Afwan tanya Ustadz, diperumahanku sekitar 40% Nashoro, saat natalan mereka suka bagi-bagi makanan. Bagaimana hukumnya makan makanan dari mereka?
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه وسلم وبعد
Dalam hal ini ada dua pembahasan utama, yaitu hadiah makanan orang kafir dan hari raya orang kafir.
Hukum asal makanan ahlu kitab adalah halal untuk kaum muslimin selama makanan itu juga halal dalam agama kita.
وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ
Artinya : “Dan makanan ahlu kitab halal untuk kalian dan makanan kalian halal untuk mereka.” (QS. Al Maidah 5)
Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima hadiah paha kambing beracun yang dihidangkan oleh seorang wanita Yahudi. (HR. Bukhari 2617).
Masalah kedua ada hari raya orang kafir.
Islam hanya mengakui 2 hari raya saja dan tidak ada yang lainnya. Sehingga semua perayaan selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha hukumnya adalah haram dan haram pula bagi kaum muslimin untuk berpartisipasi di dalamnya.
Dan jika mereka ikut berpartisipasi maka mereka masuk dalam larangan ayat ini.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya : “Saling tolong menolong lah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan lah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS Al-Maidah 2).
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
فعلى المؤمن وعلى المؤمنة الحذر من ذلك وألا يساعد في إقامة هذه الأعياد بأي شيء؛ لأنها أعياد مخالفة لشرع الله، ويقيمها أعداء الله فلا يجوز الاشتراك فيها
“Maka wajib atas mukmin untuk tidak membantu orang kafir merayakan hari raya mereka dengan cara apapun.
Karena ini semua adalah perayaan yang menyelisihi syariat Allah yang di adakan musuh musuh Allah, maka tidak boleh berpartisipasi.” (Lihat Fatawa bin Baz 6539).
Dan Syeikh Albani rahimahullah juga pernah ditanya terkait makanan orang kafir pada hari raya mereka, maka beliau menjawab :
الأعياد قضية خاصة لا يجوز للمسلمين أن يشاركوا الكفار في أعيادهم
“Urusan hari raya ini adalah urusan khusus, tidak boleh bagi kaum muslimin ikut merayakan hari orang kafir.” (Lihat Mutafarighot Syeikh Albani 167).
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
وكذلك يحرم على المسلمين التشبه بالكفار بإقامة الحفلات بهذه المناسبة ، أو تبادل الهدايا أو توزيع الحلوى ، أو أطباق الطعام ، أو تعطيل الأعمال ونحو ذلك
“Dan haram atas kaum muslimin menyerupai orang orang kafir dengan membuat pesta perayaan untuk momen ini, atau saling tukar hadiah dan bagi bagi permen, atau tumpeng, dan meliburkan kerja nya dan yang semisal nya.
ومن فعل شيئا من ذلك فهو آثم سواء فعله مجاملة ، أو توددا ، أو حياء ، أو لغير ذلك من الأسباب ؛ لأنه من المداهنة في دين الله ، ومن أسباب تقوية نفوس الكفار وفخرهم بدينهم
Dan siapa yang melakukan itu maka dia berdosa walaupun hanya sekedar basa basi, kasih sayang, malu, dan sebab lainnya, karena ini adalah bermudah mudahan terhadap agama Allah.
Dan ini juga menguatkan mental orang kafir dan membuat mereka semakin bangga dengan kekufuran mereka.” (Lihat Fatawa Syeikh Utsaimin 3/44).
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata :
لا يحل للمسلمين أن يتشبهوا بهم في شيء ، مما يختص بأعيادهم ، لا من طعام ، ولا لباس ولا اغتسال ، ولا إيقاد نيران ، ولا تبطيل عادة من معيشة أو عبادة ، وغير ذلك . ولا يحل فعل وليمة ، ولا الإهداء ، ولا البيع بما يستعان به على ذلك لأجل ذلك
“Tidak halal bagi seorang muslim menyerupai mereka dalam hal apapun yang menjadi ciri khas hari raya mereka, baik itu makanan, pakaian, mandi, tidak pula meliburkan rutinitas harian dan yang lainnya.
Tidak boleh membuat walimah (makan makan), hadiah, maupun menjual sesuatu untuk mereka pakai dalam hari raya mereka.” (Lihat Fatawa Ibnu Taimiyah 25/329).
Sehingga seorang muslim wajib meninggalkan perkara yang mubah ini jika diperuntukkan untuk hari raya mereka, adapun sekedar hadiah biasa yang tidak ada kaitannya dengan hari raya mereka maka hukum asalnya boleh walaupun bertepatan dengan hari raya mereka.
Diriwayatkan dari Ali, Aisyah, Abu Barzah radhiyallahu anhum mereka membolehkan menerimanya.” (Lihat Iqtidho Sirotul Mustaqim, Ibnu Taimiyah 1/251).
***
Muhammad Yusuf Rustam
Sumberrejo, Selasa 23 Jumadil akhir 1446 H/24 Desember 2024 M.
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






