Sabtu, Juni 6, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Salawat Sunnah vs Salawat Bid’ah

Abu Dawud ad-Dombuwiyy by Abu Dawud ad-Dombuwiyy
19 Februari 2024
in MANHAJ
Reading Time: 22 mins read
1
Home MANHAJ

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala nabiiyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du. 

RELATED POST

Belum Ada Judul

Umat Islam Terpecah menjadi 73 Golongan

Berbicara tentang masalah shalawat, shalawat adalah perkara yang di perintahkan oleh syariat, baik berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an maupun dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, siapa yang rajin bersalawat, berarti dia sedang mengikuti jejak-jejak salaf, yakni menetapkan adanya syariat bersalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, jikapun ada diantara ulama-ulama salaf yang melarang salawat, tentunya pelarangan ini bukan berarti menunjukkan para ulama membenci salawat, namun yang dilarang adalah sebagian jenis salawat yang memang tidak ada contohnya samasekali. Bagi para pecinta salawat, hendaknya mereka jangan terlalu terburu-buru berburuk sangka. Tundukkan akal anda terhadap dalil, kedepankan husnudzon kepada para ulama, dan yakinilah bahwa pelarangan tersebut pasti ada sebabnya, yaitu akan menimbulkan bahaya terhadap kemurnian agama serta membahayakan diri pribadi para pecinta salawat itu sendiri.

Untuk diketahui bahwa shalawat itu bermacam-macam, ada shalawat yang ada nashnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terikat waktunya seperti contoh ; salawat pada tasyahud akhir atau yang disebut juga sebagai salawat Ibrahimiyyah. Adapun salawat yang tidak terikat waktunya, maka kapan saja kita mendengar nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut, maka kita disyariatkan untuk membalasnya dengan bersalawat kepada beliau.

Kenyataan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat bahwa disana sangat banyak shalawat yang di buat-buat oleh orang-orang yang datang setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Shalawat-shalawat tersebut samasekali tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan itu merupakan hasil karya tangan-tangan mereka sendiri, hasil kreatifitas tingkat tinggi mereka. Mereka mengkhususkan waktunya, memodifikasi shalawatnya, sehingga jadilah hal tersebut menjadi perkara baru dalam agama. Diantaranya adalah salawat yang akan kita bahas nanti biidznillah.

Permasalahan yang perlu digaris bawahi adalah sudah sunnatullah bahwa akan ada kebaikan dan ada pula keburukan, akan ada kebenaran dan ada pula kebathilan, tugas kita adalah  mengikuti kebaikan dan meninggalkan keburukan. Bagaimana akan sampai kebenaran kepada para pecinta shalawat jika tidak ada keinginan kita untuk menyampaikannya? Obat itu pahit sobat tapi menyembuhkan, nasihat itu pedas saudaraku namun menyelamatkan. Begitu pula dalam permasalahan shalawat ini.  Sebagaimana ucapan orang-orang yang bijak bahwa, “Nasihat itu tanda cinta bukan benci, nasihat itu tanda persaudaraan bukan menyalahkan, demi tersampainya kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, agar kita mau mengikutinya dengan tunduk dan patuh serta pasrah semata-mata karena Allah.

PERINTAH UNTUK BERSALAWAT

Salawat adalah perkara ibadah, yang telah di perintahkan oleh Allah secara langsung dalam al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تسليما

Artinya : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab : 56)

Ayat diatas sangat jelas memerintahkan kepada kita untuk bershalawat, ini menunjukan bahwa shalawat adalah ibadah. Karena itu para salaf tidak pernah melarang kaum muslimin untuk bershalawat, apalagi anti terhadap shalawat, karena nash-nash tentang perintah untuk bershalawat sangat banyak, baik dalam al-Qur’an maupun hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Permasalahannya sekarang adalah, betapa banyak orang-orang menuduh dakwah salaf atau pengikut salaf tidak suka bersalawat, anti terhadap salawat dan lain sebagainya, padahal dia tidak mengerti hakikat  dan kenyataannya.

KEUTAMAAN SALAWAT KEPADA NABI

Dalam hadits riwayat Imam Muslim no 384, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من صلى علىّ صلاة صلى الله عليه بها عشرة

“Barangsiapa yang bersalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersalawat kepadanya 10 kali.” [HR.Muslim, no.384]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud dan yang lainnya :

لا تجعلوا قبري عيدا و صلوا علىّ ؛ فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan (untuk beribadah) dan bersalawatlah kalian kepadaku ; karena sesungguhnya salawat kalian akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada.” [HR. Abu Dawud, no.2044, Ahmad, no.8804 dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam shohih Abu Dawud, 2/383]

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

البخيل من ذكرت عنده فلم يصل علىّ

“Orang yang bakhil adalah orang yang apabila namaku di sebut di sisinya, namun dia tidak mau bersalawat kepadaku.” [HR. AT-Tiimidzi, no.3546, dan yang selainnya]

Dalam hadits Imam An Nasa-i Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إن لله ملائكة سيّاحين في الأرض يبلغوني من أمتي اليلام

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang akan berkeliling di atas bumi untuk menyampaikan kepadaku salawat dari umatku.” [HR. An-Nasa-i, no.1282, Al-Hakim, 2/421 dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam shahih An-Nasa-i, 1/274]

Adapun dalam hadits Abu Dawud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من أحد يسلم عليّ الا رد الله عليّ روحي حتى أرد عليه السلام

“Tidaklah seseorang mengucapkan salam (salawat) kepadaku kecuali Allah mengembalikan kepadaku ruhku hingga aku membalas salam atasnya.” [HR. Abu Dawud, no.2041. Dihasankan oleh Al-Albani dalam shohih Abu Dawud 1/384]

Dari penjelasan-penjelasan diatas, sangat jelas dakwah salaf atau para salafiyyun, mereka sama sekali tidak mengingkari adanya shalawat apalagi anti terhadap shalawat, bahkan mereka menetapkan adanya syariat bershalawat dan mengamalkannya dalam kehidupan, baik berdasarkan surat Al-Ahzab ayat 56 diatas,  atau berdasarkan hadits-hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam diatas, selama shalawat itu sesuai dengan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Adapaun shalawat yang tidak dicontohkan atau shalawat yang dibuat-buat sendiri oleh para pecinta shalawat, maka shalawat ini tidak boleh diamalkan dan wajib ditinggalkan, karena didalamnya mengandung banyak unsur ghuluw bahkan kesyirikan.

KAFIRNYA ORANG YANG MEMBENCI, MENOLAK, MENGEJEK ALLAH, RASUL & AYAT AYAT-NYA

Dalam aqidah ahlussunnah wal jama’ah as-salafiyah, ada yang namanya pembatal-pembatal ke Islaman, diantaranya adalah membenci agama Allah. Seandainya ada seorang muslim yang membenci syariat shalawat, maka dia bisa kafir keluar dari Islam.

Berkata Asy-Syaikh Muhammad rahimahullah pada poin ke enam kitab Nawaqidul Islam (pembatal-pembatal keislaman) :

من أبغض شيئا مما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم ولو عمل به كفر

“Barangsiapa yang membenci apa saja Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengannya (yakni, syariat) meskipun dia mengamalkannya maka dia telah kafir.”

Asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan : ((Barangsiapa yang membenci apa saja yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengannya meskipun dia mengamalkannya maka dia telah kafir)) dalilnya firman Allah Ta’ala :

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَـٰلَهُمْ

Artinya : “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad : 9) yaitu membatalkan amalan-amalan tersebut, hal ini menunjukkan bahwa membenci sesuatu dari apa saja yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat mengeluarkan seseorang dari agama Islam dan menghapuskan amalan. Karena demikian ;  pokok keimanan dan rukun-rukunnya (diantaranya) : Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, barangsiapa cacat salah satu dari rukun-rukun iman tersebut maka dia bukan mu’min. Yang dimaksudkan dengan firman Allah «كَرِهُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّه» (mereka benci apa yang diturunkan Allah) mencakup membenci al-Qur’an dan mencakup pula membenci as-Sunnah yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Nawaqidul Islam, Syarh Asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan, (hal.111) Maktabah Ar-Rusd]

Adapun dari poin ke tujuh dari pembatal-pembatal keislaman yaitu mengolok-olok agama Allah. Barangsiapa yang mengolok-olok syariat shalawat misalnya, maka dia bisa kafir keluar dari Islam.

Berkata Asy-Syaikh Muhammad rahimahullah dalam kitabnya Nawaqidul Islam :

من استهزأ بشيء من دين الرسول صلى الله عليه و سلم أو ثوابه او عقابه كفر، و الدليل قوله تعالى : «قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ. لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَـٰنِكُم

“Barangsiapa yang mengolok-olok sesuatu dari agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengolok-olok pahala dan hukuman maka dia telah kafir. Dalilnya firman Allah Ta’aala : Artinya : “Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah kamu beriman.” (QS. At-Taubah : 65-66)” [Nawaqidul Islam, Syarh Asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan, (hal.128-129). Maktabah Ar-Rusd]

Berkata Asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan dalam syarahnya :

“Ini adalah bab yang sangat agung, dan bab yang sebelumnya ((Barangsiapa yang membenci sesuatu dari apa-apa yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengannya)), membenci dan tidak senang merupakan amalan hati, adapun mengolok-olok maka itu merupakan ucapan lisan.

Sebab turunya ayat yang mulia ini bahwasannya dahulu kelompok kaum muslimin mereka berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan tabuk kemudian mereka berkumpul dalam sebuah majelis maka berbicaralah salah seorang dari mereka dan ia mengatakan : “Kami tidak melihat orang yang semisal pembaca al-Qur’an kami, mereka adalah yang paling rakus ketika makan dan yang paling dusta lisannya dan yang paling pengecut ketika bertemu musuh. Yang mereka maksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan di dalam majelis tersebut ada seorang pemuda dari kalangan Anshor dikatakan dia bernama ‘Auf bin Malik dan berkata dia kepada laki-laki tersebut : kamu berdusta, akan tetapi kamu adalah orang munafik, sungguh aku akan mengabarkan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dia berdiri sembari pergi menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengabarkannya, tapi dia mendapati bahwasannya wahyu telah mendahuluinya dan telah turun kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah Jalla wa ‘Alaa telah mengabarkan tentang apa yang mereka katakan di majelis mereka tersebut, atau apa yang salah seorang diantara mereka katakan, dan sisa dari mereka (di majelis tersebut) tidak mengingkari hal itu. Tatkala turun wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa salam berpindah dari tempatnya dan mengendarai tunggangannya, (yaitu) ketika sampai kepadanya ucapan yang keji tersebut. Kemudian datanglah laki-laki yang mengucapkan hal itu mengemukakan alasannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja, kami sedang membicarakan pembicaraan para kafilah agar kami mengilangkan (keletihan kami) selama perjalanan dengan pembicaraan tersebut dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memperdulikannya, dan dia tergantung (terseret) di tali pelana unta betina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memperdulikannya, dan tidaklah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam  menambah (berbicara) selain membacakan ayat :

أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ. لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَـٰنِكُمْ

Artinya : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah : 65-66). Ini merupakan dalil bahwasannya mereka dahulu orang-orang mu’min bukan orang-orang munafik, hal ini menunjukan bahwa barangsiapa yang mengolok-olok Allah, Rasul-Nya atau mengolok-olok apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh dia kafir setelah dia beriman dan keluar dari Islam. Inilah inti sari dari ayat ini, apabila seandainya dahulu sebelum mereka mengucapkan (ucapan) tersebut mereka itu munafik, maka tentu tidak dikatakan «قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَـٰنِكُم» (Sungguh kamu telah kafir sesudah kamu beriman), karena orang-orang munafik bukan orang-orang  mu’min secara asal dan tidak dinamakan juga sebagai orang-orang mu’min, bahkan dinamakan dengan orang-orang munafik, dan sungguh Allah Jalla wa ‘Alaa telah berfirman dalam ayat yang lain tentang orang-orang munafik :

وَلَقَدْ قَالُوا۟ كَلِمَةَ ٱلْكُفْرِ وَكَفَرُوا۟ بَعْدَ إِسْلَـٰمِهِم

ْArtinya : “Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam.” (QS. At-Taubah : 74), dan Allah tidak mengatakan setelah mereka beriman.” [Nawaqidul Islam, Syarh Asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan, (hal.128-129). Maktabah Ar-Rusd]

Dari kisah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa menolak satu huruf dari al-Quran bisa kafir, menolak satu ayat yang memerintahkan untuk bershalawat, juga bisa kafir, karena al-Qur’an diturunkan untuk diimani dan diamalkan. Karena itu ayat 56 surat Al-Ahzab diatas dengan tegas memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi, bahkan Allah sendiri bershalawat kepada Nabi yakni memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapan malaikat, lantas kita mengingkarinya? Maka orang yang seperti ini sama saja mengingkari al-Qur’an. Padahal mengingkari satu huruf saja dari al-Qur’an bisa menyebabkan pelakunya kafir keluar dari Islam berdasarkan ijma’ para ulama.

SALAWAT YANG DIPERBOLEHKAN DAN DICONTOHKAN

Sebagaimana telah kita sebutkan bahwa shalawat itu ada yang dicontohkan dan ada pula yang tidak dicontohkan. Diantara salawat yang dicontohkan yaitu shalawat dalam tasyahud akhir atau shalawat Ibrahimiyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dengan lafadz :

اللهم صل على محمد و على آل محمد، كما صليت على إبراهيم و على آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد و على و على آل محمد، كما باركت على إبراهيم و على آل إبراهيم، إنك حميد مجيد

“Ya Allah berilah salawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau bersalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan barokatilah Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkati Nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [H.R. Al-Bukhari no.337, Muslim no.406]

Berkata Asy-Syaikh Abu ‘Abdirrahman bin Yahya bin ‘Ali al-Hajuri :

“Diantara sebaik-baik bentuk salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu apa yang datang dari hadits Abu Mas’ud al-Badari radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Basyir bin Sa’id berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Allah telah memerintahkan kami agar bersalawat kepadamu wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bersalawat kepadamu?” Nabi bersabda :

قولوا اللهم صل على محمد و على آل محمد، كما صليت على آل إبراهيم، و بارك على محمد و على آل محمد، كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

“Katakan ya Allah berikanlah salawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau bersalawat kepada keluarga Nabi Ibrahim, dan barokatilah Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkati keluarga Nabi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [HR.Muslim, lihat juga Al-Mabaadi’ Al-Mufiid fiit Tauhiid wal Fiqh wal ‘Aqiidah, hal.45. Daarul Atsaar]

Ini sebagian kecil dari contoh shalawat yang ada nashnya dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seorang muslim yang melaksanakan sholat lima waktu maupun sholat-sholat sunnah rawatib, ketika dia membaca doa tasyahud terakhir, hakikatnya dia telah bersalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan shalawat yang dicontohkan.

SALAWAT YANG DILARANG DAN TIDAK DICONTOHKAN

Banyak shalawat-shalawat yang dilarang oleh syariat karena mengandung unsur-unsur ghuluw (berlebih-lebihan), atau mengandung unsur syirik. Diantara salawat yang dilarang dan tidak dicontohkan adalah shalawat berikut :

…يارَبِ باِلْمُصْطَفَى بَلِغْ مَقَاصِدَنَا وَغْفِرْلَنَ

“Ya Allah dengan perantara orang yang terpilih (yakni, Nabi Muhammad) sampaikanlah tujuan kami dan ampunilah kami…”

TINJAUAN LAFADZ SHALAWAT DIATAS BERDASARKAN QOIDAH BAHASA ARAB

1. Huruf ب bermakna doa

Dalam bahasa arab, huruf ب memiliki banyak makna, tapi dalam salawat diatas, huruf ب hanya memiliki dua makna, jika bukan bermakna do’a berarti bermakna sumpah. Dalam al-Qur’an, huruf ب yang bermakna do’a sangat banyak kita jumpai karena banyak disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla sendiri diantaranya seperti lafazd basmallah yang di ucapkan oleh para Nabi sebagai do’a. Allah berfirman :

وَقَالَ ٱرْكَبُوا۟ فِيهَا بِسْمِ ٱللَّهِ مَجْر۪ىٰهَا وَمُرْسَىٰهَآ ۚ إِنَّ رَبِّى لَغَفُورٌۭ رَّحِيمٌ

Artinya : “Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Hud : 41)

Kata «بِسْمِ ٱللَّه» pada ayat diatas mengandung do’a.

Demikian juga dengan firman Allah yang lain :

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Artinya : “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS.An-Naml : 30)

Lafadz «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ» pada ayat diatas bermakna do’a, dimana Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berdoa kepada Allah meminta pertolongan dan keberkahan dengan nama-Nya.

Atau firman Allah pada awal-awal surat dalam al-Qur’an, seperti :

«بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ»

Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Semua ayat-ayat diatas bermakna do’a, itulah sebabnya kenapa para ulama setiap menulis kitab, maka di awal-awal kitabnya⁰ mereka selalu memulai dengan lafadz basmalah, karena mereka hendak meminta pertolongan kepada Allah dan meminta keberkahan dengan nama-nama-Nya yang mulia. Berkata Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin dalam syarah kitab Lum’atul I’tiqod karangan Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah :

معنى «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» : أى أفعل الشيء مستعينا و متباركا بكل اسم من أسماء الله تعالى الموصوف بالرحمة الواسعة

“Makna «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» yaitu mengerjakan sesuatu dalam rangka meminta pertolongan dan meminta keberkahan dengan setiap nama dari nama-nama Allah Ta’ala yang disifati (nama-nama tersebut) dengan rahmat yang luas.” [Syarh Lum’atil I’tiqod, Asy-Syaikh Muhammad hal.12. Pustaka Daarul Kutub Al-‘Ilmiyyah]

Dalam shalawat yang kita sebutkan diatas, terdapat huruf ب pada kata «باِلْمُصْطَفَى» dan huruf ب ini bermakna doa atau bermakna sumpah. Jika salawat ini bermakna doa, maka arti salawat ini :

….يَا رَبِ باِلْمُصْطَفَى بَالِغْ مَقَاصِدَنَا وَغْفِرْلَنَا

“Ya Allah dengan perantara orang yang terpilih (yakni l, Nabi Muhammad) sampaikanlah tujuan kami dan ampunilah kami…”

Dengan demikian orang yang bershalawat dengan shalawat diatas, hakikatnya dia telah meminta kepada Allah melalui perantara orang yang sudah meninggal yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah adalah Dzad yang tidak butuh perantara, bahkan yang mereka jadikan perantara, mereka juga mencari jalan agar dekat kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman :

أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًۭا

Artinya : “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS.Al-Isra : 57)

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya : “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS.Ghofir : 60)

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًۭا مِّنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Artinya : “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS.Yunus : 106)

Allah Ta’ala juga berfirman :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌۭ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًۭا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْـًۭٔا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلْمَطْلُوبُ

Artinya : “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS.Al-Hajj : 73)

Allah Ta’ala berfirman :

مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلْعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتْ بَيْتًۭا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ ٱلْبُيُوتِ لَبَيْتُ ٱلْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُون

Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS.Al-Ankabut : 41)

Allah Ta’ala juga berfirman :

«وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ»

Artinya : “Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS.Fathir : 13)

Allah Ta’ala berfirman :
 

فَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ فَتَكُونَ مِنَ ٱلْمُعَذَّبِينَ

Artinya : “Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.” (QS.Asy-Syu’ara : 213)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah :

“Sesungguhnya Allah tidak rela disekutukan bersama-Nya seorangpun dalam beribadah kepada-Nya, tidak malaikat yang di dekatkan dan tidak pula Nabi yang diutus.” [Syarh Al-Ushuul Ats-Tsalaatsah, hal.20. Pustaka Daarul Kutub Al-‘Ilmiyyah]

Artinya, Nabi dan Malaikat yang dekat dengan Allah saja tidak layak di sekutukan dengan Allah apalagi selain keduanya? Maka pikirkanah wahai para pecinta shalawat. Masih banyak lagi ayat-ayat serta hadits dan juga atsar-atsar yang semisal dengan ayat-ayat diatas, yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah baik langsung atau melalui perantara semua ini termasuk syirik, sedangkan syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS.Lukman : 13)
Allah juga berfirman :
 

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ

Artinya : “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS.Al-Maidah : 72)

Serta masih banyak ayat-ayat lainnya yang semisal dengan ini.

2. Huruf ب bermakna sumpah

Jika pada salawat diatas huruf ب pada kata «باِلْمُصْطَفَى» bermakna sumpah, maka arti shalawat diatas :

….يَا رَبِ باِلْمُصْطَفَى بَلِغْ مَقَاصِدَنَا وَغْفِرْلَنَا

“Ya Allah demi orang yang terpilih (yakni, Nabi Muhammad) sampaikanlah maksud kami dan ampunilah kami…”

Telah kita ketahui bahwa bersumpah dengan nama selain Allah tidak boleh dilakukan karena perbuatan itu merupakan keharaman dan merupakan perbuatan syirik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu :

من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك

“Siapa yang bersumpah dengan Nama selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR.At-Tirmidzi dan dia menghasankannya dan di shahihkan oleh Al-Haakim). [Fathul Majiid, Syarh Kitaabit Tauhid, (hal.413). Pustaka Daarul Kutub al ‘Ilmiyyah]

Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

لأن أحلف بالله كاذبا أحب إلي من أن أحلف بغير الله صادقا

“Sungguh bersumpah dengan nama Allah tapi dusta lebih aku cintai dari pada bersumpah dengan selain Allah tapi jujur.” [Fathul Majiid, Syarh Kitaabit Tauhiid, (hal.414) Pustaka Daarul Kutub al ‘Ilmiyyah]

Berkata Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh menjelaskan ucapan Ibnu Mas’ud diatas :

ومن المعلوم أن الحلف بالله كاذبا كبيرة من الكبائر، لكن الشرك أكبر من الكبائر. وإن كان أصغر، كما تقدم بيان ذلك، فإذا كان هذا حال الشرك الأصغر. فكيف بالشرك الأكبر الموجب للخلود في النار؟ كدعوة غير الله والاستغاثة به…

“Diantara yang telah diketahui bahwa bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan dusta termasuk dosa besar diantara dosa-dosa besar, akan tetapi kesyirikan merupakan dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar meskipun hanya syirik kecil, sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Apabila seperti ini keadaan syirik kecil, lalu bagaimana dengan syirik besar? Seperti berdoa kepada selain Allah, beristighotsah kepada selain Allah…” [Fathul Majiid, Syarh Kitaabit Tauhiid, (hal.414) Pustaka Daarul Kutub al ‘Ilmiyyah]

Hukum bersumpah dengan nama selain Allah terbagi menjadi dua, Syirik besar atau syirik kecil. Berkata para ulama :

“Bersumpah dengan nama selain Allah kadang-kadang syirik besar dan kadang-kadang syirik kecil, tergantung i’tiqod hati orang yang bersumpah. Kadang-kadang yang di sumpahi selain Allah diagungkan seperti mengagungkan Allah atau lebih besar lagi, dan ini syirik besar yang dapat mengeluarkan dari Agama Islam, dan kadang-kadang tidak dalam rangka pengagungan, hanya saja sumpah itu mengalir begitu saja dari lisannya seperti bersumpah dengan kesetiaan, bersumpah dengan persaudaraan..” [Tuhfatul Muriid Syarh al-Qoul al-Mufiid. Asy-Syaikh Nu’man bin ‘Abdil Karim, hal.101. Maktabah Al-Irsyad]

Dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
 

ألا إن الله عز و جل ينهاكم أن تحلفوا بآبائكم، فمن كان حلفا فليحلف بالله أو ليصمت

“Ketahuilah bahwasanya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian, barangsiapa yang bersumpah, maka bersumpahlah dengan nama Allah atau hendaklah dia diam.” [HR.Al-Bukhari Muslim, dalam Tuhfatul Muriid Syarh al-Qoul al-Mufiid. Asy-Syaikh Nu’man bin ‘Abdil Karim. hal.101-102. Maktabah Al-Irsyad]

Dari Ibnu ‘Umar ia berkata, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كان حالفا فلا يحلف إلا بالله أخرجه مسلم

“Barang siapa yang bersumpah maka janganlah dia bersumpah kecuali dengan nama Allah.” [Dikeluarkan oleh Muslim, lihat juga Tuhfatul Muriid Syarh al-Qoul al-Mufiid. Asy-Syaikh Nu’man bin ‘Abdil Karim. hal.102. Maktabah Al-Irsyad]

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من حلف منكم فقال في حلفه : بالات والعزى فليقل : لا إله إلا الله. أخرجه البخاري و مسلم

“Barangsiapa diantara kalian yang bersumpah dan dia berkata dalam sumpahnya : Demi Laata dan ‘Uzza maka katakanlah : Tidak ada sesembahan yang berhak di sembah dengan benar kecuali Allah.” [Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, lihat juga Tuhfatul Muriid Syarh al-Qoul al-Mufiid. Asy-Syaikh Nu’man bin ‘Abdil Karim. hal.102. Maktabah Al-Irsyad]

Karena itu jangan sampai kita terpeleset dalam kubangan kesyirikan akibat do’a atau bersumpah dengan nama selain Allah, baik dalam shalawat-salawat yang penuh dengan kesyirikan dan kebid’ahan, maupun dalam amalan-amalan lain yang tidak dicontohkan.

Sebagai penutup, mari kita bertaubat kepada Allah dan kembali kepadanya. Menjauhi segala bentuk kesyirikan dan kebid’ahan yang marak ditengah-tengah masyarakat, terutama dalam shalawat-shalawat yang dilagukan ditelevisi, di kampung-kampung, di masjid-masjid, di pesantren dan lain sebagainya, yang sebagian besar shalawat-shalawat tersebut mengandung unsur ghuluw (berlebih-lebihan), baik dalam memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengkultuskannya, bahkan parahnya sampai-sampai mereka memposisikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke derajat Allah, tetapi mereka tidak menyadarinya, waliyaadzubillah. Diantara shalawat yang banyak kita dengar diantaranya seperti lafadz anta nuurun fauqo nuurin (engkau -yakni Nabi Muhammad- adalah cahaya diatas cahaya), waliyaadzubillah. Bukankah cahaya diatas cahaya itu adalah Rabb kita Allah ‘Azza wa Jalla bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah :

ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍۢ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌۭ دُرِّىٌّۭ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍۢ مُّبَـٰرَكَةٍۢ زَيْتُونَةٍۢ لَّا شَرْقِيَّةٍۢ وَلَا غَرْبِيَّةٍۢ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۭ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍۢ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَـٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

Artinya : “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur : 35)

Dan masih banyak pula salawat-salawat yang mengandung unsur kesyirikan, hanya saja para pecinta shalawat sama sekali tidak faham makna salawat yang dia ucapkan, waliyaadzubillah atau mereka faham, tapi mereka tetap melafadzkannya dan merutinkannya karena mengakarnya kebid’ahan dan kesyirikan pada amal perbuatan mereka. Mari  kita terus gencarkan dakwah tauhid, karena kesyirikan dan kebid’ahan semakin merajalela ditengah-tengah masyarakat.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

***

Repost, Sidayu – Gresik,  : 27 Shofar 1445 H/13 November 2023

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had al-Furqon al-Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Belum Ada Judul
MANHAJ

Belum Ada Judul

18 April 2026
Umat Islam Terpecah menjadi 73 Golongan
MANHAJ

Umat Islam Terpecah menjadi 73 Golongan

9 Mei 2026
MANHAJ

Rincian Hukum Nasyid

22 Desember 2025
Bahaya Candu Musik dan Cinta Kepada Para Musisi Beserta Obatnya
MANHAJ

Bahaya Candu Musik dan Cinta Kepada Para Musisi Beserta Obatnya

4 April 2026
Haramnya Musik dan Nyanyian
MANHAJ

Haramnya Musik dan Nyanyian

19 Februari 2024
Hak Pemimpin di Dalam Syariat Islam
MANHAJ

Hak Pemimpin di Dalam Syariat Islam

19 Februari 2024
Next Post

Peduli dengan Janda Secara Syar'i

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Angkatlah Do’amu di Hari Arafah
  • Puasa Awal Dzulhijjah
  • Kambing 1,7 Tahun Belum Powel
  • Biografi Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdan

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp