Jika kita membicarakan aib seseorang tanpa menyebut nama dan ciri2 fisik orang yg dibahas biar lawan bicara kita tdk mengetahui siapa yg di bahas. Masuk ghibah ga? (Ikram maluku utara)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Ibnu Hajar Al Haithami rahimahullah berkata:
الغيبة أن تذكر مسلما أو ذميا معيَّنًا للسامع ، حيا أو ميتا ، بما يكره أن يذكر به مما هو فيه ، بحضرته أو غيبته
“Ghibah adalah membicarakan seorang muslim atau ahlu dzimmi langsung menyebut nama baik dia masih hidup atau sudah mati yang tidak disukai atau memang benar faktanya seperti itu secara langsung atau tidak langsung.” (Lihat zawajir an iqtirof kaba’ir 2/25).
Sehingga jika tidak disebutkan siapa personnya dalam pembicaraan tersebut maka itu bukan termasuk perkara ghibah. Akan tetapi jika tidak disebutkan namanya namun yang mendengar tahu siapa yang dimaksud dalam perbincangan tersebut maka hal tersebut masih masuk dalam kategori ghibah.
Imam Nawawi rahimahullah berkata :
وقد قال إبراهيم : لا يكون غيبة ما لم يسم صاحبها باسمه ، أو ينبه عليه بما يفهم به عنه
“Dan Ibrahim an nakho’i berkata: bukanlah suatu ghibah selama tidak menyebut nama yang dimaksud atau isyarat yang dengannya dipahami siapa yang dimaksud.” (Lihat syarh shahih muslim 15/222)
Lajnah Daimah berkata :
إذا لم توجد قرائن أحوال تعيِّن أو ترجح أصحاب الواقعة فليست بغيبة
“Jika tidak disebutkan indikasi indikasi terkait yang bersangkutan maka ini bukan ghibah.” (Lihat fatawa lajnah daimah 15/26).
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata:
قولهم لا غيبة لمجهول : صحيح بشرط أن يكون هذا المجهول لو بحث عنه لم يعلم به
“Ucapan mereka: membicarakan orang yang tidak diketahui bukanlah ghibah adalah ucapan yang benar dengan syarat yang sedang dibicarakan ini jika dicari siapa dia tidak ada yang tahu.” (Lihat syarh arbain Nawawi 551).
Semoga bermanfaat.
***
Sidayu, Malam Sabtu 21 Dzulhijjah 1445 H / 28 Juni 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






