Bismillah, alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.
Kita terkhusus masyarakat indonesia tentu tidak asing lagi dengan istilah mati suri, yaitu kondisi dimana seseorang telah dinyatakan meninggal secara klinis, namun sebenarnya masih hidup. Namun tahukah anda bahwa disana tidak hanya terdapat istilah mati suri, namun ada juga istilah yang merupakan inversi dari istilah mati suri, yaitu hidup tapi mati.
Lalu apakah yang dimaksud dengan istilah hidup tapi mati tersebut!?
Hidup tapi mati kami istilahkan bagi orang-orang yang hidup diatas bumi, beraktivitas layaknya manusia pada umumnya dan berinteraksi seperti manusia yang lainnya namun ia lupa akan tujuan ia diciptakan, jasadnya hidup namun hatinya mati, hatinya keras bak sebongkah batu, hatinya tidak mendorongnya untuk mengingat Penciptanya sedikitpun, maka orang-orang yang seperti inilah yang masuk dalam kategori hidup tapi mati.
Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah mengatakan:
“القلب الميت: هو الذي لا يعرف ربه، ولا يعبده بأمره وما يحبه ويرضاه، بل هو واقف مع شهواته ولذاته، ولو كان فيها سخط ربه وغضبه.. فهو متعبد لغير الله: حبا، وخوفا، ورجاء، ورضا، وسخطا، وتعظيما، وذلا.. فمخالطة صاحب هذا القلب سقم، ومعاشرته سم، ومجالسته هلاك”.
(إغاثة اللهفان في مصايد الشيطان : ١٢)
“Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintah-Nya, tidak merealisasikan apa yang menjadi kecintaan dan keridhoan-Nya, namun dia tetap tenggelam dalam kumbangan kelezatan syahwatnya yang menipu, meskipun dia tau itu dapat mendatangkan murka dan kemarahan-Nya, maka sejatinya dia beribadah kepada selain Allah dalam keadaan cinta, takut, harap, ridho, benci, pengagungan, dan ketundukan. Maka bergaul dengan orang yang memiliki hati seperti itu akan mendatangkan penyakit, berhubungan dengannya adalah racun, serta duduk bersamanya adalah kebinasaan. (Igatsatul Lahfan fii mashooyidis syaiton : 12).
Maka hati yang telah mati sejatinya hanya dikendalikan oleh syahwat, dan hanya dunia yang menjadi tujuannya, pemiliknya hanya meyakini bahwa kelezatan hanya terdapat pada sperma yang dia tumpahkan, perhiasan hanya terdapat pada kedudukan yang mulia dimata manusia, maka terkumpul didalam hatinya penyakit-penyakit hati yang akut seperti dengki, hasad, lalai dan lain sebagainya. Hatinya tidak mempunyai tempat untuk mengambil pelajaran, dan tidak akan pernah bisa untuk menerima nasehat.
Allahu Subhanahu wa ta’ala berfirman :
﴿ إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ﴾ [الأنعام: 36]
Artinya : “Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.” (Q.S Al An’am : 36).
Pada ayat ini, dijelaskan di dalam tafsir Wasith tentang maksud dari hati yang mati, yaitu :
“Matinya hati yaitu bagi orang-orang yang tidak mendengarkan ayat-ayat Allah dengan tadabbur, kemudian menerimanya, dan merekalah orang-orang yang menyekutukan Allah, maka Allah pasti akan membangkitkan mereka pada hari kiamat dan menghisab mereka dengan hisab yang amat sulit atas ucapan-ucapan lisan mereka yang bathil dan amalan-amalan mereka yang buruk.” (At-Tafsir Al-Wasith : 546)
Berkata ahli hikmah :
“Sungguh aneh seorang muslim, ia menangis atas kematian jasadnya, namun tidak menangis atas kematian hatinya padahal itu yang lebih besar”
Berkata Ghazali rahimahullah :
“Aku merasa heran bagi orang yang terlalu memperhatikan keindahan wajahnya agar dilihat oleh makhluk, dan tidak memperhatikan keindahan hatinya agar dilihat oleh Al-Khaliq yaitu Allah ‘Azza wa Jalla”
Dan hati yang telah mati memiliki banyak tanda-tanda, diantaranya :
1. Jauh dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, sementara mengingat Allah merupakan sebab yang mendatangkan ketenangan hati.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. (الأنفال :٢)
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Q.S. Al-Anfal : 2)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari, no. 6407 dan Muslim, no. 779)
2. Tidak mengingat Allah dengan ayat-ayat-Nya, sulit menerima ketika dinasehati, dan merasa berat ketika melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Ibnul Qoyyim Rahimahullah mengatakan :
“Mintalah hatimu pada 3 tempat, yaitu ketika mendengarkan Al Qur’an, dalam majelis ilmu, dan pada waktu-waktu tatkala engkau sendiri, namun jika engkau tidak mendapati hatimu pada 3 tempat tersebut, maka mintalah kepada Allah hati yang baru, karena sesungguhnya engkau tidak mempunyai hati” (Al-Fawaid hal.198)
3. Terlalu banyak bersenang-senang dengan banyak tertawa hingga lupa akan akhirat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ
“Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Tirmidzi 2/50, Dishahihkan Syaikh Al-Albani).
Maka semestinya bagi seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk selalu memperhatikan hatinya, karena hati merupakan inti dari seluruh anggota badan lainnya, jika ia baik maka akan baik seluruh jasadnya, namun jika hati telah rusak wal’iyadzubillah maka seluruh jasadnya pun akan rusak, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ
“Ketauhilah, sesungguhnya didalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka akan baik seluruh jasad, namun apabila dia rusak, maka seluruh jasad pun akan ikut rusak ; ketahuilah dia adalah hati.” (HR. Bukhari no, 52 dan Muslim no, 1599)
Semoga kita menjadi seorang hamba yang senantiasa memperhatikan hati kita, mengendalikannya untuk selalu taat kepada Allah, dan mempergunakannya untuk selalu berdzikir kepada Allah yang dengannya hati kita menjadi hidup, dan ketenangan pun akan senantiasa meliputinya.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar Ra’d : 28)
– Ahad, 12 Shafar 1443 H
– Dompu, Nusa Tenggara Barat
***
Penulis: Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel: Meciangi.com






