi muda. Al Izz bin ‘Abdussalam sangat miskin pada awal kehidupannya dan tidak sibuk belajar kecuali tatkala sudah dewasa. Sebab ia mulai belajar adalah, ia biasa bermalam di kalassa Masjid Damaskus, suatu hari ia bermalam di sana di cuaca sangat dingin ia mengalami mimpi basah, ia segera bangun dan turun ke dalam kolam kalassa, dan ia merasakan sakit karena kedinginan, lalu tidur lagi dan bermimpi basah dan lagi ke kolam tersebut, karena pintu masjid tertutup dan beliau tidak bisa pergi, maka beliau masuk lagi ke kolam dan pingsan karena kedinginan yang parah – kemudian beliau mendengar panggilan terakhir kali: Wahai bin ‘Abdissalam, mau ilmu atau kerja? Al-‘Izz berkata: Ilmu, karena menjadi petunjuk dalam amalan, maka beliau bangun, terjaga sadar, serta mulai menghafal, dan beliau beralih pada ilmu, maka beliau termasuk orang yang paling ‘alim di masanya.

Abu Muhammad Ibn Hazm rahimahullahu, memulai belajar agama di usia 26 tahun. Beliau sebelumnya adalah penguasa salah satu wilayah di Cordoba. bermula ketika mendengar kabar kematian tetangganya, Ibnu Hazm menuju masjid. Sesampainya di masjid, saat itu setelah Ashar, Ibnu Hazm langsung duduk menunggu jenazah datang. Ia kaget ketika ada yang menegur Jangan duduk. Berdirilah. Waktunya salah tahiyat masjid. Ibnu Hazm berdiri dan shalat dua rakaat. Jenazah datang lalu diadqkan shalat jenazah. Selesai salat jenazah, Ibnu Hazm berdiri kembali dan melaksanakan dua rakaat shalat. Mendapati hal itu, seseorang menegurnya kembali, Duduklah. Sekarang adalah waktu yang diharamkan untuk shalat. Karena ketidakfahamannya tentang sholat itu, ia menyadari kejahilannya dalam perkara ilmu agama. Ia pun mulai belajar agama.

Sholih bin Kaisan rahimahullahu disebutkan di Tahdzibut Tahdzib baru mulai belajar ketika usia 70 tahun, namun diriwayatkan bahwa ingatannya dalam menghafal hadits sangat kuat. Beliau termasuk perawinya Bukhari dan Muslim.

MANFAAT BELAJAR ILMU AGAMA

Takut kepada Allah خشية الله

Ilmu menumbuhkan rasa takut kepada Allah, dan hubungan antara ilmu tentang Allah -Ta’ala- dengan rasa takut kepada-Nya merupakan hubungan yang saling beriringan. Kekurangan ilmu terkait erat dengan kekurangan rasa takut, dan peningkatan ilmu terkait dengan peningkatan rasa takut. Ilmu menarik rasa takut, dan rasa takut pun berasal dari ilmu. Dalil tentang ini adalah firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّـهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para ualama’.” (QS. Fathir: 28).

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata : “Orang yang berilmu tentang Allah dan perintah-Nya adalah orang yang takut kepada Allah Ta’ala, dan ia mengetahui batas-batas dan kewajiban. Seperti halnya ilmu menumbuhkan rasa takut, begitu pula rasa takut menumbuhkan ilmu. Karena itulah Allah –Ta’ala– menjadikan rasa takut sebagai salah satu tanda kebaikan, dan sebab keutamaan. Ketika Allah –Ta’ala– berfirman:

أُولَـئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Artinya : “Mereka itulah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)

Allah menyempurnakan sifat mereka dengan berkata :

جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَّضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Artinya : “Balasan mereka disisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah: 8).

Maka, orang yang takut kepada Allah akan mendapatkan balasan berupa surga -Insya Allah-, dan tidak ada yang takut kepada Allah kecuali orang-orang berilmu.

Ridha Allah رضا الله

Menuntut ilmu merupakan sebab untuk mendapatkan ridha Allah –Ta’ala-, bahkan hanya dengan memulai langkah dalam menuntut ilmu, kebaikan dari Allah –Ta’ala– dan kenikmatan akan datang. Allah -Ta’ala- memudahkan jalan menuju surga bagi siapa saja yang menuntut ilmu. Semakin seseorang berjalan di jalan ilmu, semakin luas dan mudah jalannya menuju surga. Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا ‌يَلْتَمِسُ فِيهِ ‌عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Dari ridha Allah terhadap apa yang dilakukan oleh para penuntut ilmu, Allah menjadikan para malaikat -makhluk yang bercahaya- melapangkan jalan mereka. Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda :

مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا ‌رِضًا ‌بِمَا ‌يَصْنَعُ

“Tidaklah orang yang keluar, ia keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu, kecuali Malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya ridha dengan apa yang mereka lakukan.” (HR. Iibnu Majah).

Mengangkat Kebodohan dari Umat رفع الجهل عن الأمة

Kebodohan adalah penyakit bagi umat. Tidak ada satu pun umat yang berkuasa atau hancur, kecuali karena peningkatan atau penurunan ilmu. Jika Allah –Ta’ala– ingin menghancurkan suatu umat, Dia akan mencabut ilmu dari mereka, bukan dengan mencabut ilmu dari hati mereka, tetapi dengan wafatnya para ulama. Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا ‌يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan mencabut ilmu begitu saja dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan diwafatkannya para ulama.” (HR. Bukhari).

Ketika seorang ulama meninggal dunia dan tidak ada yang menggantikannya, kebodohan menyebar di antara umat, dan kebodohan ini menjadi sebab kehancuran mereka.

Masuk Surga دخول الجنة

Hubungan antara menuntut ilmu dan masuk surga memiliki dua sisi. Pertama, menuntut ilmu itu sendiri adalah ibadah, dan Allah -Ta’ala- memberikan pahala yang besar atas ibadah ini. Pahala yang besar tersebut akan mengantarkan seseorang ke surga. Kedua, ilmu yang diperoleh membuat seseorang mengetahui apa yang halal dan haram, sehingga dia dapat menjauhi maksiat dan mengerjakan kebaikan, yang akan membawanya menuju surga. Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا ‌يَلْتَمِسُ فِيهِ ‌عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Allah –Ta’ala– akan mempermudah jalan bagi penuntut ilmu di dunia dan di akhirat, serta mempermudah mereka untuk masuk ke dalam surga. Yang dimaksud dengan menuntut ilmu di sini adalah ilmu syar’i, karena itulah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah –Ta’ala-.

BERUSAHA MENGAMBIL ILMU DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH

Ikhwan dan akhwati fillah a’azaniyallahu wa iyyakum, dalam perjalanan menuntut ilmu, sikap kesungguhan, tidak kenal menyerah, dan disiplin adalah sifat yang harus kita miliki. Kita harus berjuang sekuat tenaga, karena ilmu itu sangat mahal dan jalannya tidak mudah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an (yang artinya) : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Para sahabat Nabi menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam menuntut ilmu. Salah satu kisah yang patut kita teladani adalah perjuangan sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Beliau rela meninggalkan banyak kehidupan duniawi dan hidup dalam kekurangan demi menuntut ilmu dari Rasulullah. Abu Hurairah berkata: Aku adalah seorang yang miskin. Aku sering terjatuh pingsan di masjid karena lapar, dan orang-orang mengira aku gila, padahal aku hanya lapar.

Begitu pula sahabat lainnya, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, sangat gigih dalam mencari ilmu. Beliau pernah berkata: Jika aku mendengar ada seseorang yang memiliki hadits, aku segera pergi menemuinya meskipun harus berjalan jauh.

Komitmen dengan Adab Penuntut Ilmu

Adab dalam menuntut ilmu adalah kunci penting yang harus selalu kita jaga. Menuntut ilmu bukan sekadar soal mengumpulkan informasi, tetapi juga menjaga adab yang benar. Tanpa adab, ilmu yang dimiliki khawatir tidak berberkah, tidak memberi manfaat untuk diri sendiri, apalagi memberi manfaat ke orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak para ulama.” (HR. Abu Dawud).

Salah satu adab dalam belajar agama yang paling terkenal adalah ucapannya Imam Syafi’i rahimahullahu yang beliau memberitahu enam hal mungkin termasuk syarat mendapatkan ilmu, yaitu: kesungguhan, kecerdasan, bekal harta, membersamai guru, waktu yang lama, dan semangat.

Para ulama Salaf sangat menjaga adab kepada guru mereka. Salah satu kisah yang masyhur adalah kisah Ibnu Abbas ketika menghormati & memuliakan Zaid bin Tsabit. Ketika Zaid hendak menaiki untanya, Ibnu Abbas segera memegang tali kendalinya. Zaid berkata: Lepaskan, wahai anak paman Rasulullah. Namun, Ibnu Abbas menjawab, Beginilah kami memperlakukan ulama dan orang tua kami. Kisah ini mengajarkan kita betapa pentingnya memuliakan guru.

Mengutamakan Adab terhadap Guru

Para ulama terdahulu sangat menghormati guru mereka. Imam Malik rahimahullahu, memuliakan gurunya, Rabi’ah Ar-Ra’yi rahimahullahu. Beliau tidak pernah duduk di hadapan Rabi’ah kecuali dengan penuh rasa hormat. Penghormatan terhadap guru bukan hanya sebuah formalitas, tetapi sebuah penghargaan terhadap ilmu yang mereka bawa.

Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata kepada Khalaf al-Ahmar: Saya tidak akan duduk kecuali di depan Anda… Kami diperintahkan untuk tawadhu’ terhadap mereka yang kami belajar darinya.

Al-Ghazali rahimahullahu berkata: Ilmu tidak diperoleh kecuali dengan tawadhu’ dan memfokuskan pendengaran.

Ibnu Jama’ah rahimahullahu menyebutkan bahwa seorang penuntut ilmu harus memandang gurunya dengan penuh penghormatan dan meyakini bahwa gurunya berada di derajat kesempurnaan (dalam ilmu), karena sikap ini lebih mendekatkan kepada manfaat yang bisa diambil dari gurunya. Beberapa salaf berkata: ketika mereka pergi menemui guru mereka, mereka bersedekah dengan sesuatu dan berdoa: Ya Allah, tutupilah kekurangan guruku dari pandanganku, dan janganlah Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.

Imam Syafi’i rahimahullahu berkata: Aku biasa membalik lembaran di hadapan Malik dengan lembut, karena rasa hormatku kepadanya, agar ia tidak mendengar suara lembaran itu.

Ibnu Jama’ah rahimahullah menyebutkan juga: Seorang murid hendaknya duduk di hadapan gurunya dengan sikap penuh adab, seperti seorang anak kecil yang duduk di hadapan pengajar, atau duduk bersila dengan rendah hati, tunduk, tenang, dan khusyuk. Ia harus mendengarkan dengan benar-benar kepada gurunya sambil memandangnya, memberikan seluruh perhatiannya kepada sang guru, serta memahami perkataannya sehingga tidak membuat gurunya harus mengulangi ucapannya. Jangan menoleh kecuali jika ada keperluan, dan jangan memandang ke kanan atau kiri, ke atas atau depan tanpa adanya kebutuhan, terutama saat guru sedang mengajarkan sesuatu atau berbicara langsung kepadanya.

Memulai dari Ilmu yang Paling Dasar

Ulama Salaf selalu memulai pembelajaran mereka dengan ilmu dasar, tidak langsung terjun kepada pembahasan yang mendalam. Ini adalah salah satu bentuk adab dalam menuntut ilmu. Mengambil ilmu secara bertahap adalah sunnah yang dilakukan oleh para sahabat dan tabiin. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan ilmu kepada para sahabatnya radhiyallahu anhum secara bertahap, sehingga mereka bisa memahaminya dengan baik dan mengamalkannya.

Yunus bin Yazid rahimahullahu berkata: Ibnu Syihab rahimahullahu berkata kepadaku: Wahai Yunus! Janganlah kamu sombong terhadap ilmu, karena ilmu itu adalah lembah, apapun yang kamu ingin a semuanya dalam waktu singkat, niscaya terputus darimu sebelum kamu mencapainya, tetapi ambillah dengan melewati banyak siang dan malam, dan jangan mengambil ilmu secara keseluruhan, karena siapa yang mengincar ilmu lalu mengambilnya secara keseluruhan, itu akan hilang juga darinya secara keseluruhan, tetapi sedikit demi sedikit seiring dengan malam dan siang hari.

Menghormati / Muliakan Hal yang Berkaitan Dengan Ilmu

Dalam proses belajar, tidak hanya guru yang harus dihormati, tetapi juga segala sarana yang terlibat dalam pembelajaran. Para ulama Salaf sangat menjaga adab terhadap buku, pena, dan bahkan tempat mereka belajar.

Komitmen Dengan Tawadhu’

Imam Malik pernah berkata: “Semakin banyak aku belajar, semakin aku merasa bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

Selain tawadhu’, rasa takut kepada Allah juga harus menjadi pendorong dalam belajar. Ilmu yang dipelajari bukan untuk kesombongan, tetapi untuk menambah ketakwaan kepada Allah. Allah berfirman:

Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para ualama.” (QS. Fathir: 28).

Berkata Abdullah bin Mas’ud sebagaimana disebutkan di Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi :

لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ خَشْيَةُ اللَّهِ

“Ilmu bukanlah dari banyaknya riwayat akan tetapi ilmu adalah takut kepada Allah.”

Umar bin Ali Al-Bazzar rohimahullah berkata tentang gurunya, Imam Ahmad bin Taimiyah (lahir 661 H – wafat 728 H): “Adapun tawadhunya Ibn Taimiyah, saya tidak pernah melihat atau mendengar seseorang dari kalangan sezamannya yang sebanding dengannya dalam hal itu. Beliau tawadhu’ kepada yang tua dan yang muda, yang terhormat maupun yang rendah, yang kaya maupun yang miskin. Beliau kepada kepada orang miskin, menghormatinya, menghiburnya, dan berbicara dengan mereka lebih hangat daripada kepada orang kaya, bahkan beliau sering melayani mereka sendiri, membantunya membawa kebutuhannya, untuk menguatkan hatinya dan mendekatkan diri kepada Rabb-nya.” (Al-A’lam Al-Aliyah; Al-Bazzar).

Al-Bazzar rohimahullah berkata: Ketika kami keluar dari rumahnya dengan niat untuk membaca (belajar), beliau (Ibnu Taimiyah) sendiri yang membawa naskah (kitab), tidak membiarkan salah seorang dari kami membawanya. Saya sering meminta maaf kepadanya karena takut tidak sopan, lalu beliau berkata: ‘Jika saya membawanya di atas kepala saya pun itu pantas, apakah saya tidak seharusnya membawa sesuatu yang berisi perkataan Rasulullah صلى الله عليه وسلم?!’ (Al-A’lam Al-Aliyah; Al-Bazzar).

Diriwayatkan oleh Al-Hakim rohimahullah dari Abu Salamah rohimahullah, dari Ibn Abbas (lahir 3 SH – wafat 68 H), bahwa beliau memegang tali kekang Zaid bin Tsabit radhiallahu Anhu (wafat 45 H), kemudian Zaid radhiallahu Anhu berkata kepadanya: Menjauhlah wahai sepupu Rasulullah صلى الله عليه وسلم! Lalu Ibn Abbas menjawab: ‘Beginilah kami memperlakukan orang-orang besar dan ulama kami.’ (Mustadrak Al-Hakim, jld. 3, hal. 423, no. 5785).

Al-Laits bin Saad rohimahullah (lahir 94 H – wafat 175 H) berkata : Said bin Al-Musayyib (lahir 15 H – wafat 94 H) biasa shalat dua rakaat kemudian duduk, dan berkumpullah para anak-anak sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari kalangan Muhajirin dan Anshar di sekitarnya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berani bertanya kepadanya kecuali jika beliau memulai berbicara atau jika ada seseorang yang datang untuk bertanya, maka mereka mendengarkan.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Abdurrahman bin Harmalah Al-Aslami rohimahullah berkata : “Tidak ada seorang pun yang berani bertanya kepada Said bin Al-Musayyib rohimahullah tentang sesuatu kecuali setelah meminta izin kepadanya sebagaimana meminta izin kepada seorang pemimpin.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Muhammad bin Syihab Az-Zuhri rohimahullah (lahir 58 H – wafat 124 H) berkata : “Saya biasa mendatangi pintu rumah Urwah bin Zubair rohimahullah (lahir 23 H – wafat 94 H), kemudian duduk di luar, lalu saya pergi tanpa masuk, padahal jika saya mau masuk, saya bisa melakukannya karena saya mengaguminya.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Yahya bin Abdulmalik Al-Mushili rahimahullah berkata : “Saya melihat Malik bin Anas (lahir 93 H – wafat 179 H) beberapa kali, dan para muridnya sangat menghormati dan memuliakannya. Jika ada yang mengangkat suaranya, mereka akan memarahinya.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Abdullah bin Zaid rahimahullahu berkata : “Kami biasa duduk bersama Makhul (wafat 112 H) dan di antara kami ada Said bin Abdulaziz (wafat 167 H) (mufti Damaskus), dan Said biasa menuangkan air di majelis Makhul.” (Siyar A’lam An-Nubala’; Adz-Dzahabi).

Mughirah bin Muslim Adh-Dhabi rahimahullahu berkata : “Kami merasa takut kepada Ibrahim An-Nakha’i (lahir 46 H – wafat 96 H) sebagaimana orang-orang takut kepada seorang pemimpin.” (At-Thabaqat Al-Kubra; Ibn Saad).

Rabi’ bin Sulaiman rahimahullahu (lahir 174 H – wafat 270 H) berkata : “Demi Allah, saya tidak berani minum air sementara Imam Syafi’i (lahir 150 H – wafat 204 H) memandang saya karena rasa hormat saya kepadanya.” (Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra; Al-Baihaqi).

Muhammad bin Sirin rahimahullahu (lahir 33 H – wafat 110 H) berkata : “Saya melihat Abdurrahman bin Abi Laila (lahir 17 H – wafat 83 H) dan para sahabatnya sangat menghormati dan memuliakannya layaknya seorang pemimpin.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Imam Al-Bukhari rahimahullahu (lahir 194 H – wafat 256 H) berkata : “Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih menghormati para periwayat hadits daripada Yahya bin Ma’in (lahir 158 H – wafat 233 H).” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Ahmad bin Sanan Al-Qattan rahimahullahu (lahir 199 H – wafat 259 H) berkata : “Abdurrahman bin Mahdi (lahir 135 H – wafat 198 H) tidak memperbolehkan pembicaraan dalam majelisnya, tidak ada yang mengasah pena, dan tidak ada yang berdiri.” (Tadzkirat Al-Huffaz; Adz-Dzahabi).

Imam Syafi’i rahimahullahu (lahir 150 H – wafat 204 H) berkata : “Saya membalik halaman kitab di hadapan Imam Malik (lahir 93 H – wafat 179 H) dengan perlahan karena rasa hormat saya kepadanya, agar tidak terdengar suara halamannya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab; An-Nawawi).

Ali bin Al-Madini rahimahullahu (lahir 161 H – wafat 234 H) berkata : “Guruku Ahmad bin Hanbal (lahir 164 H – wafat 241 H) berkata kepadaku: Jangan berbicara kepadaku kecuali dari kitab.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Hamad bin Abi Hanifah rahimahullahu (wafat 176 H) berkata: Saya melihat Al-Hasan bin ‘Amarah (wafat 160 H) dan ayah saya tiba di jembatan, lalu ayah saya berkata kepadanya : “Silakan maju. Beliau menjawab: Saya maju? Engkau yang maju, karena engkau lebih faqih, lebih tahu, dan lebih utama di antara kami.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Abu Mu’awiyah Adh-Dharir rahimahullahu (Muhammad bin Hazm As-Sa’di) (wafat 195 H) berkata : “Setelah makan, seseorang menuangkan air di tanganku, saya tidak mengenalinya. Kemudian Khalifah Harun Ar-Rasyid (lahir 149 H – wafat 193 H) berkata: ‘Apakah engkau tahu siapa yang menuangkan air untukmu?’ Saya menjawab: ‘Tidak.’ Beliau berkata: ‘Saya, sebagai penghormatan kepada ilmu.'” (Siyar A’lam An-Nubala’; Adz-Dzahabi).

‘Ashim bin Abi An-Najud Rahimahullahu (wafat 127 H) (seorang ahli qiraat) sedang mengimami sekelompok orang dalam shalat, kemudian Sufyan bin ‘Uyainah (lahir 107 H – wafat 198 H) datang dan berjongkok di depannya. Abu Bakr berkata : ‘Wahai Sufyan, bagaimana keadaanmu?’ Lalu seseorang datang bertanya kepada Sufyan tentang sebuah hadits. Sufyan berkata: ‘Jangan bertanya kepadaku selama syaikh ini masih duduk.’ (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi; Al-Khatib Al-Baghdadi).

Beberapa kisah di atas salah cerminan adab para ulama yang harus kita teladani dalam setiap proses belajar. Tawadhu’, menghormati guru, dan senantiasa bersikap rendah hati adalah sikap yang harus kita pegang.

Adab Berinteraksi dengan Sesama Penuntut Ilmu

Selain adab kepada ulama, dalam menuntut ilmu juga ada adab ketika berinteraksi dengan sesama pelajar. Seorang penuntut ilmu harus mampu menjaga adab dalam berbagai situasi, baik saat bertemu dengan yang lebih tinggi, selevel, maupun yang di bawahnya dalam hal ilmu.

Sebagaimana diceritakan oleh Abdurrahman bin Mahdi rahimahullahu : “Dulu diceritakan bahwa jika seseorang bertemu dengan orang yang ilmunya lebih tinggi darinya, maka hari itu adalah hari beliau mendapatkan ghanimah (keberuntungan besar). Jika ia bertemu dengan yang selevel dengannya, maka ia akan saling berdiskusi dan mengambil ilmu darinya. Dan jika bertemu dengan yang di bawahnya, beliau akan tawadhu’ dan mengajarkan beliau. Tidak akan pernah seseorang menjadi imam dalam ilmu jika ia selalu menyampaikan semua yang ia dengar, atau jika ia mengambil ilmu dari sumber yang tidak jelas, atau menyampaikan sesuatu yang syadz (menyimpang).

Ulama Salaf sangat menekankan bahwa ilmu adalah anugerah dari Allah, dan seseorang harus menjaga amanah ini dengan baik. Tawadhu’ di hadapan orang yang lebih berilmu dan tidak sombong ketika mendapatkan kelebihan ilmu merupakan adab yang wajib dimiliki oleh setiap penuntut ilmu.

Cita-Cita Setinggi Mungkin, Usia Tua Bukanlah Hambatan Usia tua bukanlah alasan untuk lemah dalam belajar. Justru, semakin tua seseorang, seharusnya semakin ia sadar akan pentingnya ilmu untuk bekal akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Menuntut ilmu juga harus disesuaikan dengan kondisi hidup masing-masing. Bagi yang memiliki banyak waktu, mereka dianjurkan untuk mendalami ilmu secara mendalam, mengikuti kurikulum yang teratur di tempat belajar khusus. Namun, bagi yang memiliki keterbatasan waktu atau kondisi fisik, mereka bisa mempelajari hal-hal yang ringkas dan paling dibutuhkan.

Mari kita tetap semangat dalam menuntut ilmu, meskipun usia kita tidak lagi muda. bersabarlah di atas jalan ilmu ini. Tidak ada yang lebih mulia daripada ilmu yang akan mengantarkan kita kepada ridha Allah dan surga-Nya. Jangan pernah menyerah, karena ilmu adalah jalan menuju kemuliaan di dunia dan akhirat. Sungguh, menuntut ilmu adalah jalan menuju surga, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita semua kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menuntut ilmu.

***
Depok, 3 Rabiul Akhir 1446 H / 6 Oktober 2024

Penulis : Ustadz Denny Juzaili

Artikel : Meciangi.or.id

ShareTweetPin
Denny Juzaili

Denny Juzaili

Ustadz Denny Juzaili adalah pengajar dan bendahara bidang usaha di Pondok Pesantren al-Furqon al-Islamiy Sidayu-Gresik. Beliau adalah alumni Ponpes Darul Atsar (kec. Panceng) tahun 2019, alumni Pondok Pesantren al-Furqon al-Islamiy Sidayu-Gresik tahun 2023. Pada tahun 2007, beliau pernah menempuh studi di dept. Farmasi Universitas Indonesia. Sekarang beliau sedang menempuh kuliah S1 di Fakultas Idaariy Jurusan Manajemen dan Keuangan LIPIA Jakarta.

Related Posts

Mulai dari yang Ringan
ADAB DAN AKHLAQ

Mulai dari yang Ringan

17 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

8 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)

11 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)

8 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 1)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 1)

30 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati

8 Mei 2026
Next Post
Do’a Orang Kafir untuk Orang Mu’min

Do'a Orang Kafir untuk Orang Mu'min

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Angkatlah Do’amu di Hari Arafah
  • Puasa Awal Dzulhijjah
  • Kambing 1,7 Tahun Belum Powel
  • Biografi Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdan

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp