Sabtu, Juni 6, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Pengantar Ilmu Aqidah: 3

Muhammad Dimas Prasetyo by Muhammad Dimas Prasetyo
6 Februari 2025
in AQIDAH
Reading Time: 7 mins read
0
Home AQIDAH

Masalah Ketiga: Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Antara Sekte-sekte Sesat

RELATED POST

Sihir dan Macam-Macamnya

Jauhi 7 Dosa Besar yang Membinasakan

Pokok Pertama: Bab Ibadah

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah – yang merupakan aqidah Islam yang benar – adalah tengah di antara aqidah sekte-sekte sesat yang mengaku sebagai bagian dari agama Islam. Aqidah ini adalah jalan tengah dalam setiap pokok aqidah, di mana setiap pokok aqidah memiliki dua kelompok yang pandangannya saling bertentangan. Salah satu kelompok berlebih-lebihan dalam pokok tersebut, sementara yang lainnya meremehkan, satu kelompok melampaui batas, sedangkan yang lainnya mengurangi. Oleh karena itu, aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah kebenaran di tengah dua kebatilan: mereka adalah golongan yang adil dan pilihan di antara dua pihak yang menyimpang dalam semua urusan mereka.

Dalam artikel ini akan sebutkan lima pokok aqidah yang menjadi jalan tengah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di antara sekte-sekte umat Islam:

Pokok Pertama: Bab Ibadah: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bersikap tengah dalam bab ini antara syiah Rafidhah dan kaum Sufi, serta antara kaum Druze dan Nusayriyyah (yang disebut juga sebagai Alawiyun).

Syiah Rafidhah dan kaum Sufi beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak disyariatkan, seperti zikir, tawassul, merayakan hari-hari raya, dan merayakan perayaan bid’ah. Mereka juga membangun kuburan, shalat di sana, dan tawaf mengelilinginya, bahkan menyembelih hewan di kuburan tersebut. Sebagian ekstrem mereka bahkan menyembah penghuni kubur dengan menyembelih untuk mereka atau memohon agar penghuni kubur tersebut mendatangkan apa yang mereka inginkan atau menghindarkan dari yang mereka takuti.

Sementara itu, kaum Druze dan Nusayriyyah (Alawiyun) sama sekali meninggalkan ibadah kepada Allah. Mereka tidak melakukan shalat, puasa, zakat, atau haji, dan seterusnya.

Adapun Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, mereka beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم. Mereka tidak meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka dalam ibadah, dan tidak menciptakan ibadah baru dengan cara mereka sendiri, sesuai dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

“من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد”

Artinya: “Barangsiapa yang melakukan sesuatu dalam urusan kami ini (agama) yang tidak ada padanya (tidak sesuai dengan ajaran kami), maka ia tertolak. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim (no. 1718), dan juga terdapat dalam Sahih al-Bukhari (no. 2697).

Dalam riwayat lain dari Muslim:

“من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد”

Artinya: Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka amalan tersebut tertolak. (Riwayat Muslim, no. 1718)

Juga sabda beliau dalam khutbahnya:

“أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة.”

Artinya: “Adapun setelah itu, sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru diadakan, dan setiap bid’ah adalah sesat. (Riwayat Muslim, no. 867)

Pokok Kedua: Bab Nama-nama dan Sifat-sifat Allah:

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bersikap tengah dalam bab ini antara golongan yang menafikan (muaṭṭiloh) dan golongan yang menyerupakan (mujassimah).

Di antara golongan yang menafikan adalah golongan yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah, seperti kaum Jahmiyyah. Ada pula yang hanya mengingkari sebagian sifat Allah, seperti kaum Mu’tazilah. Ada juga yang mengingkari sebagian besar sifat Allah dan mentakwilkannya, seperti kaum Asy’ariyyah, yang mengandalkan akal manusia yang terbatas dan mendahulukan akal mereka di atas Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم.

Adapun golongan yang menyerupakan, mereka memberikan contoh bagi Allah dan mengklaim bahwa sifat-sifat Allah menyerupai sifat-sifat makhluk, seperti perkataan sebagian mereka: “Tangan Allah seperti tangan saya” dan “Pendengaran Allah seperti pendengaran saya,” Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Namun, Allah memberi petunjuk kepada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah untuk berpegang pada pendapat tengah dalam bab ini, yang sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم. Mereka beriman kepada semua nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tercantum dalam nash-nash syar’i, mereka menyifati Allah dengan apa yang disifati oleh-Nya sendiri dan yang disifati oleh Rasul-Nya yang paling mengenal-Nya, Muhammad صلى الله عليه وسلم, tanpa ada peniadaan (ta’til) atau penakwilan, tanpa menyerupakan (tasybih) atau membandingkan, dan mereka meyakini bahwa sifat-sifat Allah adalah sifat yang hakiki, sesuai dengan kemuliaan-Nya, yang tidak menyerupai sifat makhluk, sesuai dengan firman Allah:

“لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ”

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah Asy-Syura, 42:11)

Pokok Ketiga: Bab Takdir dan Qadha:

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di tengah-tengah antara al-Qadariyah dan al-Jabariyah dalam masalah ini.
Al-Qadariyah menolak takdir dan mengatakan bahwa perbuatan hamba, baik ketaatan maupun kemaksiatan, tidak berada di bawah takdir Allah. Menurut mereka, Allah tidak menciptakan perbuatan hamba atau menghendakinya, melainkan para hamba itu berdiri sendiri dengan perbuatannya. Dengan kata lain, menurut mereka, hamba adalah pencipta perbuatannya dan memiliki kehendak yang independen, yang mengarah pada penyekutuan dalam rububiyah, mirip dengan pandangan kaum Majusi yang mengatakan bahwa alam ini memiliki dua pencipta. Oleh karena itu, mereka disebut “Majusi umat ini.”

Sementara itu, al-Jabariyah berlebihan dalam menetapkan takdir dengan mengatakan bahwa seorang hamba dipaksa dalam setiap perbuatannya, seperti daun yang terbawa angin tanpa kemampuan, kehendak, atau kekuatan.

Akan tetapi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dipandu oleh Allah untuk mengambil sikap yang benar dan tengah-tengah dalam hal ini, mereka meyakini bahwa hamba adalah benar-benar pelaku, dan perbuatannya benar-benar terhubung dengan dirinya. Namun, perbuatan hamba itu terjadi dengan takdir dan kehendak Allah yang telah menciptakan dan menghendaki segala sesuatu, seperti firman-Nya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan. (Ash-Shaffat: 96).

Selain itu, meskipun hamba memiliki kehendak, kehendak tersebut berada dalam kehendak Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Artinya: Dan kamu tidak menginginkan sesuatu pun kecuali jika Allah Tuhan seluruh alam menghendakinya. (At-Takwir: 29).

Namun demikian, Allah memerintahkan hamba untuk taat kepada-Nya, taat kepada Rasul-Nya, dan melarang mereka bermaksiat. Allah mencintai orang-orang yang bertakwa dan tidak ridha terhadap orang-orang yang fasik. Allah juga telah menetapkan hujjah bagi hamba-Nya dengan mengutus rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Maka siapa yang taat, dia taat dengan bukti dan pilihan, dan berhak mendapatkan pahala yang baik. Sedangkan yang bermaksiat, dia bermaksiat dengan bukti dan pilihan, dan berhak mendapatkan hukuman. Allah berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Artinya: Dan Tuhanmu tidaklah berlaku zalim terhadap hamba-hamba-Nya. (Fussilat: 46).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini empat tingkatan takdir yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadis, yaitu:

  1. Ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu, bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang akan dilakukan oleh makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan mereka.
  2. Penulisan takdir oleh Allah atas segala sesuatu di Lauh Mahfuzh, bahkan sebelum Dia menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.
  3. Kehendak Allah yang pasti, dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Setiap peristiwa di alam semesta ini sudah menjadi kehendak Allah.
  4. Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Dia menciptakan setiap pelaku dan perbuatannya, setiap yang bergerak dan gerakannya, setiap yang diam dan keadaannya.

Sebagian orang menyusun tingkatan-tingkatan ini dengan syair berikut: Ilmu, Penulisan, Kehendak Tuhan kami… Demikian pula Penciptaan, Pengadaan, dan Pembentukan.


Pokok Keempat: Bab Janji dan Ancaman:

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di tengah-tengah antara al-Wa’idiyyah dan al-Murjiah dalam hal ini.
Al-Wa’idiyyah cenderung menekankan nash-nash yang berisi ancaman dan hukuman, di antaranya adalah Khawarij yang beranggapan bahwa pelaku dosa besar dari kalangan umat Islam, seperti pelaku zina dan peminum khamar, adalah kafir yang kekal di neraka.

Sementara al-Murjiah cenderung menekankan nash-nash yang berisi harapan dan janji Allah. Mereka mengatakan bahwa iman itu hanya percaya di hati, dan amal tidak termasuk dalam iman. Oleh karena itu, dosa besar tidak akan membahayakan seseorang selama dia beriman. Jadi, bagi mereka, pelaku dosa besar seperti zina dan peminum khamar tetap tidak akan kekal di neraka, dan iman mereka setara dengan iman Abu Bakar dan Umar.

Namun, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa seorang Muslim yang melakukan dosa besar tidak keluar dari Islam, meskipun imannya berkurang. Jika dia tidak melakukan perbuatan yang menghapuskan iman (kufur atau syirik), maka dia tetap seorang Muslim meskipun fasik karena dosa besarnya. Di akhirat, dia berada di bawah kehendak Allah; jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuninya, dan jika tidak, Dia akan mengazabnya hingga dia dibersihkan dari dosanya dan dimasukkan ke dalam surga. Hanya orang yang kafir atau musyrik yang akan kekal di neraka.

Menurut Ahlus Sunnah, iman itu meliputi ucapan di lisan, keyakinan di hati, dan amal perbuatan dengan anggota tubuh. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.


Pokok Kelima: Bab Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di tengah-tengah antara Syiah dan Khawarij dalam hal ini.
Syiah, khususnya Rafidhah, berlebihan dalam memuliakan keluarga Nabi, seperti Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Mereka berpendapat bahwa Ali adalah ma’shum (terjaga dari dosa), mengetahui ilmu ghaib, dan lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar. Beberapa dari mereka bahkan menganggap Ali sebagai Tuhan.

Sementara Khawarij bersikap keras terhadap Ali dan mengkafirkan beliau, serta mengkafirkan Muawiyah bin Abi Sufyan dan mengkafirkan siapa saja yang tidak mengikuti ajaran mereka.

Rafidhah juga mengingkari sebagian besar sahabat Nabi, mencaci mereka, dan mengatakan bahwa mereka telah murtad setelah wafatnya Nabi. Bahkan Abu Bakar dan Umar menurut sebagian mereka adalah kafir. Mereka hanya mengakui sebagian kecil sahabat, terutama keluarga Nabi dan sedikit dari mereka yang dianggap sebagai wali. Mereka juga mengutuk ibu-ibu orang beriman dan sahabat-sahabat terbaik Nabi secara terbuka, khususnya Abu Bakar dan Umar, meskipun terkadang mereka bersikap baik terhadap mereka demi tujuan tertentu (taqiyyah). 1

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka mencintai semua sahabat Nabi, mendoakan kebaikan untuk mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah sebaik-baik umat setelah Nabi. Allah memilih mereka untuk mendampingi Nabi-Nya. Mereka bersikap diam terhadap perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan menganggap mereka sebagai orang-orang yang berijtihad dan mendapatkan pahala. Bagi yang benar dalam ijtihad, ada dua pahala, dan bagi yang salah, satu pahala. Ahlus Sunnah meyakini bahwa yang terbaik di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan terakhir Ali, semoga Allah meridhai mereka semua. Mereka juga mencintai keluarga Nabi dan menghormati hak mereka sebagai keluarga Rasulullah, baik hak agama maupun hak karena hubungan darah, dengan mendoakan kebaikan untuk mereka.

1 Ibn Taymiyyah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa 28/477-479: “Dan Rafidhah (Syiah) telah mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, serta sebagian besar dari para Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, yang Allah ridhai terhadap mereka dan mereka pun ridhai kepada-Nya. Mereka juga mengkafirkan sebagian besar umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, baik dari kalangan orang-orang terdahulu maupun yang belakangan. Oleh karena itu, mereka membantu orang-orang kafir melawan mayoritas umat Islam. Mereka lebih berbahaya bagi agama dan umatnya, serta lebih jauh dari syariat Islam dibandingkan dengan Khawarij al-Haruriyyah. Oleh karena itu, mereka adalah kelompok yang paling dusta di kalangan umat ini. Mereka juga memakai taqiyyah, yang merupakan ciri khas kaum munafikin dan Yahudi. Mereka mendukung Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik melawan umat Islam.” Tamat kata-katanya secara singkat.

ShareTweetPin
Muhammad Dimas Prasetyo

Muhammad Dimas Prasetyo

Muhammad Dimas Prasetyo adalah Penghafal Al-Qur'an. Alumni Ma'had Meci Angi Dompu, alumni Ponpes Riyadhus Sholihin Pandeglang, sedang menempuh studi S1 di STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.

Related Posts

Sihir dan Macam-Macamnya
AQIDAH

Sihir dan Macam-Macamnya

15 April 2026
Jauhi 7 Dosa Besar yang Membinasakan
AQIDAH

Jauhi 7 Dosa Besar yang Membinasakan

19 Februari 2026
Bersumpah Dengan Nama Selain Allah
AQIDAH

Bersumpah Dengan Nama Selain Allah

11 Januari 2026
Hukuman Bagi Tukang Sihir
AQIDAH

Hukuman Bagi Tukang Sihir

8 Desember 2025
Tafsir Ayat Tauhid (bagian 5)
AQIDAH

Tafsir Ayat Tauhid (bagian 5)

4 November 2025
Ketika Syirik dianggap Budaya dan Tradisi
AQIDAH

Ketika Syirik dianggap Budaya dan Tradisi

6 November 2025
Next Post
Hukum Menentukan Pakaian Tertentu untuk Wanita dalam Masa Iddah Kematian

Hukum Menentukan Pakaian Tertentu untuk Wanita dalam Masa Iddah Kematian

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Angkatlah Do’amu di Hari Arafah
  • Puasa Awal Dzulhijjah
  • Kambing 1,7 Tahun Belum Powel
  • Biografi Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdan

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp