: أما بعد
Jama’ah sidang Jum’at رحمنى و رحمكم الله…
Bulan ini secara Hijriah adalah bulan Rabiul Awwal. Di bulan ini pernah terjadi dua peristiwa besar. Dua peristiwa yang mengubah arah sejarah kehidupan umat manusia. Dua peristiwa agung yang mempengaruhi kehidupan kita disini dan kehidupan umat-umat yang lain di seluruh penjuru dunia. Jarak antara satu peristiwa ini dengan peristiwa yang ke 2 di bulan yang sama ini adalah 63 tahun.
Kedua peristiwa ini mau atau tidak mau pasti akan teringat dan tak akan pernah lekang dalan memori ingatan kita.
Adapun peristiwa pertama wahai Jama’ah رحمني و رحمكم adalah peristiwa lahirnya Nabi Muhammad ﷺ, ia laksana matahari yang menyinari alam semesta setelah gelapnya. Sebaik-baik manusia. Pemimpinnya para Nabi dan Rosul. Hamba yang terkenal dengan kejujuran dan amanahnya. Ia pun menjadi khalilurrohmaan. Ia Teladan dan panutan kita. Sehingga para ulama’ mengibaratkan bahwasanya ﷺ
ميزان الأكبر adalah timbangan terbesar.
Dalam masalah-masalah kepemimpinan beliau lah timbangannya. Dalam masalah-masalah akhlak adab mu’amalah bersama teman, kerabat , anak dan istri beliau lah timbangannya. Dalam masalah-masalah pengamalan syariat beliau lah timbangannya.
Dalam seluruh masalah-masalah kehidupan umat manusia yang berkaitan dengan kebahagiaan dunia dan akhirat beliau lah timbangannya. Dan karena sebab beliau lah Allah Ta’ala angkat derajat umat manusia yang sebelumnya berada dalam kehinaan dan kejahilan.
Sebab beliau lah suatu negri terpancar ilmu dan keberkahan. Kita semua akan berada dalam kebinasaan dan kehancuran apabila tidak mengikuti petunjuknya.
Siapa Abu Bakar dahulu sebelum ia mengambil petunjuk Nabi ﷺ. Siapa Umar bin Khattab dahulu sebelum ia mengambil petunjuk Nabi ﷺ. Siapa Khalid bin walid dahulu sebelum ia mengambil petunjuk Nabi ﷺ.
Siapa gerangan imam Asy-Syafi’i, Imam Malik, Imam al-Bukhari, Imam Muslim seandainya mereka meninggalkan petunjuk Nabi ﷺ.
Jama’ah رحمني و رحمكم…
Nabi ﷺ adalah imamnya para imam, alimnya para Allamah. Allah Ta’ala Rabb semesta alam bersaksi tentang diri beliau dalam Al-Qur’an :
نٓ ۚ وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ. مَآ أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ. وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ. وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ.
Artinya : “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam : 1-4)
Dan dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ
(Al Ahzab 33:21)
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21).
Jama’ah kaum muslimin رحمنى و رحمكم…
Jumhur ulama mengatakan bahwasanya Nabi ﷺ lahir di bulan ini bulan Rabi’ul Awwal namun mereka berselisih tentang kapan tanggalnya. Diantara mereka berpendapat tanggal 2 Rabiul Awwal, dan diantara mereka berpendapat tanggal 8 Rabi’ul Awwal, dan diantara mereka ada yang berpendapat tanggal 9 Rabi’ul Awwal, dan diantara mereka ada yang bberpendapat tanggal12 Rabiul awwal.
Perselisihan mereka menunjukkan bahwasanya para ulama tidak memiliki perhatian besar kapan tepatnya Nabi ﷺ dilahirkan.
Perselisihan para ulama tentang tanggal lahirnya Nabi ﷺ menunjukkan bahwasanya mereka tidak merayakan perayaan maulid Nabi. Seandainya mereka merayakannya, sudah barang tentu mereka sepakat dalam menentukan tanggal pasti lahirnya Nabi dan mereka tidak mungkin berselisih.
Jama’ah kaum muslimin رحمني و رحمكم…
Adapun perayaan maulid nabi yang ada pada hari-hari ini yang sebagian kaum muslimin di negeri kita merayakannya di tanggal 12 Rabiul Awwal maka sungguh tidak ada contohnya dari generasi pertama dari kalangan umat ini. Perayaan-perayaan itu muncul 400 tahun setelahnya. Setelah sebagian kaum muslimin mengira bahwasanya bentuk kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah merayakan 1 hari kelahirannya dalam satu tahun.
Maka paradigma semacam itu tidaklah benar. Paradigma bahwasanya bentuk kecintaan kepada Nabi adalah merayakan hari lahirnya adalah tidaklah sesuai dengan petunjuk para sahabat.
Jama’ah kaum muslimin رحمني و رحمكم…
Kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah bentuk kecintaan yang dibarengi pengagungan kepada beliau, yang kemudian kecintaan ini menjadikan ia lebih mengedepankan Rasulullah ﷺ atas dirinya, dan menjadikan ia juga lebih mengedepankan petunjuknya diatas harta dan anak-anak yang ia miliki.
Nabi ﷺ bersabda :
لا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْهِ مِن والِدِهِ ووَلَدِهِ والنّاسِ أجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalain sehingga aku lebih ia cintai dari pada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia” (HR. Al-Bukhori, no.15).
Hadits tersebut menunjukkan hakikat kecintaan terhadap Nabi ﷺ.
Dalam hadits yang lain juga diriwayatkan :
مِنْ أشَدِّ أُمَّتي لي حُبًّا، ناسٌ يَكونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أحَدُهُمْ لو رَآنِي بأَهْلِهِ ومالِهِ
“Diantara umatku sepeninggalku yang sangat mencintaiku adalah, mereka yang sangat ingin melihatku walaupun harus mengorbankan keluarga dan hartanya.” (HR. Muslim, no.2832).
Bentuk kecintaan seperti ini lah yang membawa hamba untuk mengikuti petunjuknya dan mengikuti jalannya ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya : “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31).
Dalam sebuah syair disebutkan :
إن المحب لمن يحب مطيع
“Sesungguhnya sang pencinta terhadap orang yang ia cintai amtlah taat”.
Jama’ah kaum muslimin رحمني و رحمكم…
Kecintaan kita kepada Nabi juga bisa dilihat bagaimana perhatikan kita terhadap sejarah kehidupan beliau. Sehingga kita bisa mengambil Ibrah darinya dalam perjalanan hidup kita di dunia ini.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم و نفعني و إياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم و تقبل الله مني و منكم تلاوته أقول ما تسمعون و أستغفر الله لي و لكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah ke 2 :
الحمدُ اللهِ على إحسانه و الشكر له على توفيقه و امتنانه أشهد ان لا اله الا الله تعظيما لشأنه و أشهد ان محمدا عبده و رسوله الداعي إلى رضوانه . و صلوات الله وسلامه عليه و على آله و أهله و إخوانه
أما بعد
Jama’ah kaum muslimin رحمنى و رحمكم الله…
Kejadian besar kedua di bulan ini Rabiul Awwal adalah wafatnya Nabi ﷺ. Beliau wafat hari senin, tanggal 12 Rabiul Awwal.
Nabi ﷺ adalah hamba Allah yang paling semangat dalam mengerjakan sholat.
Suatu saat ketika menjelang kematian. dan beliau pun hendak sholat, beliau pun pingsan karena penyakit yang beliau rasakan semakin menguat. Ketika itu kalimat pertama yang beliau ucapkan ketika siuman adalah :
أصلى الناس؟
“Apakah manusia sudah sholat?”.
لا يا رسول و هم ينتظرونك
“Belum wahai Rasulullah mereka menunggumu”.
Kemudian beliau pun berwudhu dan berjalan tertatih kemudian pingsan kembali. Ketika siuman dari pingsan beliau ucapkan pesis seperti sebelumnya :
أصلى الناس؟
“Apakah manusia sudah sholat?”.
لا يا رسول و هم ينتظرونك
“Belum wahai Rasulullah mereka menunggumu.”
Kemudian beliau pun berwudhu kembali. berjalan tertatih dan pingsan kembali.
Ketika siuman dari pingsan yang ke beliau ucapkan pesis seoerti sebelumnya :
أصلى الناس؟
لا يا رسول
Kemudian beliau perintahkan Abu bakar untuk mengimani para sahabat-sahabatnya.
Lihatlah wahai Jama’ah rahimani wa rohimakumullah, bagaimana kondisi sebagian kita kaum muslimin terhadap perkara sholat. Padahal Nabi ﷺ sering sekali mengingatkan perkara sholat bahkan dalam kondisi yang sangat genting tersebut.
Nabi ﷺ berkata di akhir wasiatnya :
الصَّلاةَ وما ملكت أيمانُكم، الصَّلاةَ وما مَلَكت أيمانُكم
“Jagalah sholat dan perhatikan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kalian 2x”. (HR. As-Suyuuthiy dalam al-Jaami’ ash-Shoghiir, 5154).
Pada suatu subuh menjelang wafatnya Nabi ﷺ beliau membuka kain tabir kamarnya untuk melihat sahabatnya yang sholat di masjid Nabawi.
Beliau melihat ternyata para sahabatnya sholat berjama’ah dengan kekhusu’an sesuai yang ia perintahkan. Mereka berdiri tegak sesuai yang ia perintahkan. Mereka merapat shaff sesuai yang ia perintahkan.
Berseri-serilah wajah Rasulullah ﷺ. Tampak kegembiraan dan kesenangan yang memancar menghiasi wajahnya.
Ketika sahabat mulai sadar bahwasanya mereka diperhatikan oleh Rasulullah ﷺ dari kejauhan, akhirnya mereka mengira bahwasanya Rasulullah ﷺ hendak sholat bersama mereka dan mengimami mereka. Ternyata Nabi ﷺ mengisyaratkan supaya mereka terus melaksanakan sholat.
Lantas bagaimana kah jikalau Nabi ﷺ melihat sholat subuh kita pada hari-hari ini. Apakah beliau akan tersenyum atau apakah beliau akan bahagia sebagaimana kebahagiaan beliau ketika melihat sholat subuh sahabat-sahabatnya kala itu. Yang kemudian pada waktu dhuha hari itu juga Nabi ﷺ diwafatkan menuju Allah Ta’ala menuju surga Firdaus yang paling tinggi.
Nabi ﷺ telah meninggalkan syariat untuk umat ini dengan sempurna. Dan beliau telah usai dalam mengemban amanah dari Allah Ta’ala dalam menyampaikan kebenaran. Tidaklah Nabi ﷺ tinggalkan satu pun kebaikan kecuali telah beliau jelaskan dan tidaklah ada satupun kejelekan kecuali beliau peringatkan kita semuanya darinya.
Berkata Anas bin malik radhiallahu’anhu :
شهِدتُه يومَ دَخَل المدينة فما رأيت يوماً قط كان أحسن ولا أضوأ من يوم دخل المدينة علينا، وشهدته يوم مات فما رأيت يوماً قط كان أقبح ولا أظلم من يوم مات فيه صلى الله عليه وسلم
والحديث أخرجه الدارمي في سننه والإمام أحمد وغيرهما
“Aku menyaksikan beliau ketika memasuki Madinah, aku tidak pernah melihat hari yang lebih baik dan lebih cerah daripada hari saat kedatangan Rasulullah ﷺ ke Madinah, dan aku juga menyaksikan hari wafatnya, maka aku tidak melihat satu hari yang lebih buruk dan lebih gelap dari pada hari wafatnya Rasulullah ﷺ”.
Akan tetapi walaupun jasad Rasulullah ﷺ telah mati, namun hadis dan petunjuknya tidaklah pernah mati. Walaupun kita tidak pernah mendengar ucapannya secara langsung. namun senantiasa kita mendengar atau dibacakan hadits-hadits beliau dihadapan kita. Dan orang-orang yang benar-benar sejati cintanya kepada Nabi ﷺ adalah mereka yang mengikuti petunjuknya tanpa menambah-nambahi atau mengurangi atau bahkan mengganti petunjuk beliau ﷺ.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala supaya Allah jadikan kita hidup dengan sunnah dan membela sunahnya dan mati di atas sunnah.
Dikumpulkan di telaga Rasulullah ﷺ dan mendapatkan syafaat beliau di padang Mahsyar kelak.
هذا و صلوا و سلموا على البشير النذير و السراج المنير حيث أمركم بذلك العليم الخبير . فقال:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
اللهم صل و سلم و بارك على سيدنا محمد و على آله و صحبه و التابعين و من تبعهم إلى يوم الدين.
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك و على طاعته
اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
اللهم أعز الإسلام والمسلمين فى كل مكان
اللهم إنا نسألك الجنة و نعوذ بك من النار
اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات الأحياء منهم والأموات
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار و الحمد لله رب العالمين
:عباد الله
إن الله يأمركم بالعدل و الإحسان و إيتاء ذي القربى و ينهى عن الفحشاء و المنكر يعظكم لعلكم تذكرون فاذكوا الله العظيم يذكركم و اشكروا على نعمه يزدكم و اسألوا من فضله يعطكم و لذكر الله أكبر
و الله يعلم ما تصنعون
***
Gresik : 10 Rabiul Awwal 1445 / 13 September 2024
Penulis : Ustadz Lis Mujiono, S.Pd
Artikel : Meciangi.or.id






