Dalam bentuk apakah zakat pertanian (padi) dikeluarkan? Apakah dalam bentuk gabah basah, gabah kering, atau dalam bentuk beras? Dan berapakah nisobnya? (Dhafin Reno)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata :
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤتى بالتمر عند صرام النخل فيجيء هذا بتمره وهذا من تمره حتى يصير عنده كوما من تمر فجعل الحسن والحسين رضي الله عنهما يلعبان بذلك التمر فأخذ أحدهما تمرة فجعلها في فيه فنظر إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخرجها من فيه فقال أما علمت أن آل محمد صلى الله عليه وسلم لا يأكلون الصدقة
“Adalah Rasulullah ﷺ didatangkan kepada kurma ketika panen (dan sudah dikeringkan), ini membawa kurma, ini membawa kurma sampai menggunung, maka Hasan dan Husein menjadikannya mainan dan salah satu dari keduanya memasukkan kurma ke mulut nya, maka Rasulullah ﷺ melihatnya dan mengeluarkannya dari mulut nya seraya bersabda :
Tidak tahukah kamu bahwa keluarga Muhammad tidak makan sedekah?.” (HR. Bukhari 1414).
Hadits ini menunjukkan bahwa hasil panen yang disetor untuk zakat adalah hasil panen yang sudah siap konsumsi.
Al Ismaili rahimahullah berkata :
بعد أن يصير تمرا لأن النخل قد يصرم وهو رطب فيتمر في المربد ولكن ذلك لا يتطاول فحسن أن ينسب إلى الصرام كما في قوله تعالى : وآتوا حقه يوم حصاده ، فإن المراد بعد أن يداس وينقى ، والله أعلم .
“Maksudnya panen yaitu setelah jadi kurma (setelah dikeringkan), karena kurma mungkin sudah bisa dipetik ketika masih ruthob kemudian dikeringkan di pengeringan, akan tetapi waktunya tidak lama, sehingga dinisbatkan kepada panen sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
“Dan tunaikanlah haknya pada hari panen.”
Maksudnya setelah diinjak dipukul (dikeringkan) dan dibersihkan.” (Lihat Fathul Bari 3/410).
Oleh karena itu imam kaum muslimin mengirimkan para amil zakat/penarik zakat yang pakar menakar perkiraan jumlah hasil panen jika sudah dikeringkan untuk diambil kadar zakatnya setelah mengering nanti.
Karena tentunya hasil panen basah dengan yang kering berbeda takarannya.
Dan jika imam tidak mengirim penarik zakat maka pemilik hasil panen bisa menyewa pengira takaran sendiri yang orang nya amanah untuk mengetahui berapa kadar wajib zakat pertanian miliknya.
Ibnu Mardawi rahimahullah berkata :
إذا لم يبعث الإمام ساعيا ، فعلى رب المال من الخرص ما يفعله الساعي ، ليعرف قدر الواجب قبل أن يتصرف
“Jika imam tidak mengutus penarik zakat maka pemilik harta menakar sendiri seperti yang dilakukan utusan imam, supaya dia tahu kadar wajib zakat sebelum memakannya.” (Lihat Al Inshof 3/111).
Kemudian pihak penakar hendaknya menyisakan sepertiga atau seperempat dari hasil panen kepada pemilik barang kali dia butuh memakannya segera atau bagi bagi kepada para tetangganya.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :
وعلى الخارص أن يترك في الخرص الثلث أو الربع ، توسعة على أرباب الأموال ؛ لأنهم يحتاجون إلى الأكل هم وأضيافهم ، ويطعمون جيرانهم وأهلهم وأصدقاءهم وسؤالهم
“Bagi penakar hendaknya menyisakan 1/3 atau 1/4 untuk melonggarkan pemilik hasil panen, karena mereka dan tamu mereka butuh untuk memakannya dan bagi bagi kepada para tetangga, keluarga, kawan kawan mereka yang meminta nya.” (Lihat Al Mughni 3/13).
“Hal ini dikarenakan tanaman pertanian sering berkurang entah karena ada orang yang ambil jagungnya, atau hewan yang memakan nya dll, sehingga hal ini tidak merugikan dan memberatkan pihak petani.” (Lihat Al Mughni 3/16).
***
Rengel, Jum’at 21 Ramadhan 1446 H/21 Maret 2025 M.
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






