Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin. Wa ba’du.
Seluruh jalan yang mengantarkan pada kesyirikan maka hukumnya wajib ditutup.
Maknanya : wajib menutup segala hal yang menjadi sebab seseorang melakukan kesyirikan.
Itulah salah satu kaedah dari kitab tauhid Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab yang dirangkum oleh Syaikh Ahmad Aqil di dalam kitabnya Al-Qowaidu Al-Jami’atu ‘alaa kitabi At-tauhid.
Faedah yang dapat diambil dari kaedah ini adalah menjaga tauhid dan tidak melakukan hal-hal yang mengantarkan seseorang ke dalam kesyirikan.
Lalu beliaupun menyebutkan dua hal yang harus digaris bawahi :
Pertama : wasilah ( jalan yang mengantar) pada kesyirikan memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang sebagaimana terjadi pada kaum nabi Nuh ‘alaihissalam.[*]
Maka, wajib memperingatkan orang dari segala wasilah yang dapat mengantarkan pada perbuatan kesyirikan.
Kedua : diantara ujian yang menimpa kaum muslimin adalah berfoto ketika beramal soleh dan menyebarkannya.
Perbuatan ini merupakan pintu masuknya riya’ ke dalam diri manusia.
Maka hal seperti inilah yang mesti diperingatkan dan sepatutnya seorang muslim semangat untuk mengaplikasikan tauhid pada setiap amal solehnya.
Bila ada yang bilang : “loh, bisa jadi berfoto ketika beramal sholeh dan menyebarkannya itu dengan tujuan menyemangati orang lain supaya melakukan kebaikan juga, kalo niatnya gitu jadi hal yang diperintahkan, dong!”
Maka jawabannya adalah : banyak jalan untuk menyebarkan kebaikan dan banyak cara memotivasi orang lain untuk melakukan ketaatan tanpa harus berfoto saat beramal sholeh. Dan keselamatan merupakan hal yang tak ada tandingannya.
Bila ada yang bilang : “Bukankah memperingatkan orang lain dari berfoto saat beramal sama dengan menuduh orang lain dengan niat yang tidak-tidak (tidak ikhlas)?”
Jawaban : Bahkan dengan memperingatkan orang lain dari hal demikian merupakan :
– menjaga niat (mereka).
– memutuskan tali syaithan dan tidak mengikuti langkahnya.
————–
[*] Efek jangka panjang yang terjadi pada kaum nabi Nuh ‘alaihissalam :
Dulu ketika orang sholeh dari kalangan mereka wafat, syaithan membisikkan kepada mereka untuk membuat patung dan menamai patung tersebut dengan nama mereka, pada saat ini patung tersebut belum disembah.
Setelah berlalu waktu yang sangat panjang dan generasi pembuat patung tersebut wafat hingga berimbas pada hilangnya ilmu agama, akhirnya syaithan membisikkan anak keturunan mereka untuk menyembah patung tersebut. Kisah ini sangat ma’ruf dalam kitab-kitab aqidah.
***
Sidayu, 30 Rabiul Awal 1445 H/15 Oktober 2023 M.
Alih bahasa : Safto Mulyono
Artikel : Meciangi.or.id






