Memberi hadiah kepada orang kafir diperbolehkan, terlebih untuk mengambil hati mereka supaya mau menerima Islam.
“Umar bin Khattab radhiyallahu anhu pernah memberikan hadiah baju kepada seorang musyrik di Mekkah.” (HR. Al-Bukhari, 2619).
Namun memberi hadiah kepada orang kafir untuk perayaannya maka hukumnya haram.
Dalam Kasy Al Qonna’ salah satu kitab madzhab Hambali disebutkan :
ويحرم شهود عيد اليهود والنصارى وبيعه لهم فيه، ومهاداتهم لعيدهم
“Dan haram menghadiri perayaan Yahudi dan Nasrani, menjual sesuatu kepada mereka untuk itu dan memberi hadiah kepada mereka untuk perayaan mereka.” (Lihat Kasy Qonna’, Al Hijawi 3/131).
Jika menghadiri perayaan mereka saja haram lantas bagaimana jika jadi penjaga keamanannya secara sukarela?!!!
Namun ketika para saudara nya tertimpa musibah bencana alam ujung hidung mereka malah tak kunjung nampak!!!
Begitu pula menerima hadiah orang kafir hukum asalnya adalah boleh untuk mengambil hati mereka supaya mau masuk islam.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم، فقد قدمنا عن علي -رضي الله عنه- أنه أتي بهدية النيروز فقبلها
“Dan adapun menerima hadiah dari mereka di hari raya mereka, maka kami sudah meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa beliau mendapat hadiah Nairuz (hari raya orang Majusi) dan beliau pun menerimanya.” (Lihat Iqtidho Shirot Mustaqim 2/51)
Kemudian Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga membedakan antara hadiah yang berupa sembelihan dan yang non sembelihan, dimana sembelihan tidak boleh diterima, adapun buah buah dan yang non sembelihan lainnya diperbolehkan.” (Lihat Iqtidho Sirot Mustaqim 1/251)
Namun jika hadiah tersebut bisa merusak iman seorang muslim maka hadiah tersebut hukum nya menjadi haram untuk diterima.
Jadi syarat bolehnya menerima hadiah orang kafir adalah :
1. Bukan sembelihan hari raya mereka.
2. Tidak menjadi kan penerima tasyabbuh dengan mereka.
3. Tujuan untuk ambil hati mereka bukan malah jatuh cinta kepada mereka.
Jika memang hadiah ini tidak bisa diterima karena sebab sebab di atas maka seorang muslim menjelaskan secara adab dan etika akan prinsip dalam beragama supaya tidak merusak stigma islam di mata mereka; karena target dakwah harus tetap menjadi ambisi seorang muslim dan jangan dirusak dengan citra yang buruk gara gara tidak paham cara bersikap yang benar.
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
فإذا كان قبولها أصلح، يترتب عليها تأليف قلبه، ومحبته للمسلمين، ويثيب عليها أكثر من المهدى إليه؛ قبلها
“Jika menerima hadiah membawa maslahat yang lebih kuat, membuat mereka jatuh cinta kepada islam dan kaum muslimin, membalas hadiah nya dengan yang lebih banyak, maka tidak mengapa menerima hadiahnya.
فإن كان قبولها يسبب شرًا على المسلمين، أو أن هذا المهدي يتجرأ على المسلمين، أو يؤذيهم، أو يفعل أشياء تضرهم بسبب هذه الهدية، أو المُهدَى إليه هذه الهدية تفضي إلى محبته للكافر المُهدِي، والتعاون معه فيما يضر المسلمين؛ لم يقبلها؛ لئلا تضره؛ لئلا تجره إلى الباطل.
Adapun jika menerima hadiah nya berakibat keburukan atas kaum muslimin, atau si pemberi hadiah semakin ngelunjak atas kaum muslimin, atau hadiah ini membuat si muslim jatuh hati kepada si kafir dan kerjasama yang merugikan kaum muslimin, maka ini tidak boleh diterima supaya tidak merugikan dan menyeret nya kepada kebatilan.” (Lihat Fatawa bin Baz 11557).
***
Sidayu, Ahad 23 jumadil akhir 1447 H/14 Desember 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






