إنَّ الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله، فلا مُضلَّ له، ومن يُضللِ الله، فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا) [النساء: 1]
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ) [آل عمران: 102]
أما بعد
Jama’ah sholat jum’at رحمنى و رحمكم
Sungguh Allah ﷻ telah menunjukkan kita jalan yang benar, dan memberikan kepastian petunjuk dengan lewat wahyunya, dan juga Allah ﷻ memerintahkan kepada kita untuk senantiasa menasehati di atas petunjuk tersebut.
Seorang muslim sejati jika melihat kesalahan terjadi pada saudaranya maka ia akan berusaha untuk memperbaikinya. Dan tidak lah sikap ini terjadi, melainkan karena pancaran islam karena dorongan iman yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Nabi ﷺ bersabda :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Nasehat adalah pondasi utama agama ini. Al-imam An-nawawi ketika menyarah hadits :
“الدين النصيحة”
“Agama adalah nasihat.”
Beliau berkata :
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى عِظَمِ مَنْزِلَةِ النَّصِيحَةِ، وَوُجُوبِهِا، وَهِيَ أَصْلٌ مِنْ أُصُولِ الدِّينِ
“Hadis ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan nasihat, wajibnya nasihat, dan bahwa ia merupakan salah satu bagian dari pondasi-pondasi utama agama ini.”
Dan nasehat adalah kebiasaan yang dilakukan oleh para nabi dan Rosul ; Berkata Nabi Sholeh kepada kaumnya
وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ
Artinya : “Aku telah memberi nasehat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (QS. Al-A’raf : 7:79)
Berkata Nabi Syau’aib kepada kaumnya :
وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَٰفِرِينَ
Artinya : “Dan aku telah memberi nasehat kepada kalian. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (QS. Al-A’raaf : 7:93)
Berkata Nuh kepada kaumnya :
أُبَلِّغُكُمْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمْ
Artinya : “Aku sampaikan kepada kalian amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepada kalian.” (QS. Al-A’raaf 7:62)
Berkata Hud ‘alaihis salam :
أُبَلِّغُكُمْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّى وَأَنَا۠ لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ
Artinya : “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepada kalin dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya.” (QS. Al-A’raaf 7:68)
Allah Ta’ala juga mensifati Nabi Muhammad ﷺ sebagai seorang pemberi Peringatan/ nasehat :
فَذَكِّرْ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٌ
Artinya : “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al-Ghaasyiyah : 88:21)
Jama’ah sholat jum’at رحمنى و رحمكم
Saling menasehati juga kebiasaan para sahabat Nabi ﷺ. Buktinya Salah seorang Syaikh Doktor Umar ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Al Muqbil membuat satu kitab khusus yang menghimpun Nasehat-nasehat para sahabat dan beliau beri judul : مواعظ الصحابة
Saling Menasehati juga Merupakan Kebiasaan Orang-orang yang Sholeh
Lihatlah apa yang Allah ﷻ gambaran tentang sikap Luqman kepada anaknya :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik, sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman 31:13)
Berkata imam Azzahabi رحمه الله :
«مَنْ لَمْ يَنْصَحْ لِلَّهِ، وَلِأَئِمَّةِ، وَلِلعَامَّة، كان ناقص الدين »
“Barang siapa yang tidak memberi nasihat karena Allah, untuk para pemimpin, dan untuk rakyatnya, maka ia adalah seorang yang lemah agamanya.” (Dalam kitab Fiqhusy Syuura Ahmad bin Ibrahim al-Utsmaan, hal:116)
Dan kebiasaan para salaf mereka senang jika kekurangan-kekurangannya, aib-aibnya di sampaikan dan dikabarkan kepada mereka.
Berkata Mis’ar ibn Qidam :
رحمه الله من أهدى إليَّ عيوبيْ فى سرٍّ بينيْ و بينَه
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menceritakan kepadaku aib-aibku secara sembunyi-sembunyi, antara aku dan dia saja.” (Zaadul Khuthobaa’ mn Risaalatil Masjid, 25)
Dalam sunan Addarimi Umar ibn Khattab pernah mengatakan :
أحب الناس إلي من أهدى إليَّ عيوبيْ
“Orang yang paling aku cintai adalah orang yang menceritakan kepadaku aib-aibku.” (Manaaqib Amiiril Mu’miniin,145)
Jama’ah sholat jum’at رحمنى و رحمكم
Termasuk tanda-tanda kebaikan pada masyarakat tanda-tanda kebaikan pada rakyat adalah mereka mencintai nasehat dan mengamalkan nasehat serta mencintai orang-orang yang menyampaikan nasehat. Allah ﷻ berfirman:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ
Artinya : “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma’idah 5:2)
Bias Nasehat yang muncul dari hati yang jujur dan bersih adalah kebaikan pula. Ingatlah tatkala Umar ibn Khattab Radiyallahu’anhu menasehati Abu Bakar untuk mengumpulkan Al Qur’an maka terjadilah pembukuan Al Qur’an setelah itu dan sampai hari ini kita merasakan manfaat dan kebaikannya
Dahulu salah satu santrinya iman Al Bukhari pernah berbicara kepada sang Imam :
لو جمعتم كتابا مختصرا لسنن النبي ﷺ
“Seandainya engkau menyusun sebuah kitab ringkas tentang sunah-sunah Nabi ﷺ.” (Al-Mu’allim fii Ma’rifati Uluumil Hadiits, 45)
Imam Bukhari mengatakan :
فوقع في قلبي، فأخذت في جمع هذا الكتاب
“Maka hal itu terlintas dalam hatiku, lalu aku mulai menyusun kitab ini” (Al-Mu’allim fii Ma’rifati Uluumil Hadiits, 45)
Maka muncullah kitab Sohih Bukhari yang merupakan mutiara para ulama’ dari zaman ke zaman.
Jama’ah sholat jum’at رحمنى و رحمكم
Diantara manfaat nasehat yaitu bisa mendatangkan kecintaan dan perbaikan pada kesalahan yang ada di masyarakat, Mencegah kerusakan dan keburukan, Menumbuhkan hubungan yang baik, serta menuntun kepada kebaikan dan keselamatan. Karena tidak lah setiap kita, pasti memerlukan yang namanya nasehat. Tatkala Nabi ﷺ mengatakan:
الدين النصيحة
“Agama itu adalah nasihat.”
Beliau pun ditanya :
لمن
“Untuk siapa ya Rasulullah”
Beliau bersabda :
لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين وعامتهم
“Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk seluruh kaum muslimin.”
Nasehat untuk Allah yaitu engkau menasehati dirimu sendiri dan orang lain untuk beriman kepada-Nya, berpegang kepada tauhid dan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Nasehat untuk kitabullah yaitu dengan beriman kepadanya, mempelajarinya, mentadabburinya, membacanya dan beramal apa yang ada padanya.
Nasehat untuk Rasulullah yaitu dengan cara engkau beriman kepadanya, mencintainya, mengikuti petunjuknya dan berdakwah menyebarkan ajaran-ajarannya.
Nasehat untuk para pemimpin kaum muslimin yaitu dengan cara engkau mentaati peraturan-peraturan mereka selagi bukan kemaksiatan kepada Allah, membantu mereka dalam menegakkan kebenaran, dan mendoakan kebaikan kepada mereka.
Dan nasehat untuk seluruh kaum muslimin yaitu dengan cara berdakwah kepada mereka tentang perkara-perkara kebaikan dan mengarahkan mereka untuk meninggalkan larangan-larangan syariat.
Jama’ah sholat jum’at رحمنى و رحمكم
Jika ditengah-tengah kita masih ada sosok yang sering memberikan nasehat kepada kita, maka sejatinya ia berhak mendapatkan kemuliaan dan terima kasih dari kita dan itu adalah karunia yang besar dari Allah. Terlebih lagi jika ia menasehati kita berdasarkan 2 sumber utama Al-Qur’an dan As Sunnah. Allah ﷻ berfirman :
وَمَآ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِۦ ۚ
Artinya : “Dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan As Sunnah. Allah memberi Nasehat kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu.” (QS. Al Baqarah 2:231)
Berkata Al imam Hasan Al Basri رحمه الله :
مَا زَالَ للهِ تَعَالَى نُصَحَاءُ
يَنْصَحُونَ للهِ فِي عِبَادِهِ،
وَيَنْصَحُونَ لِعِبَادِ اللهِ فِي حَقِّ اللهِ،
وَيَعْمَلُونَ للهِ تَعَالَى فِي الْأَرْضِ بِالنَّصِيحَةِ،
أُولٰئِكَ خُلَفَاءُ اللهِ فِي الْأَرْضِ
“Selalu ada hamba-hamba Allah yang tulus memberi nasihat; mereka menasihati manusia karena Allah dan menasihati manusia agar menunaikan hak-hak Allah. Mereka beramal di bumi dengan ketulusan itu. Mereka adalah para khalifah-khalifah Allah di muka bumi ini.” (Thoriiqoh Litakuuna Mahbuuban. Aljizaawiy, hal.9)
Adapun malu dalam memberikan nasihat adalah malu yang tidak pantas dan tidak pada tempatnya.
Namun jika nasehatmu ditolak maka tidak perlu bersedih, karena sejatinya engkau telah menunaikan ibadahmu dan hendaknya engkau berharap ibadah tersebut diterima oleh Allah ﷻ.
Namun wahai Jama’ah jangan sampai kita selalu berfikir jika orang lain tidak menerima nasehat, lantas kemudian kita nilai orang tersebut dengan kejelekan. Barangkali bukan dia tidak mau menerima nasehat kita, akan tetapi barangkali cara kita memberikan nasehat masih belum benar.
Diantara adab-adab nasehat yang benar adalah :
1. Dengan memilih kata-kata yang pas dan penuh kebijaksanaan. Allah ﷻ berfirman :
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ ۖ
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An Nahl 16:125)
2. Ucapan yang lembut agar lebih mudah diterima, Allah ﷻ pernah memerintahkan Nabi Harun dan Nabi Musa tatkala menghadapi Fir’aun :
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Artinya : “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.S. Thaahaa 20:44)
3. Pada asalnya dalam satu kondisi naehat harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Berkata Ibn Rojab Rahimahullah :
كان السلف الصالح إذا أرادوا نصيحةَ أحدٍ وعظوه سرّاً
“Para salaf dahulu apabila ingin menasihati seseorang, mereka menasihatinya secara rahasia.” (Adwaa’ ‘alal Amri bil Ma’ruuf, hal.39)
Berkata imam Syafi’i :
مَن وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَانَهُ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ
“Barang siapa menasihati saudaranya secara rahasia, sungguh ia telah menasihatinya dan memperindahnya. Dan barang siapa menasihatinya secara terang-terangan, sungguh ia telah mempermalukannya dan mencelanya.” (Adwaa’ ‘alal Amri bil Ma’ruuf, hal.39)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الذِّكْرِ وَالحِكْمَةِ
أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ
Khutbah ke-2
الحَمْدُ لِلَّهِ، الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالهُدَى وَدِينِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ، وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا
أما بعد
Jama’ah sholat jum’at رحمنى و رحمكم
Diantara adab-adab nasehat yang benar selanjutnya adalah :
4. Menyanjung orang yang hendak kita berikan nasehat terlebih dahulu, membuka hatinya supaya hatinya lebih siap untuk menerima nasehat.
Lihatlah tatkala nabi ﷺ menasehati Muadz supaya ia berzikir dengan zikir khusus setelah sholat. disini nabi tidak langsung memerintahkan atau memarahinya untuk melakukannya, namun yang dilakukan oleh nabi ﷺ adalah membuka hatinya terlebih dahulu.
Muadz bin Jabal bercerita :
أخَذَ رَسولُ اللهِ ﷺ بيَدي يومًا ثمَّ قالَ: «يا مُعاذُ، واللهِ إنِّي لأُحبُّكَ»
“Suatu hari Rasulullah ﷺ memegang tanganku lalu bersabda : ‘Wahai Mu‘adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu.’
فقلْتُ له: بأبي وأمِّي يا رَسولَ اللهِ، وأنا واللهِ أُحبُّكَ
Maka aku menjawab, ‘Demi ayah dan ibuku (sebagai tebusanmu), wahai Rasulullah, aku pun demi Allah sungguh mencintaimu.’
فقالَ: «أُوصيكَ يا مُعاذُ، لا تَدعَنَّ في دُبرِ كلِّ صَلاةٍ أنْ تَقولَ: اللَّهمَّ أعِنِّي على ذِكرِكَ، وشُكرِكَ، وحُسنِ عِبادتِكَ
Rasulullah ﷺ bersabda : ‘Wahai Mu‘adz, aku wasiatkan kepadamu: janganlah engkau tinggalkan untuk mengucapkan di setiap akhir salat (setelah salam atau sebelum salam) :
اللَّهمَّ أعِنِّي على ذِكرِكَ، وشُكرِكَ، وحُسنِ عِبادتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu.’” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ‘ala shohihain, 5282)
Pada kesempatan yang lain Nabi ﷺ pernah juga menasehati Umar radiyallahu ‘anhu untuk bersikap lembut saat menyentuh hajar aswad. Awal kali yang Nabi lakukan adalah Nabi mempersiapkan supaya diri Umar bisa menerima nasehat Nabi ﷺ :
يا عمرُ إنَّكَ رجلٌ قويُّ
“Wahai ‘Umar, sesungguhnya engkau adalah seorang laki-laki yang kuat.
لا تُؤذي الضَّعيفَ إذا أردتَ استِلامَ الحجرِ فإن خلا لَكَ فاستَلِمهُ وإلّا فَاسْتَقْبِلْهُ وَكَبِّرْ
Maka janganlah engkau menyakiti orang yang lemah (ketika hendak mencium Hajar Aswad). Jika engkau mendapati tempat itu kosong, maka ciumlah Hajar Aswad. Tetapi jika penuh sesak, maka cukup hadapilah ke arahnya dan bertakbirlah.” (HR. Ahmad, 190)
5. Jangan terlalu merinci sesuatu hingga setiap persoalan harus dikritik.
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ Aisyah bercerita : “Suatu saat Nabi ﷺ masuk rumah dan bertanya :
هَل عندَكُم مِن ذلِكِ الطَّعامِ؟
“Apakah kalian punya makanan?”
فقُلتُ: لا
Aku menjawab: “Tidak.”
فقالَ: إنِّي صائمٌ
Lalu beliau berkata: “Ya sudah aku berpuasa saja hari ini.”
Disini Nabi terlihat tidak memperinci masalah Nabi tidak membentak Aisyah kenapa tidak masak Nabi tidak memarahi istrinya kenapa tidak ngomong kalo tidak ada makanan dari tadi dan seterusnya dan seterusnya sama sekali Nabi tidak memperinci masalah apalagi hanya maslah sepele.
Kemudian kejadian ditempat yang lain pada saat pembagian harta rampasan perang Hunain, seorang Arab Badui minta bagian harta kepada Nabi ﷺ menarik rida’ Nabi ﷺ sampai memebekas luka di leher nabi. Arab Badui tersebut sambil berkata dengan kasar :
يا مُحَمَّدُ! مُرْ لِي مِنْ مالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ
“Wahai Muhammad! Perintahkan agar aku diberi (bagian) dari harta Allah yang ada padamu.”
فالْتَفَتَ إلَيْهِ رَسولُ اللَّهِ صلّى اللهُ عليه وسلَّم ثُمَّ ضَحِكَ، ثُمَّ أمَرَ له بعَطاءٍ
Maka Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya, kemudian beliau tertawa, lalu memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu.” (HR. Al-Bukhari, no.5809 dan Muslim, no.1057)
Lihatlah dalam hadits diatas Nabi tidak terlalu mendetailkan masalah terlebih perkaranya hanya perkara dunia yang remeh. Nabi tidak pernah membela dirinya yang Nabi bela hanya Agama Allah Nabi tidak berkata “kenapa kau tarik bajuku”. Nabi tidak berkata “hey Arab Badui bukannya kau tau aku sebagai Nabi ” dll. Karena Nabi faham tidak semua masalah harus disikapi dan ditanggapi.
6. Jika engkau mampu menasihati saudaramu dengan sindiran tanpa menyebutkan orangnya secara langsung, maka lakukanlah.
Nabi pernah bersabda mengingatkan sahabatnya yang mengangkat pandangannya ke langit saat sholat. Padahal Nabi tau siapa orang tersebut namun nabi hanya mengatakan :
لينتَهينَّ أقوامٌ يرفعونَ أبصارَهم إلى السَّماءِ أو لا تَرْجِعُ أبصارُهُم
“Hendaklah berhenti beberapa suatu kaum yang mengangkat pandangan mereka ke langit (ketika shalat), atau pandangan mereka tidak akan kembali kepada mereka.”
Nabi ﷺ juga pernah bersabda menasehati orang-orang yang menuduh Aisyah berzina dengan kalimat sindiran. Padahal Nabi ﷺ tau siapa mereka, mereka adalah Abdullah bin ubay bin salul dan semisalnya namun nabi menegur dengan sindiran :
يا معشَر المسلِمينَ مَن لي مِن رجالٍ يُؤذونَني في أهلي، وما علِمتُ على أهلي سوءًا
“Ada apa dengan sekelompok laki-laki yang menyakitiku mengenai keluargaku, dan mengatakan terhadap mereka sesuatu yang tidak benar? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan.” (HR. Al-Bukhari, no.4141 dan Muslim, no.2770)
7. Posisikan lah dirimu menjadi orang yang dinasehati.
Dahulu dalam perjalanan pulang perang Khaibar dengan kondisi yang sangat letih nabi ﷺ bersabda kepada Bilal :
اكلَأْ لنا اللَّيلَ
“Awasi kami malam ini”
Kemudian Bilal berusaha untuk menjalankan perintah Nabi beliau sholat malam semampunya hingga larut malam, saat menjelang subuh tiba ia bersandar di untanya sebentar, dan mengarahkan pandangan ke ufuk kemudian tiba-tiba beliau tertidur.
Ketika matahari telah terik barulah Nabi dan para sahabatnya bangun. Nabi tidak langsung memarahi Bilal karena Nabi memahami bagaimana posisi beliau jika menjadi Bilal saat itu. Beliau hanya mengatakan :
أي بلال
“Wahai Bilal”
Bilal pun mengatakan :
أخذ بنَفْسِي الذي أخَذَ -بأبي أنتَ وأمِّي يا رَسولَ اللهِ- بنَفْسِك
“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah, Dzat yang menidurkanmu Dia lah juga yang telah menidurkanku.”
Kemudian merekapun mendirikan sholat subuh. Setelah sholat subuh usai Nabi ﷺ bersabda
«من نَسِيَ الصَّلاةَ فلْيُصَلِّها إذا ذكَرَها»
“Barang siapa lupa salat, maka hendaklah ia melaksanakannya ketika ia mengingatnya.” (A’dzaarut Takhalluf ‘anil Jum’ah wal Jamaa’h, hal.102-103)
Jama’ah kaum muslimin رحمنى و رحمكم
Segala puji bagi Allah yang menjadikan nasihat sebagai tanda keimanan dan sebab keselamatan. Semoga kita menjadi hamba yang saling menasihati dengan cara yang benar dan kita berharap nasehat kita menjadi amal yang tulus hanya karena Allah ﷻ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا
اللَّهُمَّ وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى،وَخُذْ بِنَاصِيتهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى
اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا الزَّلَازِلَ وَالْفِتَنَ،وَاكْشِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْمِحَنَ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إندونيسيا واجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً
وَاحْفَظْ أَهْلَهَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةًۭ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
***
Sidayu, Gresik : 18 Rojab 1447 H / 7 Januari 2026
Penulis : Ustadz Lis Mujiono, S.Pd.I
Artikel : Meciangi.or.id






