(Transkrip rekaman audio video Khutbah Jum’at Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA hafizhahuLLAAHU ta’ala di Masjid Agung Sleman tanggal 2 Shafar 1443 H/ 10 September 2021 M, pukul 12.00 WIB yang diunggah oleh channel youtube Ustadz Afifi Abdul Wadud)
Khutbah 1:
Innal hamda lillaah, nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruh, wana’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalina. Man yahdihillaah falaa mudhillla lah, wa man yudhlil falaa haadiya lah. Asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh laa nabiyya ba’dah. Allaahumma shalli wa sallim wa baarik alaa nabiyyikal mushtofaa wa ‘alaa aalihi wa shahbih, waman tabi’ahum biihsaanin ilaa yaumiddiin.
Ushiinii wa iyyaakum bitaqwallaah, wa qad qaalallaahu ta’aala fii kitaabihil kariim: “Yaa ayyuhal ladziina aamanuut taqullaaha wa quulu qaulan sadiidaa yushlih lakum a’maalakum wayaghfirlakum dzunuubakum wa may yuthi’illaaha wa rasuulahu faqad faaza fawzan ‘azhiimaa”. Amma ba’du.
Ma’asyiral muslimin rahiimanii wa rahiimakumullah.
Di antara ayat Allah subhaanahu wa ta’ala yang menjadi penegasan Allah dan memuat kaidah-kaidah penting dalam kita beragama adalah firman Allah subhaanahu wa ta’ala dalam surat Muhammad ayat yang ke sembilan belas:
فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ
Artinya : “Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang sebenarnya kecuali Allah, dan minta ampunlah terhadap dosamu dan untuk kaum muslimin dan muslimat kaum mukminiin dan kaum mukminat. Dan Allah mengetahui usaha kalian dan tempat tinggal kalian.” (Muhammad : 19)
Jamaah sidang Jum’at rahimanii wa rahimakumullah…
Ayat ini memiliki poin-poin penting yang layak untuk kita perhatikan bersama. Yang pertama, penegasan Allah taala fa’lam maka ketahuilah maka berilmulah. Dan hakekat ilmu adalah idraku syai’ ‘alaa maa huwa ‘alaih. Mengenal sesuatu sebagaimana hakikatnya sehingga tahu persis. Inilah perkara pertama yang terpenting di dalam agama kita. Wajibnya kita berilmu dan keseluruhan agama ini diperintahkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala agar benar-benar kita menjadi hamba yang menegakkan segala amalan kita di atas ilmu, dengan dasar ilmu. Yaitu dengan dalil-dalil yang jelas, sehingga tidak hanya dengan perasaan dan hawa nafsu yang Allah menegaskan iyyat tabi’uuna illazh zhann, wa maa tahwal anfus (Artinya : Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka). Tidak lain yang mereka ikuti, apabila mereka tidak mengikuti wahyu yang diajarkan oleh Allah, yang mereka ikuti adalah sangkaan-sangkaan belaka dan hawa nafsu semata-mata.
Yang kedua, ayat ini mengajarkan kepada kita annahu laa ilaaha illallaah (Artinya : “Bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah). Di antara ilmu sekian banyak ilmu, yang wajib kita ketahui, maka ilmu pertama yang wajib kita ketahui dan kita pahami adalah ilmu tentang kalimat laa ilaaha illallaah. Kalimat yang mengajarkan kepada kita, bahwa hanya Allah sesembahan yang sebenarnya karena hanya Allah yang menciptakan, yang menghidupkan, yang mematikan, yang memiliki segala yang ada, yang mengurus segala urusan para makhlukNya. Adapun selain Allah, apabila disembah oleh para manusia, mereka semuanya sesembahan yang bathil. Sebagaimana Allah menegaskan dzaalika biannaLLAHA huwal haqq, wa anna maa yad’uuna min duunihi huwal baathil. Yang demikian itu sesungguhnya Allah adalah sesembahan yang haq, sesembahan yang sebenarnya, karena Allah yang memiliki rububiyah, Allah yang menciptakan, Allah yang memiliki segalanya, Allah yang mengatur segalanya. Dan selain Allah, segala yang disembah selain Allah adalah sembahan yang batil karena mereka tidak memiliki rububiyah dan tidak memiliki kesempurnaan sifat.
Aquulu qawli haadza, wa astaghfirullaahal azhiim, innahu huwal Ghafuurur Rahiim…
Khutbah 2:
Innal hamda lillaah, wa bihii nasta’iinuhu ‘alaa umuurid diini waddunya, Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa ashhaabihii ajma’iin.
Ma’asyiral muslimin rahiimanii wa rahiimakumullah…
Di antara faidah ayat telah kita bacakan, di antara kunci ketaqwaan kepada Allah atau di antara yang Allah ajarkan dalam ayat tersebut, setelah kita diwajibkan Allah menegakkan agama secara umum fahakim wajhaka liddiini haniifa (hadapkan wajah Anda kepada agama yang hanif ini). Hendaklah keseluruhan hidup kita benar-benar kita arahkan untuk menghidupkan agama Allah yang hanif ini. Dan intisari dalam agama kita, yang membedakan dengan seluruh agama yang ada, yang tidak ada Islam kecuali dengan ini, dan ini menjadi kunci surgaNya, dan yang akan memastikan seseorang masuk jannah dan selamat dari neraka adalah mewujudkan kalimat Laa ilaaha illallaah. Yang bobot kalimat ini lebih berat bila dibandingkan langit yang tujuh dan bumi dengan seisinya yang kalimat ini akan bisa menghapuskan dosa sebesar apapun.
Kemudian yang ketiga dalam ayat tersebut wastaghfir lidzambik walilmu’miniina wal mu’minaat, hendaklah kita menyadari sepenuhnya, bahwa sehebat apapun upaya kita untuk menjadi hamba yang bertaqwa, maka pasti kita akan banyak tergelincir dalam kesalahan, dalam kekurangan, sehingga kita diperintahkan Allah untuk banyak-banyak beristighfar kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Bahkan Nabi sendiri telah menjadi teladan di dalam hal ini, beliau tidak kurang beristighfar dalam sehari 70 kali sampai 100 kali. Sehingga seorang mukmin dia tidak akan pernah menyatakan dirinya, imannya seperti Malaikat Jibril, akan tetapi dia senantiasa menyadari segala kekurangan dia dalam beragama, sehingga senantiasa berharap terhadap ampunan-ampunan Allah. Selalu berusaha untuk melakukan amal-amal yang bisa mendatangkan ampunan Allah subhaanahu wa ta’ala.
Yang keempat, atau yang terakhir, bahwa kunci dalam kita mewujudkan ketaqwaan kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, adalah menanamkan rasa muraqabah. Wallahu ya’lamu mutaqallabakum wa matswaakum, (bahwa Allah mengetahui segala gerak gerik, segala usaha kalian dan tempat tinggal kalian. Apapun yang kita lakukan, dimanapun kita berada, Allah mengetahui persis keadaan kita. Dan inilah kunci ketaqwaan seorang hamba, dia akan bisa dengan mudah meninggalkan kemaksiatan, apabila dia yakin seyakin-yakinnya, bahwa dimanapun dia akan dilihat oleh Allah dan tidak ada yang terlepas dari pantauan Allah subhaanahu wa ta’ala. Mudah-mudahan, Allah subhaanahu wa ta’ala menjadikan kita hamba yang senantiasa memiliki perhatian besar kepada ilmu, sebab kunci kebaikan seorang muslim ada pada ilmu. Semoga kita menjadi hamba Allah yang memperhatikan tauhid kita karena ini merupakan kunci urge kita, yang apabila kita kehilangan kunci ini atau rusak kunci kita, kita tidak akan bisa membuka pintu jannah. Dan semoga Allah menjadikan, menanamkan dalam hati kita, senantiasa kesadaran penuh bahwa kita hamba yang senantiasa banyak salah dan kurangnya. Sehingga banyak beristighfar kepada Allah, tadzallul di hadapan Allah, bersimpuh di hadapan Allah dan benar-benar kita senantiasa tertanam keyakinan Allah melihat segala gerak gerik kehidupan kita.
Innallaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna ‘alan nabiyy, yaa ayyuhal ladziina aamanuu shallu ‘alaihi wa sallimu tasliiman, Allahummaghfir lil mu’miniina wal mu’minaat, wal muslimiina wal muslimaat al ahyaa-i minhum wal amwaat, rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytanaa wa hablanaa milladunka rahmah, innaka antal Wahhaab. Allahumma ashlih lanaa diinanaa alladzii huwa ishmatu amrinaa. Allahumma ashlih lanaa dunyaanaa allatii fiihaa ma’aasyuuna. Allahumma ashlih lanaa aakhiratanaa allatii fiihaa ma’aaduunaa. Waj’alil hayaata ziyaadatal lanaa min kulli khair, waj’alil mawta raahatal lanaa min kulli syarr. Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar, wa qinaa ‘adzaaban naar. Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Aqiimusshshalaah…
Sumatera Barat, 6 Rabiul Awwal 1443 H/12 Oktober 2021
***
(Ditranskrip oleh al faqir ilallaah Ibnu Zuhair Al-Minankabawiyy)
Artikel : Meciangi.com






