Bagaimana hukumnya membenci orang-orang yang bermaksiat kepada Allah? Apakah berdosa jika kita membenci mereka? Atau lebih baik hanya membenci perbuatannya saja, tidak dengan orangnya?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Manusia tidak ada yang bersih dan tidak ada yang kotor secara total, sebaik apapun seseorang akan tetap memiliki sisi kekurangan, dan seburuk apapun seseorang tetap memiliki sisi kebaikan.
Dan seorang mukmin dituntut memiliki sikap yang proporsional sesuai dengan porsi yang telah ditetapkan dalam dalil. Inilah kunci dalam mengarungi samudera bermuamalah dengan manusia siapapun mereka.
Dan siapa yang tidak menerapkan kaidah ini pasti akan terjatuh pada lembah ghuluw (berlebihan) entah dari sisi cinta atau sisi benci.
Kita dapati sebagian begitu menyanjung orang yang dia agungkan yang ujung ujungnya dia pasti akan kecewa terhadap orang tersebut suatu hari nanti.
Begitu pula kita dapati juga ada yang begitu benci kepada seseorang di mana sudah tidak ada pintu maaf lagi baginya sehingga dia pasti akan menyesali sikapnya tersebut suatu saat nanti.
Ibnu Taimiyah memiliki kaedah yang sangat bagus dalam masalah ini :
فأما الحمد والذم والحب والبعض والموالاة والمعاداة فإنما تكون بالأشياء التي أنزل الله بها سلطانه، وسلطانه كتابه، فمن كان مؤمناً وجبت موالاته من أي صنف كان، ومن كان كافراً وجبت معاداته من أي صنف كان
“Adapun sanjungan, celaan, suka, benci, berpihak, berlawanan semua ini wajib dibangun di atas wahyu yang Allah turunkan, siapa yang beriman maka wajib didukung dari kelompok manapun dia, dan siapa yang kafir maka wajib dimusuhi siapapun dia.”
ومن كان فيه إيمان وفيه فجور أعطى من الموالاة بحسب إيمانه ومن البغض بحسب فجوره ولا يخرج من الإيمان بالكلية بمجرد الذنوب والمعاصي
“Dan siapa yang memiliki iman dan perbuatan dosa maka dia didukung sesuai kadar imannya dan dibenci sesuai kadar dosanya dan dia tidak kafir secara totalitas hanya karena dosa dan maksiatnya.”
قال الله تعالى (وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما، فإن بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغي حتى تفيء إلى أمر الله، فإن فاءت فأصلحوا بينهما بالعدل واقسطوا إن الله يحب المقسطين – إلى قوله – إنما المؤمنون أخوة) فجعلهم أخوة مع وجود الاقتتال والبغي
“Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan jika dua kelompok dari kaum mukminin berperang maka damaikanlah antara keduanya, maka jika salah satunya melampaui batas atas yang lain maka perangi yang melampaui batas itu sampai kembali lurus ke jalan Allah, maka jika sudah lurus maka damaikanlah keduanya dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang adil.” (QS. Al Hujurat 8).
Maka Allah masih menjadikan mereka saudara seiman walaupun mereka saling berperang dan berbuat dzalim.” (Lihat majmu fatawa 5/108).
فليتدبر المؤمن الفرق بين هذين النوعين، فما أكثر ما يلتبس أحدهما بالآخر، وليعلم أن المؤمن تجب موالاته وإن ظلمك واعتدى عليك، والكافر تجب معاداته وإن أعطاك وأحسن إليك؛ فإن الله سبحانه بعث الرسل وأنزل الكتب ليكون الدين كله لله، فيكون الحب لأوليائه والبغض لأعدائه، والإكرام لأوليائه، والإهانة لأعدائه، والثواب لأوليائه، والعقاب لأعدائه.
“Maka renungkanlah wahai mukmin perbedaan antara 2 jenis ini, betapa banyak yang salah kaprah menyikapi 2 hal ini.
Dan ketahuilah bahwa seorang mukmin wajib didukung walaupun dia mendzalimimu dan melampaui batas, dan orang kafir wajib dimusuhi walaupun dia memberimu sesuatu dan telah berbuat baik padamu; karena Allah Ta’ala mengutus para Rasul dan menurunkan KitabNya supaya agama semuanya untuk Allah Ta’ala.
Sehingga cinta wajib diberikan kepada para waliNya dan kebencian wajib ditujukan kepada MusuhNya, wajib memuliakan para waliNya dan menghinakan para MusuhNya, pahala untuk para waliNya dan hukuman untuk para musuhNya.
وإذا اجتمع فى الرجل الواحد خيرٌ وشَرٌّ، وفجور وطاعة، ومعصية وسنة وبدعة؛ استحَقَّ من الموالاة والثواب بقدر ما فيه من الخير، واستَحَقَّ من المعاداة والعقاب بحسب ما فيه من الشر، فيجتمع فى الشخص الواحد موجبات الإكرام والإهانة، فيجتمع له من هذا وهذا، كاللص الفقير تُقطَع يده لسرقته، ويُعطَى من بيت المال ما يكفيه لحاجته، هذا هو الأصل الذى اتَّفَق عليه أهل السنة والجماعة
“Dan jika berkumpul pada seseorang kebaikan dan keburukan, dosa dan ketaatan dan maksiat, sunnah dan bid’ah maka dia berhak mendapatkan dukungan dan pahala sesuai dengan kebaikan yang ada padanya, dan berhak mendapat permusuhan dan hukuman sesuai dengan keburukan yang ada padanya.
Maka pada satu orang berkumpul hal hal yang mewajibkan kemuliaan dan kehinaan, seperti seorang pencuri yang miskin dipotong tangannya dan dia diberi jaminan dari negara sesuai kebutuhannya. Inilah hokum asal yang telah disepakati Ahlu Sunnah wal Jama’ah.” (Lihat majmu fatawa 28/209).
Dari sini kita bisa memahami bahwa jika dia seorang mukmin maka wajib dicintai dan dibenci sesuai kadar perbuatan dosanya, tidak boleh berlebihan dan tidak boleh tidak benci.
Semoga bermanfaat.
***
Gresik, Malam Ahad 25 Dzulqo’dah 1445 H / 1 Juni 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






