Penanya : Ryantiar Fahmi Faishal
Orang yang sholat maka 7 anggota badannya wajib menyentuh tanah, wajah dan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung kaki.
Namun yang menjadi permasalahan jika salah satunya tidak menyentuh tanah atau terhalangi, apakah membatalkan sholat atau tidak?!!!
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.
Imam Syafi’i rahimahullah memandang akan wajibnya hal ini, sehingga jika tidak melakukannya maka sholatnya batal.
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
فرع في مذاهب العلماء في السجود على كمه وذيله ويده وكور عمامته وغير ذلك مما هو متصل به ، قد ذكرنا أن مذهبنا : أنه لا يصح سجوده على شيء من ذلك
“Termasuk cabang madzhab para ulama adalah sujud di atas kain lengan, buntut baju, tangannya dan udeng-udeng dan yang lainnya yang nyambung dengan tubuh sudah kami sebutkan dalam madzhab kita bahwa itu tidak sah sujudnya.” (Lihat Al Majmu 3/401)
Adapun jumhur ulama dari Abu Hanifah, Auzai, Ishaq Rahawaih dan Ahmad dalam salah satu riwayat memandang bahwa sholatnya tetap sah.
Hal ini berlandaskan hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata:
كنا نصلي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في شدة الحر ، فإذا لم يستطع أحدنا أن يمكن جبهته من الأرض يبسط ثوبه فيسجد عليه
“Kami sholat bersama Rasulullah ﷺ ketika cuaca sangat panas, maka jika salah seorang dari kami tidak bisa meletakkan dahinya di tanah maka dia menggelar bajunya dan sholat di atasnya.” (HR. Bukhari 1208 dan Muslim 620)
Hadits ini sifatnya umum baik baju yang menempel di tubuh maupun yang tidak menempel di tubuh, sehingga dengan berlandaskan hadits ini maka sholatnya sah secara umum.
Namun tentunya perbedaan pendapat seperti ini hendaknya dihindari dan dia singkap dahinya dan sujud dengannya tanpa penghalang darinya.
Syeikh Utsaimin rahimahullah ditanya terkait orang yang pakai udeng-udeng dan sholat di atasnya maka beliau menjawab:
صلاة ذلك المصلي صحيحة ، ولكن لا ينبغي أن يتخذ العمامة وقاية بينه وبين الأرض إلا من حاجة
“Sholatnya tetap sah, namun tidak sepantasnya dia pakai udeng-udengnya untuk menghalangi dahi dari tempat sujud kecuali ada hajat.” (Lihat Fatawa Utsaimin 13/519).
***
Madinah, Selasa 10 Syawal 1446 H/8 April 2025 M
Dihawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id





