Bismillah.
Kita masih melanjutkan seri faidah dari Kitab Tauhid dengan membahas tafsir ayat-ayat tauhid yang beliau bawakan.
Kita lanjutkan ayat kedua yang beliau sebutkan.
Yaitu firman Allah :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat; seorang rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :
هذه دعوة الرسل، دعوة الناس إلى توحيد الله والإخلاص له، وذلك هو تحقيق معنى لا إله إلا الله أي لا معبود حق إلا الله، فالرسل تدعوا إلى توحيد العبادة كما أن المشركين مقرون بتوحيد الربوبية، فالرسل دعتهم إلى توحيد العبادة كما أقروا بتوحيد الربوبية
“Inilah dakwah para rasul. Menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah dan ikhlas beribadah kepada-Nya. Inilah perealisasian makna dari kalimat laa ilaha illalah; yaitu tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Maka para rasul menyerukan kepada tauhid ibadah, sebagaimana kaum musyrik telah mengakui tauhid rububiyah. Para rasul mengajak mereka untuk mengesakan Allah dalam hal ibadah sebagaimana mereka telah mengakui tauhid rububiyah…” (lihat Syarh Kitab Tauhid oleh Syaikh Bin Baz, dari situs resmi beliau [klik])
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan :
مناسبة الآية للباب: أن الدعوة إلى التوحيد والنهيَ عن الشرك هي مهمة جميع الرسل وأتباعهم
“Kaitan ayat ini dengan bab (Kitab Tauhid) adalah bahwa dakwah kepada tauhid dan melarang dari syirik merupakan misi utama segenap rasul dan para pengikut mereka.” (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, dikutip dari Maktabah Syamilah [klik])
Dari ayat tersebut para ulama juga menyimpulkan bahwa tauhid tidak akan terwujud kecuali dengan mengabungkan penafian/menolak syirik dengan penetapan/menetapkan ibadah ditujukan kepada Allah semata. Oleh sebab itu tauhid tidak cukup hanya dengan mengakui Allah sebagai pencipta atau penguasa alam semesta, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk pemurnian ibadah kepada Allah dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya.
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah menjelaskan :
الطاغوت الذي يعبدهُ الناس، ويَدعونه مِن دون الله، وهو راض بذلك
“Thaghut adalah orang/sesuatu yang disembah oleh manusia; dan mereka pun beribadah kepadanya selain kepada Allah, dan dia pun ridha dengan hal itu.” (Risalah Anwa’ at-Tauhid; sumber : alukah.net)
Ayat di atas dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa para rasul diutus oleh Allah untuk mengajak manusia bertauhid kepada-Nya; menyembah Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya.
Ibadah kepada Allah tidak bisa terwujud kecuali dengan mengingkari thaghut yaitu sesembahan selain Allah. Imam Malik rahimahullah menjelaskan bahwa thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah. Gembong utama thaghut adalah setan atau Iblis; karena dia lah yang mengajak dan menyeru manusia untuk beribadah kepada selain Allah. Sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika mendakwahi ayahnya. Beliau berkata (yang artinya), “Wahai ayahanda, janganlah engkau beribadah kepada setan…” (Maryam : 44). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Si’di rahimahullah menjelaskan, “Karena sesungguhnya orang yang beribadah kepada selain Allah sesungguhnya dia telah beribadah kepada setan…” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 494)
Allah berfirman (yang artinya), “Bukankah Aku telah berpesan kepada kalian wahai anak Adam; Janganlah kalian beribadah kepada setan.” (Yasin : 60). Sa’id bin Jubair rahimahullah mengatakan, “Ibadah itu adalah ketaatan. Yang demikian itu karena barangsiapa yang menaati apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan mematuhi apa-apa yang dilarang Allah maka sesungguhnya dia telah menyempurnakan ibadah kepada Allah. Dan barangsiapa yang menaati setan dalam hal agama dan amalnya maka sesungguhnya dia telah beribadah kepada setan.” (lihat al-Jami’ fi ‘Aqa’id wa Rasa’il Ahlis Sunnah wal Atsar, hal. 33)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Semua bentuk syirik pada hakikatnya adalah peribadatan kepada thaghut. Maka hal itu menunjukkan bahwa semua rasul ‘alaihimus salam datang dengan membawa perintah untuk beribadah kepada Allah ta’ala dan melarang perbuatan syirik. Inilah makna laa ilaha illallah. Karena ia menggabungkan antara penolakan/nafi dengan penetapan/itsbat. Menolak syirik dan menetapkan tauhid.” (lihat at-Ta’liq al-Mukhtashar al-Mubin ‘ala Qurrati ‘Uyun al-Muwahhidin, hal. 17)
Hal ini menunjukkan bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (Huud : 50). Inilah yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul ‘alaihimush sholatu was salam (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 19 karya Syaikh Shalih al-Fauzan).
***
Repost : Purwodadi – Sidayu – Gresik : 24 Rabiul Awwal / 17 September 2025
Penulis : Ustadz Ari Wahyudi, S.Si
Artikel : Al-mubarok.com






