Bismillah wassholatu wassalaamu ‘ala rosulillah..
Maryam adalah salah satu wanita yang sangat dihormati dalam agama Islam. Ia dipilih oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk menjadi ibu dari Nabi Isa ‘alaihissalam dan menjadi contoh wanita yang penuh ketakwaan, kesabaran, dan keimanan yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Maryam digambarkan sebagai wanita yang suci, dijaga oleh Allah, dan memiliki keistimewaan luar biasa yang menjadikannya teladan bagi umat manusia.
1. Maryam sebagai Wanita Teladan
Maryam bintu Imran adalah wanita yang diberi kehormatan tinggi oleh Allah. Dia disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu dari empat wanita yang sempurna dalam sejarah umat manusia.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
“فَضَّلَتْ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَٰلَمِينَ أَرْبَعٌّ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ.”
Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata:
“Empat wanita yang paling utama di dunia ini adalah: Maryam binti Imran, Fatimah binti Muhammad صلى الله عليه وسلم, Khadijah binti Khuwaylid, dan Asiah istri Fir’aun.”
(Riwayat Muslim, No. 2431)
Maryam adalah contoh nyata dari wanita yang menjaga kesucian dirinya dan hidup sesuai dengan tuntunan Allah. Ia dipilih oleh Allah untuk melahirkan Nabi Isa tanpa seorang suami, yang merupakan sebuah mukjizat yang amat besar.
Firman Allah tentang Maryam dalam Surah At-Tahrim (66:12):
وَمَرْيَمَ ٱبْنَتَ عِمْرَٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتْ مِنَ ٱلْقَٰنِتِينَ
(Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.
2. Keluarga Imran: Keturunan yang Saleh
Keluarga Imran dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Imran bin Matsan bin Al-Azar bin Al-Yud… bin Sulaiman bin Daud ‘alaihis salam. Nasabnya tersambung hingga ke Nabi Daud ‘alaihis salam. Dalam bahasa Ibrani, Imran disebut dengan Imram. Dalam buku-buku Nasrani namanya disebut dengan Yuhaqim.
Keluarga Imran adalah turunan (cabang) terakhir orang-orang beriman dari turunan Bani Israil. Namun antara mereka dengan Nabi Ya’qub terpisah beberapa kurun lamanya.
Maryam berasal dari keluarga yang sangat mulia, Ayahnya, Imran, adalah seorang pria yang sangat taat kepada Allah, begitu juga dengan ibunya, Hannah. Keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang penuh dengan kebaikan dan ketakwaan. Sebelum Maryam dilahirkan, ibunya berdoa agar anak yang dilahirkannya nanti menjadi hamba yang saleh dan dipersembahkan untuk beribadah kepada Allah.
Firman Allah dalam Surah Al-Imran (3:35-36):
إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًۭا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
(Ingatlah ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah bernazar kepada-Mu apa yang ada dalam rahimku untuk menjadi hamba yang bebas (beribadah) kepada-Mu, maka terimalah dari saya. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”)
3. Sifat Maryam dalam Al-Qur’an
Maryam digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai wanita yang memiliki sifat-sifat mulia, seperti kesucian, kesabaran, dan keteguhan hati. Allah berfirman bahwa Maryam adalah wanita yang sangat menjaga kehormatannya, bahkan sejak muda ia sudah menunjukkan kepatuhan dan pengabdian yang besar kepada Allah.
Firman Allah dalam Surah Ali Imran (3:42):
وَإِذْ قَالَتِ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرْيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصْطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلْعَٰلَمِينَ
(Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).)
4. Maryam Menjaga Diri dari Laki-Laki
Salah satu aspek penting dari kehidupan Maryam adalah bagaimana dia menjaga kesucian dirinya. Maryam dijaga oleh Allah agar terhindar dari godaan duniawi, dan ia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki. Ketika Maryam diberi kabar gembira tentang kelahiran Nabi Isa, ia sangat terkejut dan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, mengingat ia adalah seorang wanita yang menjaga dirinya dari laki-laki.
Firman Allah dalam Surah Al-Imran (3:47):
قَالَتۡ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٞ وَلَمۡ يَمۡسَسۡنِي بَشَرٞۖ قَالَ كَذَٰلِكِ ٱللَّهُ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
(“Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu” )
5. Keadaan Maryam Saat Melahirkan Nabi Isa
Maryam mengalami kesulitan yang luar biasa ketika melahirkan Nabi Isa. Saat melahirkan, Maryam merasa sangat tertekan dan berada dalam kesakitan yang mendalam. Allah ‘Azza wa Jalla pun memberikan pertolongan dengan memberikan mukjizat: pohon kurma yang menggugurkan buahnya dan air yang mengalir untuk diminum, serta perintah untuk tidak takut dan tidak bersedih hati. Pada saat itu, Allah ‘Azza wa Jalla juga memerintahkan Maryam untuk berbicara kepada orang-orang hanya dengan isyarat, sementara bayi Isa akan berbicara untuknya.
Firman Allah dalam Surah Maryam (19:23-26):
فَجَآءَهَا ٱلْمَخَٰضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلْنَّخْلَةِ ۖ قَالَتْ يَٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيّٰۚ
(Dan, (ingatlah) ketika saat melahirkan ia berpegangan pada pangkal pohon kurma dan berkata: “Aduh, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti.”)
فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِى ۖ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيّٰۢ
(Lalu malaikat Jibril bersabda: “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menyediakan di bawahmu sebuah sungai.”)
6. Berpuasa dari Berbicara: Perintah Allah kepada Maryam
Ketika Maryam melahirkan Nabi Isa dan orang-orang menuduhnya tanpa dasar, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Maryam untuk tidak berbicara dan hanya memberikan isyarat. Nabi Isa yang masih bayi berbicara untuk membela ibunya, mengklarifikasi bahwa ia adalah utusan Allah.
Firman Allah dalam Surah Maryam (19:26-27):
فَكُلِى وَٱشْرَبِى وَقَرِّى عَيْنًۭا ۚ فَإِمَّا تَرَيْنَ مِنَ ٱلْبَشَرِ أَحَدًۭا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًۭا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيّٰۚ
(Maka makanlah, minumlah, dan bersenang hatilah. Jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah: “Sesungguhnya aku bernazar kepada Tuhan yang Maha Pemurah untuk berpuasa, maka aku tidak akan berbicara kepada seorang manusia pun pada hari ini.”)
7. Komentar Kaumnya Terhadap Maryam
Ketika Maryam kembali ke kaumnya setelah melahirkan Nabi Isa, mereka sangat terkejut dan menuduhnya tanpa bukti, begitu keji apa yang mereka katakan. Sangat berat beban yang dipikul oleh Maryam, hatinya sangat sedih mendengar celaan, cacian bahkan tuduhan-tuduhan yang mengarah ke orangtuanya. Namun, Maryam hanya bisa menunjukkan anaknya dan tidak berbicara, karena Allah Ta’ala yang memberi mukjizat melalui bayi Isa yang baru lahir.
Firman Allah dalam Surah Maryam (19:27-30):
…
“Maka Maryam datang kepada kaumnya dengan membawa anak itu. Mereka berkata: “Wahai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
Wahai sauadara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”
Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”
Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”
Pelajaran yang Bisa Diambil dari Kisah Maryam
- Ketakwaan dan Keimanan yang Kuat: Maryam ‘alaihassalam adalah teladan wanita yang selalu berpegang teguh pada keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Ia senantiasa menjaga diri dari segala godaan duniawi.
- Kehormatan dan Kesucian: Maryam menjaga kehormatannya dengan sangat baik, bahkan ia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki. Ini mengajarkan kita untuk menjaga diri dari segala hal yang dapat merusak kehormatan.
- Kesabaran dalam Menghadapi Ujian: Maryam menghadapi cobaan berat ketika melahirkan Nabi Isa, namun ia tetap sabar dan menerima takdir Allah dengan penuh keteguhan hati.
- Keajaiban Allah yang Tak Terbatas: Kisah kelahiran Nabi Isa tanpa ayah menunjukkan bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Mukjizat ini mengingatkan kita bahwa Allah dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat kita pahami.
- Kepatuhan pada Perintah Allah: Ketika Maryam diperintahkan untuk berpuasa bicara, ia taat dengan sepenuh hati padahal itu sangat berat dilakukan dimana penjelasan adalah yang paling dibutuhkan saat itu, namun apa yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla maka itulah yang terbaik, dengan ketaatan-ketaatan Maryam ini Allah Ta’ala meninggikan derajatnya. Ini juga mengajarkan kita pentingnya taat pada perintah Allah ‘Azza wa Jalla dalam segala situasi.
Kesimpulan
Kisah Maryam adalah cerita yang penuh dengan pelajaran penting tentang iman, ketakwaan, kesabaran, dan keteguhan hati. Maryam menunjukkan bahwa seorang wanita dapat menjadi teladan bagi umat manusia dalam menjaga kehormatan diri, bersabar dalam menghadapi ujian, dan selalu taat kepada Allah Ta’ala. Kisahnya juga menunjukkan betapa besar kuasa Allah Ta’ala yang tidak terbatas dalam menciptakan mukjizat, serta bagaimana setiap ujian dapat menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi-Nya.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisahnya, terutama dalam hal menjaga kehormatan, sabar dalam menghadapi ujian, dan taat kepada Allah Ta’ala dalam segala kondisi dan menjadikan kisahnya sebagai contoh bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
…
“Seperti Maryam, wanita yang menjaga kesucian, selalu berpegang pada iman, dan tak pernah ragu pada takdir Allah, kita diajarkan untuk bersabar, menjaga kehormatan, dan percaya bahwa Allah selalu memberikan jalan terbaik.”
***
Gunungkidul, Yogyakarta, 14 Rajab 1446 H/14 Januari 2025 M.
Ditulis oleh : Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel : Meciangi.or.id


