Bismillah. Alhamdulillah, Rabbus samaawaati wal ardhi. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.
Ada salah satu karakter buruk yang kita berharap Allah menghindari melindungi diri kita pribadi dan juga orang lain dari hal ini. Sifat ini adalah sesuai judul artikel. Yang di dalam terminologi Ushul Fiqih ini diistilahkan dengan jahil murokkab. Jahil artinya bodoh murokkab artinya yang bertingkat.
Jika seorang terkena keburukan ini ia tidak menyadari bahwa dirinya bodoh. Yang muncul ke permukaan adalah euforia perasaan jumawa hal-hal yang orang waras di luarnya melihat dengan keheranan namun pelakunya tidak menyadari itu.
Bukankah hampir semua manusia terkena karakter buruk ini?
Salah satu wasilah menuju kebodohan bertingkat ini adalah sikap menganggap remeh pihak lain. Bahasa mudahnya sombong namun karakter yang sejenis sombong juga bisa menjadi wasilah hal tersebut.
Salah satu penangkal dan penawar dari penyakit ini setelah izin Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan menuntut ilmu, belajar. Tentu saja yang dipelajari adalah Al-Quran dan hadits, beserta cabang-cabangnya. Dan ilmu terpenting yaitu tafsir Al-Quran, fiqih, aqidah dengan menghayati ilmu tersebut merenungi makna agar kita implementasikan ke diri kita sendiri.
Salah satu bahaya jangka panjang adalah kerugian waktu karena berbeda dengan bodoh level biasa yang orang sadar dan cepat introspeksi berusaha menghilangkannya dengan belajar kalau bodoh bertingkat ini seorang pelakunya tidak menyadari sehingga sulit melakukan pengobatan introspeksi mengambil nasehat dari orang lain dan lain-lainnya.
Orang dengan sifat begini haknya adalah untuk dijauhkan. Demikian yang diwasiatkan oleh ulama Kholil bin Ahmad al Farohidy. Dan kalimat ini sangatlah benar dan sangat cocok karena tatkala kita ingin mengajarkan atau meluruskannya, maka niscaya ia menolak. Tatkala didebat ia akan zalim.
***
Gresik, 7 Dzulqo’dah 1444 H/27 Mei 2023
Penulis : Ustadz Denny Juzaili
Artikel : Meciangi.or.id






