Bismillahi Rabbil ‘Alamin Wassholatu Wassalaamu ‘ala Rasulillahil Amin.
Hati bagaikan poros inti dalam anggota badan, keinginannya bisa menguat hingga mendominasi seluruh anggota badan, terkadang dominasi tersebut dapat menghasilkan kebaikan dan terkadang juga sebaliknya, dan di antara penyakit hati yang dapat faktor ia mendominasi seluruh anggota badan hingga pikiran yang akan melahirkan keburukan dan kemelaratan adalah angan-angan yang panjang terhadap dunia hingga akhirat terlupakan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang peran hati bagi anggota badan:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Artinya : “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Allah ‘Azza wa Jalla memberikan batasan pada pemikiran manusia hingga ketika batasan itu mulai dilewati maka sering kali akan melahirkan kecemasan, kegundahan dan kegelisahan yang berkepanjangan. Seperti rasanya seseorang yang memikirkan masa depannya 20 tahun mendatang, bagaimana jadinya ia kelak, siapakah teman-temannya, apakah ia tetap dikenal baik, dan seterusnya dari pertanyaan-pertanyaan masa depan yang ia pikirkan.
Dalam surat Al Hadid ayat 16, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang keras hamba-hamba-Nya yang beriman untuk tidak menyerupai kebiasaan ahlul kitab yaitu kaum yang dibinasakan dan mengatakan fasik bagi orang-orang yang angan-angannya panjang dan lupa akan akhirat kehidupan yang kekal abadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ
Artinya : “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al Hadid: Ayat 16)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ
Artinya: “Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR. al-Bukhari no. 6420).
Orang tua adalah orang yang telah lama menjalani kehidupan di dunia, merasakan berbagai macam pengalaman hidup, tak terhitung pelajaran yang ia dapatkan. Namun yang demikian tidak membuatnya terlepas dari angan-angan yang panjang, itu semua lahir dari kecintaan yang sangat besar pada dunia.
Angan-angan yang panjang mestinya menimpa siapa saja, dunia dengan gemerlap dan tipuannya seakan mendorong hal itu, kehidupan orang-orang kafir yang sangat gemerlap layaknya seorang raja sangat memotivasi manusia untuk berangan-angan. Tidak ada yang dapat menyadari kecuali keimanan kepada Allah, kesadaran bahwa kehidupan dunia sangat sebentar, pemahaman bahwa kematian begitu mendadak kedatangannya, mengerti bahwa kehidupan akhirat adalah tempat kembali yang abadi. Dan hati yang menyadari akan hal itu adalah hati yang khusyuk kepada-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Hadid Ayat 16 di atas.
Semoga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang memiliki hati yang khusyuk, menyadari hal-hal yang dapat membahayakan perjalanan kehidupan kita menuju tempat yang kekal abadi, dan semangat melakukan amal ibadah sebagai tabungan dan manfaat yang akan kita petik di kehidupan mendatang. aamiin.
***
Surabaya, Sabtu, 18 Rabiul Akhir 1446 H/ 21 Oktober 2024
Penulis : Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel : Meciangi.or.id






