Sabtu, Juni 6, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Belum Ada Judul

Abu Dawud ad-Dombuwiyy by Abu Dawud ad-Dombuwiyy
18 April 2026
in MANHAJ
Reading Time: 5 mins read
0
Home MANHAJ

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.

RELATED POST

Umat Islam Terpecah menjadi 73 Golongan

Rincian Hukum Nasyid

Dunia musik seperti fatamorgana yang dilihat oleh orang-orang yang kehausan atau seperti seseorang yang sedang meminum air lautan, semakin diminum semakin dia akan merasakan kehausan.

Jika mereka yang bergelimang dalam dunia musik sudah mengatakan bahayanya musik, maka jangan anda mencoba memaksakan diri dengan mengatakan,  “Saya bisa bertakwa meskipun saya bermain musik.”

Tidak ada pemusik yang bertakwa kepada Allah meskipun dia mengatakan saya bergenre religi, apalagi yang bergenre seperti gambar ilustrasi. Maka jelas tidak ada yang namanya ayat musik atau ayat yang menghalalkan musik, yang ada hanya ayat tentang pengharaman musik. Allah Ta’ala telah berfirman :

«وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۢ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌۭ مُّهِينٌۭ»

Artinya : “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”. (QS. Lukman : 6).

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya :

روى ابن جرير : حدثني يونس بن عبد الأعلى قال : أخبرنا ابن وهب، أخبرني يزيد ابن يونس عن أبي صخر عن أبي معاوية البجلي عن سعِيد بن جبير عن أبي الصهباء البكري أنه سمع عبد الله بن مسعود وهو يسأل عن هذا الآية (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۢ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌۭ مُّهِينٌ) فقال عبد الله بن مسعود : الغناء والله الذي لا إله إلا هو، يرددها ثلاث مرات، حدثنا عمرو بن علي، حدثنا صفوان بن عيسى، أخبرنا حميد الخراط عن عمار عن سعيد بن جبير، عن أبي الصهباء أنه سأل ابن مسعود عن قول الله (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ) قال : الغناء، وكذا قال ابن عباس وجابر وعكرمة وسعيد بن جبير ومجاهد ومكحول وعمرو بن شعيب وعلي بن بذيمة

.وقال الحسن البصري : نزلت هذه الآية (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِعِلْمٍۢ) في الغناء والمزامير

“Ibnu Jarir telah meriwayatkan : Mengabarkan kepadaku Yunus bin ‘Abdil A’la, ia mengatakan : Mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, mengabarkan kepadaku Yazid bin Yunus dari Abi Shakhr dari Abi Muawiyah al-Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ al-Bakriy bahwasannya dia mendengar ‘Abdullah bin Mas’ud dan dia menanyakan tentang ayat ini (Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan), berkata ‘Abdullah bin Mas’ud : (maksudnya adalah) Nyanyian demi Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, ‘Abdullah bin Mas’ud  mengulang ucapannya sebanyak tiga kali.

Menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Ali, menceritakan kepada kami Shofwan bin ‘Isa, mengabarkan kepada kami Humaid al-Khirath dari Sa’id bin Jubair, dari Abi Shahba’ bahwasannya dia bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang firman Allah (Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna), Ibnu Ma’sud mengatakan : (maksudnya adalah) Nyanyian, seperti itu juga ucapan Ibnu ‘Abbas, Jabir, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Makhul, ‘Amr bin Syu’aib dan ‘Ali bin Badzimah.”

Berkata Al-Hasan al-Bashriy : “Diturunkan ayat ini (Artinya : “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan) yakni mengenai nyanyian dan seruling.” [Tafsir Ibni Katsir, 3/394].

Allah Ta’ala juga berfirman pada ayat yang lain:

«وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا»

Artinya : “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (begitu saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan : 72)

Berkata Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah tentang firman Allah diatas :

والذين لا يشحدون الزور) أي : لا يحضرون الزور، أي : القول والفعل المحرم، فيجتنبون جميع المجالس، المستملة  على الأقوال المحرمة، أو الأفعال المحرمة، كالخوض في آيات الله، والجدال الباطل، والغيبة، والنميمة، والسب، والقذف، والاستهزاء، والغناء المحرم، وشرب الخمر، وفرش الحرير، والصور، ونحو ذلك، وإذا كانوا لا يشهدون الزور، فمن باب الأولى وأحرى، أن لا يقوله ويفعلوه

(Artinya : “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur) yaitu : tidak menghadiri perbuatan zur, yaitu ucapan dan perbuatan yang haram, maka jauhilah semua majelis yang mengandung ucapan-ucapan yang haram, atau perbuatan-perbuatan yang haram, seperti membicarakan tentang ayat-ayat Allah secara berlebihan, perdebatan yang bathil, ghibah dan namiimah (mengadu domba), mencaci-maki, menuduh berzina, mengolok-olok, nyanyian yang haram, meminum khamr, tikar dari sutra, gambar (makhluk bernyawa) dan selainnya. Apabila mereka tidak menyaksikan perbuatan zur, maka lebih-lebih lagi dan selainnya, mereka tidak akan mengatakan dan melakukan perbuatan zur”. [Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan, hal. 587].

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab shohihnya:

   وقال هشام بن عمار : حدثنا صدقة بن خالد : حدثنا عبد الرحمان بن يزيد بن جابر : حدثنا عطية بن قيس الكلابي : حدثنا عبد الرحمان بن غنم الأشعري قال : حدثني أبو عامر -أو أبو مالك- الأشعري، والله ما كذبني : سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ليكونن من امتي أقوام، يستحلون الحر والحرير، والخمر والمعازف، ولينزلن أقوام إلى جنب علم يروح عليهم بسارحة لهم، يأتيهم – يعني: الفقير – لحاجة فيقولون : ارجع إلينا غدًا، فيبيتهم الله ليلًا، ويضع العلم عليهم، ويمسخ آخرين قردة وخنازير إلى يوم القيامة

“Berkata Hisyam bin ‘Ammar, menceritakan kepada kami Shodaqoh bin Khalid : menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Yazid bin Jabir : menceritakan kepada kami ‘Atiyyah bin Qais al-Kilaabiy : menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ganm al-Asy’ariy dia berkata : menceritakan kepadaku Abu ‘Amr -atau Abu Malik- al-Asy’ariy, demi Allah saya tidak berdusta : dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sungguh akan ada dari umatku suatu kaum yang akan menghalalkan zina, menghalalkan sutra, menghalalkan khamr dan menghalalkan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok orang sungguh akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, lalu seseorang mendatangi mereka  -yaitu orang fakir- untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.” [HR. Al-Bukhari, no. 5590. Cet. Baitul Afkaar ad-Dauliyyah].

Digandengnya musik dengan zina, khomr dll, menunjukkan musik itu haram, tapi tidak bagi mereka.

Seperti itulah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, dia akan berusaha dengan cara apapun untuk mengelabui manusia dengan cara mentafsir ayat sesuai hawa nafsunya.

Jika gambar ilustrasi menunjukkan lalainya orang-orang yang candu musik sebagaimana pengakuan mereka, apakah anda harus bermain musik sehingga anda sendiri bisa mengetahui bagaimana jauhnya pemusik dari jalan Allah? Maka mari gunakan akal sehat.

Sehebat apapun seseorang, baik candu atau tidak, musik adalah racun, dan anda tidak akan bisa menjadi orang yang bertakwa kepada Allah dengan musik meskipun “religi”. Maka bagaimana mungkin ada ayat yang menghalalkan musik dalam al-Qur’an?. Jika anda ingin selamat, baca al-Qur’an dan lihat tafsiran para ulama salaf tentang apa maksud dari ayat tersebut. Sebenarnya mereka sudah membaca, tapi hawa nafsulah yang mereka ikuti.

Penyair tentu beda dengan pemusik, dan syair itu sendiri berbeda dengan musik. Dan tidak jujur jika sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan sebagai pemusik disisi Nabi dengan logika setiap penyair adalah pemusik ketika itu. Aduhai, betapa besar syubhat yang ada di kepala mereka ini demi menghalalkan musik yang telah Allah haramkan.

Allah Ta’ala berfirman :

«أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌۭ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌۭ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَـٰرُ وَلَـٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ»

Artinya : “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj : 46)

Penyair mengatakan :

“Bukan mata yang buta dari melihat kebenaran

Tapi hatilah yang buta dan penuh dengan kotoran.”

***

Repost, 28 Syawal 1446 H / 17 April 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had al-Furqon al-Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Umat Islam Terpecah menjadi 73 Golongan
MANHAJ

Umat Islam Terpecah menjadi 73 Golongan

9 Mei 2026
MANHAJ

Rincian Hukum Nasyid

22 Desember 2025
Bahaya Candu Musik dan Cinta Kepada Para Musisi Beserta Obatnya
MANHAJ

Bahaya Candu Musik dan Cinta Kepada Para Musisi Beserta Obatnya

4 April 2026
Haramnya Musik dan Nyanyian
MANHAJ

Haramnya Musik dan Nyanyian

19 Februari 2024
Salawat Sunnah vs Salawat Bid’ah
MANHAJ

Salawat Sunnah vs Salawat Bid’ah

19 Februari 2024
Hak Pemimpin di Dalam Syariat Islam
MANHAJ

Hak Pemimpin di Dalam Syariat Islam

19 Februari 2024
Next Post
Hewan yang Diawetkan

Hewan yang Diawetkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Angkatlah Do’amu di Hari Arafah
  • Puasa Awal Dzulhijjah
  • Kambing 1,7 Tahun Belum Powel
  • Biografi Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdan

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp