Bagaimana kedudukan i’tikaf di musholla yang disitu dilaksanakan sholat berjamaah 5 waktu. (H.Muslimin dari Sumberrejo)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Sebelum kita membahas hukum i’tikaf di musholla, maka hendaknya kita mengenali dulu kapan suatu tempat itu dikatakan masjid atau musholla.
Suatu tempat dikatakan sebagai masjid jika dipakai sholat lima waktu secara kontinyu.
Lajnah Daimah ditanya tentang perbedaan masjid dan musholla, maka jawabannya seperti ini.
المسجد : البقعة المخصصة للصلوات المفروضة بصفة دائمة ، والموقوفة لذلك ، أما المصلى فهو ما اتخذ لصلاة عارضة ؛ كصلاة العيدين أو الجنازة أو غيرهما ، ولم يوقف للصلوات الخمس ، ولا تسن تحية المسجد لدخول المصلى ، وإنما تسن لدخول المسجد لمن أراد الجلوس فيه
“Masjid adalah tempat yang dikhususkan untuk sholat 5 waktu secara kontinyu dan diwakafkan untuk hal itu.
Adapun musholla adalah tempat yang dipakai untuk sholat sesaat (tidak kontinyu) seperti sholat di hari raya, jenazah dan yang lainnya dan tidak diwakafkan untuk sholat 5 waktu, dan tidak disunnahkan tahiyatul masjid disitu jika masuk, karena tahiyatul masjid disunnahkan jika masuk masjid sebelum duduk.” (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 5/169).
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
المسجد : ما أعد للصلاة فيه دائماً وجعل خاصاً بها سواء بني بالحجارة والطين والإسمنت أم لم يبن ، وأما المصلى فهو ما اتخذه الإنسان ليصلي فيه ، ولكن لم يجعله موضعاً للصلاة دائماً ، إنما يصلي فيه إذا صادف الصلاة ولا يكون هذا مسجداً
“Masjid adalah yang dipakai sholat secara kontinyu dan dikhususkan untuk nya baik dibangun dengan batu, tanah liat ataupun semen ataupun tidak ada bangunannya.
Adapun musholla adalah tempat yang dipakai sholat secara tidak kontinyu, hanya dipakai kadang kala saja, dan seperti ini bukan masjid.” (Lihat Fatawa Syeikh Utsaimin 12/394).
Jadi kesimpulannya adalah jika tempat itu tidak kontinyu dipakai untuk sholat 5 waktu maka dia bukan masjid alias musholla saja jika terkadang dipakai sholat.
Jadi jangan heran kalau datang ke saudi atau negara Arab lainnya ternyata masjidnya hanya batu yang ditata melingkar saja sebagai pembatas.
Sehingga bangunan di negri kita yang sering dinamakan musholla hakikatnya adalah masjid sehingga sah itikaf di sana dan wajib sholat tahiyatul masjid juga jika masuk ke dalamnya sebelum duduk.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :
لَا يَجُوزُ الِاعْتِكَافُ إلَّا فِي مَسْجِدٍ تُقَامُ الْجَمَاعَةُ فِيهِ
“Tidak boleh itikaf kecuali di masjid yang dipakai berjama’ah didalamnya.” (Lihat Al Mughni 3/65).
Imam Nawawi rahimahullah berkata :
لا يَصِحُّ الاعْتِكَافُ مِنْ الرَّجُلِ وَلا مِنْ الْمَرْأَةِ إلا فِي الْمَسْجِدِ , وَلا يَصِحُّ فِي مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَرْأَةِ وَلا مَسْجِدِ بَيْتِ الرَّجُلِ وَهُوَ الْمُعْتَزَلُ الْمُهَيَّأُ لِلصَّلاةِ
“Tidak sah itikaf seorang laki-laki maupun wanita kecuali di masjid. Tidak sah melakukan i’tikaf di musholla dalam rumah yang dipakai sholat.” (Lihat Al Majmu 6/505).
Sehingga i’tikaf yang dikerjakan seseorang di musholla-musholla di kampung-kampung yang ada di negeri kita hakikatnya adalah masjid dan hukumnya sah.
***
Sumberrejo, 21 Sya’ban 1446 H/19 Februari 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






