Apakah kalau sudah lebih dari 4 hari tinggal, sesorang sudah dikatakan mukim? (Agus Nurrahmat dari Bojonegoro)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد
Jika musafir ketika sampai tempat tujuan dia berniat mukim di sana maka saat itu hukum safar dia telah terputus sehingga dia wajib menyempurnakan sholatnya.
Ibnu Abdul Barr rahimahullah berkata :
لا أعلَمُ خلافًا فيمَن سافَرَ سفَرًا يَقصُرُ فيه الصلاةَ لا يَلزَمُه أنْ يُتِمَّ في سفَرِه، إلَّا أنْ يَنويَ الإقامةَ في مكانٍ من سَفرِه، ويُجمِع نيَّتَه على ذلك
“Saya tidak tahu ada khilaf bagi musafir safar qoshor, bahwa dia tidak wajb menyempurnakan sholatnya selama safarnya, kecuali dia berniat mukim di tempat safarnya.” (Lihat Istidzkar 2/242).
Adapun jika dia tidak berniat mukim maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini karena memang tidak ada nash yang memutuskan perkara ini.
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
هذه المسألةُ من مسائلِ الخلافِ التي كثُرَت فيها الأقوالُ، فزادَتْ على عشرينَ قولًا لأهلِ العِلم، وسببُ ذلك أنَّه ليس فيها دليلٌ فاصلٌ يَقطَعُ النزاعَ؛ فلهذا اضطَرَبَت فيها أقوالُ أهلِ العِلم
“Masalah ini termasuk masalah khilaf yang banyak sekali pendapatnya, bahkan ada 20 pendapat dari para ulama, sebabnya adalah tidak adanya dalil yang bisa memutus perselisihan ini, oleh karena itu pendapat para ulama tidak ada yang paten.” (Lihat Syarh Mumti’ 4/374).
Jumhur Ulama memandang jika seseorang tinggal di suatu tempat melebihi 4 hari maka dia sudah masuk hukum mukim dan tidak bisa mengqoshor sholatnya lagi.
Ibnu Abdul Barr rahimahullah dari kalangan Malikiyah berkata :
واختلفوا في مدَّة الإقامة؛ فقال مالكٌ، والشافعيُّ، والليثُ، والطبريُّ، وأبو ثور: إذا نوى إقامة أربعة أيَّام أتمَّ، وهو قول سعيد بن المسيَّب
“Dan mereka berbeda pendapat tentang jangka waktu bermukim, maka Malik, Syafi’i, Laits, Thabari dan Abu Tsaur berkata : jika dia berniat bermukim 4 hari maka dia sempurnakan sholat (4 rakaat) dan ini adalah pendapat Sa’id bin Musayyib.” (Lihat Tamhid 11/181).
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :
ومذهَبُ الحنابِلةِ أنَّه إذا نَوى الإقامةَ أكثَرَ من أربعةِ أيامٍ انقطَعَ سفَرُه، قالوا: لأنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قدِمَ مكةَ في حَجَّة الوداعِ لصُبحِ رابعةٍ، فأقامَ اليومَ الرابعَ، والخامسَ، والسادسَ، والسابعَ، وصلَّى الفَجرَ بالأبطَحِ يومَ الثامنِ، فكان يَقصُرُ الصلاةَ في هذه الأيَّامِ، وقد أجمَع على إقامتِها، فهذا يدُلُّ على أنَّ مَن أقامَ ما يَزيدُ على أربعةِ أيَّام أتمَّ
“Dan madzhab hambali dalam masalah ini bahwa jika dia berniat bermukim lebih dari 4 hari maka safarnya terputus, mereka berkata: karena Nabi ﷺ datang ke mekkah untuk haji wada’ sejak subuh 4 dzulhijjah, maka beliau mukim hari ke 4, 5, 6, 7 dan sholat subuh di Abthah hari ke 8 di mana beliau menqoshor sholat pada hari hari ini, dan semua telah ijma bahwa ini adalah masa mukimnya beliau, dan hal ini menunjukan bahwa yang lebih dari 4 hari maka dia menyempurnakan sholatnya.” (Lihat Al Mughni 2/212)
Pendapat kedua mengatakan dia masih boleh menqoshor sholatnya sampai 19 hari.
Ibnu Mualqqin rahimahullah berkata :
تسعةَ عَشَرَ يومًا، وهو الصَّحيحُ عن ابنِ عَبَّاسٍ كما مَرَّ، قاله إسحاقُ، كما نقله الترمذيُّ عنه، وهو أحدُ أقوالِ الشافعيِّ، وهو القويُّ عندي، وبه أُفتي؛ لأنَّ البابَ بابُ اتِّباعٍ، وهذا أصَحُّ ما ورد فلا يُعدَلُ عنه
“19 hari dan ini yang shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma sebagaimana yang telah lewat, ini pendapat Ishaq Rohawaih sebagaimana dinukil oleh Tirmidzi dan ini adalah salah satu pendapat Syafi’i dan ini yang kuat menurutku dan aku berfatwa dengannya, karena masalah ini adalah masalah ittiba’ mengikuti, dan ini adalah riwayat yang paling shahih sehingga tidak boleh meninggalnya.” (Lihat Taudhih Syarh Jami’ Shahih, Ibnu Mulaqqin 8/431).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata :
أَقَامَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ، فَنَحْنُ إذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا، وإنْ زِدْنَا أتْمَمْنَا
“Nabi ﷺ bermukim 19 hari menqhosor sholatnya, maka kami jika safar 19 hari kami menqoshor, jika lebih dari itu kami menyempurnakan sholat.” (HR. Bukhari 1080).
Sehingga tidak perlu ada saling mengingkari menghadapi masalah ini dan saya pribadi lebih condong kepada pendapat kedua karena dicontohkan oleh sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang pendapat ini juga dipilih oleh syeikh Utsaimin rahimahullah.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
هذه المسألة فيها نزاع بين العلماء منهم من يوجب الإتمام ومنهم من يوجب القصر والصحيح أن كلاهما سائغ فمن قصر لا ينكر عليه ومن أتم لا ينكر عليه
“Masalah ini terjadi perselisihan di antara para ulama, ada yang mewajibkan penyempurnaan dan ada yang mewajibkan qoshor, dan yang shohih adalah keduanya pendapat yang dianggap, sehingga yang menqoshor tidak perlu diingkari begitu pula yang menyempurnakan.” (Lihat Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 24/18).
***
Jember, Senin 9 Jumadil Ula 1446 H/11 November 2024 M.
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






