Setiap manusia pasti bermimpi, ada yang intensitas mimpinya banyak, ada juga yang hanya sesekali bermimpi. Namun, mimpi setiap manusia tidak lepas dari tiga sumber yaitu: dari Allah Ta’ala, dari diri seseorang yang bermimpi itu sendiri baik karena kegembiraan, kebahagiaan atau kegelisahan serta kegundahan yang dialaminya ketika menjalani hidup, dan yang terakhir adalah dari Syaitan.
Dari ketiga mimpi di atas akan menghasilkan tiga macam mimpi yaitu mimpi kebaikan yang bersumber dari Allah Ta’ala, sebagai bunga-bunga tidur, dan mimpi keburukan yang tentu bersumber dari Syaitan.
Tulisan ini akan berfokus pada mimpi kebaikan yang bersumber dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Pengertian mimpi kebaikan
Mimpi kebaikan adalah mimpi yang dilihat oleh seorang hamba yang shaleh dalam tidurnya, baik itu perkara kebaikan yang sesuai dengan syari’at yang diperintahkan untuk dilakukan, atau larangan agar dijauhi, atau juga sesuatu yang Allah Ta’ala khususkan baginya dari hamba-hamba yang lain sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Dan semua itu sangat mudah bagi Allah Ta’ala, dan Allah melakukan sesuatu atas kehendak-Nya.
Macam-macam mimpi kebaikan
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Ar Ruh” menyebutkan beberapa macam mimpi kebaikan, diantaranya:
1. Ilham dari Allah
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
Tidak mungkin bagi seorang manusia untuk diajak berbicara langsung oleh Allah, kecuali dengan (perantaraan) wahyu, dari belakang tabir, atau dengan mengirim utusan (malaikat) lalu mewahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana. (Asy Syuro: 51).
Syaikhul Islam dalam Risalahnya yang merupakan bagian dari Majmu’ Fatawanya 12/129 mengatakan:
“Wahyu adalah informasi yang cepat dan rahasia, baik dalam keadaan sadar maupun dalam mimpi. Mimpi para Nabi adalah wahyu, dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian. Sebagaimana tercantum dalam hadits Nabi ﷺ, Beliau bersabda:
رؤيا المؤمن كلام يكلم به الرب عبده في المنام
Mimpi seorang mukmin adalah perkataan yang Allah Ta’ala dengannya berbicara bersama hamba-Nya dalam mimpi. (Takhrij kitab sunnah hal. 487)
Dan mimpi ini berlaku untuk selain para Nabi, baik dalam keadaan tersadar maupun dalam mimpi.
2. Permisalan yang diberikan oleh Malaikat
‘Iyadh rahimahullah berkata:
“Banyak dari para ulama mengatakan bahwa dalam mimpi terdapat malaikat yang ditugasi untuk memberikan peringatan terhadap sesuatu, atau menjelaskan kebaikan dan keburukan pada seseorang yang bermimpi. (Fathul Bari 12/353).
Ketika kita mendapati hal-hal baik dalam mimpi maka hendaknya kita menyandarkan mimpi tersebut kepada Allah dan memuji-Nya, namun jika yang kita dapati selain dari itu maka hendaknya kita berta’awudz dan berlindung dari syaitan, Sebagaimana juga dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan yang lainnya, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إن للشَّيطانِ للمَّةً بابنِ آدمَ، ولِلمَلك لَمَّةٌ، فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكْذيبٌ بالحقِّ، وأمَّا لمَّةُ الملَكِ فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ. فمَن وجدَ ذلِكَ فليعلم أنَّهُ منَ اللَّهِ، فليحمَدِ اللَّهَ، ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ منَ الشَّيطانِ.
“Sesungguhnya syaitan memiliki hasrat terhadap anak adam, dan Malaikat pun juga memiliki hasrat. Adapun hasrat syaitan adalah dengan menjerumuskan anak adam pada keburukan dan agar mendustakan kebenaran, dan hasrat Malaikat adalah menghantarkan anak adam pada kebaikan dan agar membenarkan kebenaran. Barangsiapa yang mendapati hasrat Malaikat maka hendaknya dia mengetahui bahwa itu bersumber dari Allah dan hendaknya dia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain dari itu maka hendaknya dia berlindung dari syaitan. (H.R. An Nasai dalam sunan kubro 11051).
3. Pertemuan antara ruh orang yang tertidur dengan ruh orang yang telah meninggal.
Banyak dari para ulama mengatakan bahwa ruh orang yang sedang tertidur bisa bertemu dengan ruh orang yang telah meninggal, terdapat beberapa dalil terkait hal ini, diantaranya:
- Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir. ( Az Zumar: 42)
Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menjelaskan tafsir ayat tersebut,
إِنَّ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ تَلْتَقِي فِي الْمَنَامِ فَتَتَعَارَفُ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْهَا، فَإِذَا أَرَادَ جَمِيعُهَا الرُّجُوعَ إِلَى الْأَجْسَادِ أَمْسَكَ اللَّهُ أَرْوَاحَ الْأَمْوَاتِ عِنْدَهُ، وَأَرْسَلَ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ إِلَى أَجْسَادِهَا
Sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya. (Tafsir At-Thabari 21/298, Al-Qurthubi 15/260, An-Nasafi 4/56, Zadul Masir Ibnul Jauzi 4/20, dan beberapa tafsir lainnya).
- Pernah terjadi di zaman Sahabat
Kejadian ini pernah dialami seorang sahabat yang dijamin masuk surga karena kerendahan hatinya. Sahabat Tsabit bin Qois radhiyallahu ‘anhu. Peristiwa ini terjadi ketika perang Yamamah, menyerang nabi palsu Musailamah Al-Kadzab di zaman Abu Bakr. Dalam peperangan itu, Tsabit termasuk sahabat yang mati syahid. Ketika itu, Tsabit memakai baju besi yang bernilai harganya.
Sampai akhirnya lewatlah seseorang dan menemukan jasad Tsabit. Orang ini mengambil baju besi Tsabit dan membawanya pulang. Setelah peristiwa ini, ada salah seorang mukmin bermimpi, dia didatangi Tsabin bin Qois. Tsabit berpesan kepada si Mukmin dalam mimpi itu:
“Saya wasiatkan kepada kamu, dan jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya. Ketika saya mati, ada seseorang yang melewati jenazahku dan mengambil baju besiku. Tinggalnya di paling pojok sana. Di kemahnya ada kuda yang dia gunakan membantu kegiatannya. Dia meletakkan wadah di atas baju besiku, dan diatasnya ada pelana. Datangi Khalid bin Walid, minta beliau untuk menugaskan orang agar mengambil baju besiku. Dan jika kamu bertemu Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu Abu Bakr), sampaikan bahwa saya punya tanggungan utang sekian dan punya piutang macet sekian. Sementara budakku fulan, statusnya merdeka. Sekali lagi jangan kamu katakan, ‘Ini hanya mimpi kalut’ kemudian kamu tidak mempedulikannya.”
Setelah bangun, orang inipun menemui Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dan menyampaikan kisah mimpinya bertemu Tsabit. Sang panglima, Khalid bin Walid mengutus beberapa orang untuk mengambil baju besi itu, dia memperhatikan kemah yang paling ujung, ternyata ada seekor kuda yang disiapkan. Mereka melihat isi kemah, ternyata tidak ada orangnya. Merekapun masuk, dan langsung menggeser pelana. Ternyata di bawahnya ada wadah. Kemudian mereka mengangkat wadah itu, ketemulah baju besi itu. Merekapun membawa baju besi itu menghadap Khalid bin Walid.
Setelah sampai Madinah, orang itu penyampaikan mimpinya kepada Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan beliau membolehkan untuk melaksanakan wasiat Tsabit. Para sahabat mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorangpun yang wasiatnya dilaksanakan, padahal baru disampaikan setelah orangnya meninggal, selain wasiat Tsabit bin Qais. (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwah 2638 dan Al-Bushiri dalam Al-Ittihaf 3010)
Wallahu a’lam
***
Bandung, 28 Januari 2024
Penulis: Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel: Meciangi.or.id






