Saya sudah menikah 20 tahun, belum memiliki anak, sekarang fisik saya sudahh terlalu tua untuk hamil, apakah saya boleh memungut anak untuk mengurus ketika saya tua nanti?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Memungut anak atau mengadobsinya kemudian menasabkan anak itu kepada dirinya adalah haram hukumnya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ * ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya : “Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Ahzab : 4-5].
Ayat ini menghapus hukum bolehnya adobsi anak di awal islam, di mana adat jahiliyah waktu itu adalah mengadobsi anak kemudian menasabkan anak tersebut kepada dirinya sendiri.
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan :
وقد كانوا يعاملونهم معاملة الأبناء من كل وجه ، في الخلوة بالمحارم وغير ذلك
“Dan sungguh dahulu mereka menganggap anak angkat ini seperti anak sendiri dari semua sisi, baik dalam perkara kholwat dengan mahram dan yang lainnya.” (Lihat tafsir ibnu Katsir 418).
Artinya anak angkat laki laki yang sudah baligh boleh berduaan dengan ibu angkatnya di dalam rumah dan ini tidak masalah bagi mereka waktu itu.
Dan hari inipun terjadi hal yang sama ketika seseorang mengambil anak angkat mereka bermudah-mudahan dalam hal kholwat dan berpakaian.
Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata :
ما كنَّا ندعو زيدَ بنَ حارثةَ إلَّا زيدَ ابنَ محمَّدٍ حتَّى نزلَت ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ
“Kami tidak memanggil Zaid bin Haritsah kecuali Zaid bin Muhammad sampai turunnya ayat (Panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah).” (HR. Bukhari 4782 dan Muslim 2425).
Jadi Zaid bin Haritsah dahulu adalah budaknya Rasulullah ﷺ sebelum masa kenabiannya, kemudian beliau merdekakan dan mengadobsinya menjadi anak sampai dewasa dan masuk awal masa kenabian sampai turun ayat ini menghapus perkara jahiliyah tersebut.
Ibnu Katsir berkata :
ولهذا لما نسخ هذا الحكم ، أباح تعالى زوجة الدعي ، وتزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم بزينب بنت جحش زوجة زيد بن حارثة ، وقال : ( فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ)
“Dan oleh karena itu tatkala hukum adobsi ini dihapus maka Allah membolehkan orang tua angkat menikahi mantan istri anak adobsi, dan Rasulullah ﷺ menikah dengan Zainab bint Jahsy mantan istri Zaid bin Haritsah, dan Allah berfirman :
“(Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya.” [QS. Al Ahzab 37]. (Lihat tafsir Ibnu Katsir 418).
Dan keharaman adobsi anak model seperti ini mencakup adobsi anak laki laki maupun wanita secara umum.
Adapun jika adobsinya tidak sampai pada penasaban kepada diri sendiri dan terjaganya hukum kemahraman maka ini diperbolehkan dan tidak terlarang sebagaimana kelanjutan ayat di atas.
ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya : “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab 5].
Jadi selama anak anak adobsi tersebut masih dinasabkan kepada orang tua asli mereka maka ini tidak masalah.
Adapun jika anak pungut tersebut tidak diketahui siapa orang tuanya maka tetap tidak boleh dinasabkan kepada dirinya, akan tetapi cukup sebut namanya saja tanpa nasab, dan hal ini juga terjadi pada zaman sahabat.
Imam Qurtuby rahimahullah berkata dalam tafsirnya :
وذكر الطبري أن أبا بكرة قرأ هذه الآية وقال : أنا ممن لا يعرف أبوه ، فأنا أخوكم في الدين ومولاكم . قال الراوي عنه : ولو علم – والله – أن أباه حمار لانتمى إليه
“Dan Tobari menyebutkan bahwa Abu Bakroh membaca ayat ini dan berkata: aku termasuk yang tidak diketahui siapa bapaknya, maka aku adalah saudara kalian seagama dan maula kalian, perawi berkata: seandainya dia tahu – demi Allah – kalua bapaknya adalah keledai pasti dia akan menasabkan dirinya ke keledai tersebut.” (Lihat tafsir Qurtuby 14/113).
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
التبني لا يجوز في الإسلام، الله -جل وعلا- قال: ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ [الأحزاب:5] فإذا رباه تربية، ونسبه إلى أبيه؛ لا بأس، كونه يحسن فيه، ويربيه، وينفق عليه؛ لأنه يتيم لا أب له، أو لأنه مجهول، ما يعرف، فهذا من باب الإحسان، لكن لا ينسبه إليه، يربيه، ويحسن فيه، وينسب إلى اسم معبد لله، فلان ابن عبدالله، ابن عبدالرحمن، ابن عبدالمجيد.. إلى غير ذلك، ولا ينسبه لنفسه
Adobsi anak dalam islam tidak boleh, Allah azza wa jalla berfirman: panggillah mereka dengan nama bapak bapak mereka.
Maka jika dia merawatnya dan menasabkannya kepada bapaknya maka ini tidak mengapa, karena dia berbuat baik kepadanya, merawatnya, menafkahinya; karena dia yatim tidak punya bapak, atau karena dia tidak dikenali siapa dia, maka ini termasuk perkara ihsan; akan tetapi dengan syarat dua tidak menasabkan kepada dirinya, akan tetapi menasabkan kepada nama yang ber Abdullah, seperti fulan bin Abdullah, ibnu Abdurrahman, ibnu Abdul Majid dll.” (Lihat fatawa nur ala darb, bin Baz 11437).
Semoga bermanfaat.
***
Gresik, Malam Rabu 28 Dzulqo’dah 1445 H / 4 Juni 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






