Bismillah wassholatu wassalaamu ‘ala Rosulillah.
Setiap manusia yang telah meninggal maupun yang masih hidup di atas dunia ini sungguh telah melewati alam ruh atau disebut juga alam janin, ia hidup di sana kurang lebih sembilan bulan lamanya, Allah jadikan hidupnya bergantung kepada ibunya, kecil dan sangat lemah begitulah keadaan asal dari manusia.
Dan di sana juga setiap manusia telah mengambil janji yang sangat agung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji yang menjadi tujuan setiap manusia yang lahir di dunia ini, namun ketika manusia terlahir dan menjalani kehidupan di dunia, ia lupa dengan janji tersebut, ia hidup seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, dan begitulah ketentuan Allah ‘Azza wa Jalla dengan hikmah dari-Nya pula kita kembali diingatkan dengan janji tersebut, di dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf 7:172)
Imam At Thabari mengatakan dalam tafsirnya:
“Yaitu ingatlah ketika Allah mengeluarkan anak-anak adam dari tulang sulbi bapak-bapak mereka, dan membuat mereka berikrar untuk mentauhidkan-Nya semata, dan pada saat itu mereka pun saling bersaksi atas ikrar tersebut”. (Tafsir Thabari jilid 3 halaman 521)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
أخذ الله الميثاق من ظهر آدم بنعمان ” يعني عرفة ” فأخرج من صلبه كل ذرية ذرأها , فنثرهم بين يديه كالذر , ثم كلمهم فتلا فقال : ألست بربكم ؟ قالوا بلى شهدنا
“Sesungguhnya Allah telah mengambil janji dari setiap anak adam di lembah Na’man pada hari Arafah, dan Allah mengeluarkan dari tulang sulbi adam seluruh manusia yang ada, kemudian Allah jadikan setiap mereka berpencar menghadap-Nya seperti kumpulan semut, kemudian Allah berbicara langsung dengan mereka seraya berkata: “Bukankah aku ini Tuhan kalian?”, mereka berkata: “Tentu kami bersaksi atas itu”. (H.R Ahmad 2455)
Dalam hadist di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil janji dari setiap anak adam di lembah yang berada di belakang bukit arafah yang bernama Na’man, janji itu diambil pada hari arafah, hari terbaik dalam setahun yaitu hari kesembilan pada bulan Dzulhijjah, pada saat itu Allah ‘Azza wa Jalla telah berbicara langsung kepada setiap manusia, satu persatu tanpa perantara maupun penghalang, agar seluruh manusia berjanji untuk mentauhidkan-Nya semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kemudian seluruh manusia pun setuju dan mengambil janji tersebut.
Ketika telah lahir di dunia ini Allah jadikan setiap manusia lupa dengan janji tersebut sebagai bentuk ujian bagi mereka, dan membuat mereka mengingat kembali dengan diutusnya para Rasul agar mereka bisa menunaikan janji yg telah mereka ambil ketika berada dalam alam janin, kemudian Allah menurunkan Al Qur’an yang seluruh kandungannya meliputi perintah untuk mentauhidkan-Nya dan larangan dari segala bentuk kesyirikan.
Namun kebanyakan manusia lalai akan hal ini dan enggan untuk menepati janji tersebut, diantara mereka ada yang mengingkari para Rasul karena sombong, diantara mereka ada yang sangat cinta akan dunia hingga lupa akan hari berbangkit, bahkan diantara mereka ada yang tidak meyakini adanya Allah yang telah menciptakannya, wal’iyadzubillah. Jika manusia mengingkari janji tersebut, lalu jawaban seperti apa yang akan ia sampaikan kepada Allah pada hari dimana kulit-kulit bersaksi atas pemiliknya!?
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mengingat akan janji ini, berusaha menunaikannya dengan sebaik-baiknya, menjauhi segala bentuk kesyirikan yang membuat pelakunya binasa di akhirat kelak, bahkan Allah sangat mewanti-wanti agar kita tidak meninggal kecuali dalam keadaan mentauhidkan-Nya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imron 3:102)
Wallahu A’lam wa Ahkam
***
Surabaya, 7 Muharram 1445 Hijriyyah
Penulis: Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel: meciangi.or.id






