1. Terkait i’tikaf 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Apabila seorang karyawan pada bulan Ramadhan masuk jam 08.00-15.00.
Jika ingin i’tikaf, apakah boleh hanya malam saja? (Iqbal dari Lamongan).
2. Tidak harus syarat (masjidnya) dipakai sholat Jumat Ustadz? (Fajar dari Jember)
3. Tidak harus (masjidnya dari) tanah wakaf juga Ustadz? Jazakallahu khairan. (Rizqi Al Albi)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
I’TIKAF adalah ibadah yang sangat diperintahkan.
Dari Aisyah radhiyallahu Anha :
أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان يعتكفُ العَشرَ الأواخِرَ من رمضانَ حتَّى توفاه الله، ثم اعتكف أزواجُه من بعده
“Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah beritikaf 10 hari yang terakhir Ramadhan sampai Allah wafatkan, kemudian para istrinya I’TIKAF setelahnya.” (HR. Bukhari 2026 dan Muslim 1172).
Sehingga orang yang I’TIKAF hendaknya menetapi tempat I’TIKAF dia dan memperbanyak ibadah, dzikir, tilawah dan ketaatan di tempatnya tersebut dan tidak memperbanyak berbincang-bincang.
Akan tetapi kalau seandainya ada istri atau kawannya yang mengunjunginya maka tidak mengapa dia berbincang sesaat.” (Lihat Majmu Fatawa bin Baz 15/440).
Kemudian kapan seseorang mulai masuk masjid untuk I’TIKAF?
Jumhur ulama memandang bahwa seseorang masuk I’TIKAF sebelum terbenamnya matahari malam 21 Ramadhan.
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
جمهور أهل العلم على أن ابتداء الاعتكاف من ليلة إحدى وعشرين لا من فجر إحدى وعشرين ، وإن كان بعض العلماء ذهب إلى أن ابتداء الاعتكاف من فجر إحدى وعشرين
“Jumhur ulama berpendapat bahwa awal masuk I’TIKAF adalah dari malam 21 bukan setelah waktu fajar 21 walaupun sebagian ulama berpendapat I’TIKAF dimulai dari waktu fajar 21.” (Lihat Fatawa Siyam 501).
Lantas bagaimana jika seseorang tidak bisa maksimal untuk I’TIKAF karena terikat kerja?
Orang yang terikat kerja maka dia beribadah semampunya karena ada kewajiban yang wajib dia tunaikan, sedangkan ibadah i’TIKAF hukumnya adalah sunnah tidak wajib.
Sehingga jika dia hanya mampu I’TIKAF sesaat saja maka itu yang dia lakukan tidak perlu memaksa sampai harus meninggalkan kewajiban pokoknya.
Imam Nawawi rahimahullah berkata :
الصَّحيحُ المنصوص الذي قطع به الجمهورُ: أنه يشتَرَطُ لُبثٌ في المسجِدِ، وأنه يجوز الكثيرُ منه والقليلُ حتى ساعة أو لحظة
“Yang benar yang dipatenkan jumhur ulama adalah disyaratkan berdiam di masjid, boleh lama dan boleh sebentar walaupun hanya sesaat atau sekejap.” (Lihat Al Majmu Nawawi 6/480).
Bahkan Syeikh Utsaimin rahimahullah memandang haram bagi para pekerja meninggalkan pekerjaannya demi I’TIKAF, apalagi sampai berbohong jika ada urusan darurat supaya diizinkan untuk tidak bekerja hanya demi bisa ikut I’TIKAF.
ولكن إذا شغل عن ما هو أهم فإنه يترك لو شغل الإنسان عن وظيفة واجبة عليه إنسان موظف وقال إني أريد أن أعتكف وأترك الوظيفة فهذا حرام
Akan tetapi jika I’TIKAF ini menyibukkannya dari perkara yang lebih penting maka hendaklah dia tinggalkan (I’TIKAF nya).
Kalau I’TIKAF menyibukkan seseorang dari tugas wajibnya dan dia berkata saya ingin I’TIKAF dan saya tinggalkan pekerjaan ini maka ini haram hukumnya.
طيب لو كان اعتكافه يؤدي إلى قطيعة لرحمه أو عقوق لوالديه مثل أن يكون له والدان مريضان يحتاجان إلى تمريض يحتاجان إلى أن يذهب بهما إلى المستشفى أو يجلس عندهما في المستشفى فهل نقول اعتكف ودع هؤلاء أو نقول اترك الاعتكاف؟
Ok, kalau I’TIKAF nya menyebabkan putusnya silaturahim atau durhaka kepada orang tua seperti orang tua sedang sakit dan butuh perawatan atau yang mengantarkannya ke rumah sakit apakah kita katakan tinggalkan saja orang tua atau tinggal kan I’TIKAF nya?
نقول اترك الاعتكاف الاعتكاف سنة
“Jadi kami katakan tinggal kan saja I’TIKAF nya karena I’TIKAF adalah sunnah.” (Lihat Fatawa Haram Makki Utsaimin 1420/09a).
Kemudian apakah I’TIKAF harus dikerjakan di masjid yang dipakai Jum’atan?
Syeikh Utsaimin rahimahullah memilih pendapat yang tidak mewajibkan I’TIKAF di masjid yang dipakai Jum’atan.
وهو في كل مسجدٍ، سواء كان في مسجدٍ تقامُ فيه الجمعة، أو في مسجدٍ لا تقام فيه، ولكنَّ الأفضلَ أن يكون في مسجدٍ تقامُ فيه، حتى لا يضطرَّ إلى الخروجِ لِصَلاةِ الجمعة
“Dan I’TIKAF boleh dikerjakan di semua masjid baik dipakai Jum’atan maupun tidak.
Akan tetapi afdholnya dikerjakan di masjid yang dipakai Jum’atan, supaya dia tidak keluar untuk Jum’atan.” (Lihat Fatawa Ibnu Utsaimin 20/155).
Adapun syarat masjid harus sudah diwakafkan maka semua masjid yang sudah terbuka untuk umum statusnya adalah wakaf secara syar’i baik status tanah sudah wakafkan oleh pemilik maupun belum diwakafkan.
Adapun jika belum terbuka untuk umum maka masjid tersebut belum berstatus wakaf secara syar’i sehingga tidak bisa dipakai I’TIKAF karena belum sah disebut sebagai masjid karena hanya bersifat musholla saja yang dipakai sholat untuk waktu waktu tertentu saja tidak kontinyu.
***
Tuban, Rabu 12 Ramadhan 1446 H/12 Maret 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






