Ana daftar haji reguler, insyaa Alloh 2029 berangkat. Tp ada ipar ana bilang sekarang biaya haji reguler sudah tercampur riba. Dikarenakan ada hasil nilai manfaat dana haji yang dikembangkan (oleh pemerintah) dari berbagai muamalah yang tidak syar’i, yang nanti hasil nilai manfaat tersebut tujuanya untuk menutup kekurangan biaya calon jamaah haji. Jadi menyarankan untuk tidak berangkat haji lewat reguler.
Afwan pendapat Antum bagaimana ya Ustadz?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Harta yang didapatkan dengan cara bermuamalah yang haram hanya haram atas pelakunya saja.
Ulama terkemuka Muhammad Aliys Al Maliky berkata :
واختلف في المال المكتسب من حرام، كربا ومعاملة فاسدة، إذا مات مكتسبه عنه: فهل يحل للوارث؟ وهو المعتمد، أم لا؟ وأما عين الحرام المعلوم مستحقه، كالمسروق والمغصوب: فلا يحل له
“Dan harta yang diperoleh dengan cara bermuamalah yang haram diperselisihkan seperti riba dan muamalah yang rusak, jika pemiliknya mati apakah halal bagi ahli waris (dan ini pendapat yang dipilih) atau tidak?
Dan adapun harta haram yang jelas pemiliknya seperti barang curian dan rampasan maka ini tidak halal untuk ahli warisnya.” (Lihat Minhah Jalil syarh Mukhtashor Kholil 2/416).
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
قال بعض العلماء: ما كان محرما لكسبه، فإنما إثمه على الكاسب لا على من أخذه بطريق مباح من الكاسب، بخلاف ما كان محرما لعينه، كالخمر والمغصوب ونحوهما، وهذا القول وجيه قوي، بدليل أن الرسول صلى الله عليه وسلم اشتري من يهودي طعاما لأهله، وأكل من الشاة التي أهدتها له اليهودية بخيبر، وأجاب دعوة اليهودي، ومن المعلوم أن اليهود معظمهم يأخذون الربا
“Sebagian ulama berkata : yang haram karena cara memperolehnya maka hanya haram atas pelakunya saja, tidak haram atas yang bermuamalah dengannya dengan cara yang benar.
Ini berbeda dengan harta yang haram secara dzat seperti khomr, rampasan, dll. Dan pendapat ini sangat kuat berdasarkan dalil bahwa Rasul ﷺ membeli makanan dari seorang Yahudi untuk istrinya, beliau memakan hadiah kambing dari wanita Yahudi di khoibar, memenuhi undangan Yahudi, dan yang sudah maklum bahwa umumnya mereka bermuamalah dengan cara riba.” (Lihat Qoul Mufid 3/112).
Diriwatakan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan :
“كان لأبي بكر غلام يخرج له الخراج وكان أبو بكر يأكل من خراجه فجاء يوماً بشيء فأكل منه أبو بكر فقال له الغلام: أتدري ما هذا؟. فقال أبو بكر: وما هو؟. قال: كنت تكهنت لإنسان في الجاهلية وما أحسن الكهانة، إلا أني خدعته فلقيني فأعطاني بذلك، فهذا الذي أكلت منه فأدخل أبو بكر يده فقاء كل شيء في بطنه”. (رواه البخاري 9/422)
“Dahulu Abu Bakar mempunyai seorang budak laki-laki yang bekerja untuk Beliau. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memakan dari hasil yang didapat oleh sang budak itu.
Suatu ketika, sang budak datang membawa makanan. Abu Bakar lantas memakan sebagiannya. Sang budak berkata; tahukah engkau dari mana saya mendapatkan makanan itu?
Abu Bakar berkata: “Dari mana?”. Sang budak berkata: dimasa jahiliyyah pernah saya meramal seorang, dan ramalan saya amatlah baik. Namun ketika itu, saya telah menipunya Dan dari situlah ia memberiku imbalan. Maka sesuatu yang engkau makan berasal darinya.
Mendengarnya, Abu Bakar memasukkan tangannya ke mulutnya dan memuntahkan seluruh yang telah dimakannya itu.” (HR. Bukhari 3842)
Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :
وأبو بكر : أول من قاء من الشبهات ، تحرجا
“Dan Abu Bakar adalah orang pertama memuntahkan makanan dari hasil syubhat karena merasa tidak enak kepada Allah.” (Lihat Kasyful Musykil 1/26).
Jadi intinya adalah diperbolehkan, namun jika mau meniru Abu Bakr radhiyallahu anhu maka ini tentunya lebih afdhal.
Semoga bermanfaat.
***
Pangkalan Bun, Malam Sabtu 1 Dzulhijjah 1445 H / 7 Juni 2024 M
dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






