Bismillah wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ba’du.
Wahai saudaraku muslim pernahkah kita merenungi kembali apa tujuan kita diciptakan oleh Allah Subahanu wa Ta’ala, apakah Allah Subahanu wa Ta’ala Dzat yang Maha Agung benar-benar menciptakan seluruh ciptaan-Nya dalam kesia-sian belaka? atau Apakah Dia menciptakan kita tanpa tujuan sedikitpun?, rasanya hal itu tidak mungkin terjadi. Mungkin kita telah mengetahui tujuan penciptaan tersebut namun kita ragu dengan apa yang kita ketahui. Oleh karenanya Allah Subahanu wa Ta’ala telah menjawab keragu-raguan, ketidaktahuan atau bahkan kebingungan tersebut dengan firman-Nya yang agung :
Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (Adz Dzaariyaat 51: 56)
Tentunya hampir seluruh kaum muslim memahami makna kutipan ayat di atas atau minimal mereka pernah mendengarnya dari orang lain. Perlu sama-sama kita sadari secara utuh bahwa sebenarnya Allah Subahanu wa Ta’ala menjadikan ciptaan-Nya terlebih kita, berada di atas fitrah dimana mereka semua mengetahui bahwa tujuan mereka diciptakan adalah untuk mengesakan dan beribadah hanya kepada Allah, sebagai mana kutipan singkat dari perkataan Syaikh Shalih bin Fauzan Hafidzahullah dan dinukil oleh beliau sebuah ayat yang selaras dengan perkataannya:
خلق الله الخلق مفطورين على التوحيد، و معرفة الرب الخالق سبحانه، كما قال الله تعلى : ( فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ) [الروم :٣٠]
“Allah telah menciptakan mahluk dalam keadaan difitrahkan di atas tauhid, mengetahui Allah Subahanu sebagai Rabb Yang menciptakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. [Ar-Ruum – 30]. (Kitab Aqiidatut Tauhiid. hal.20. Cet. Daarul Qaasim)
Maka dengan penetapan yang datang dari firman Allah Subahanu wa Ta’ala tersebut bahwasnya fitrah yang dimaksud adalah tauhid yang menjadi ketetapan-Nya yang mutlaq kepada kita. Dengan sebab penetapan tersebut, peribadatan kepada Allah Subahanu wa Ta’ala menjadi hak yang paling utama bagi Allah Subahanu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, sehingga hal tersebut menjadi acuan yang mendorong kita pada tujuan “Untuk apa kita hidup” yaitu untuk mentauhidkan Allah. Apabila tujuan itu telah jelas maka akan sirna keragu-raguan yang menjadikan permasalahan ini samar bagi sebagian orang. Maka dari itu penuhilah hak tersebut niscaya kita akan meraih jaminan yang besar sebagaimana hadist Nabi Salallahu ‘alahi wa Sallam :
عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : (( يا معاذ أتدري ما حق الله على العباد ؟ قال الله و رسوله أعلم قال : أن يعبدوه، ولا يشركوابه شيئا، أتدري ما حقهم عليه ؟ قال: الله و رسوله أعلم قال: أن لا يعذبهم))
Dari Mua’adz bin Jabal radiyallahu ‘anhu Nabi Shallallaahu ‘alahi wa Sallam bersabda : “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hambaNya? Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, Beliau bersabda: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu apapun. Beliau bersabda: “Apakah hak hamba atas Allah? Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, Beliau bersabda : “(Hak hamba atas Allah yaitu) Dia tidak akan mengadzab mereka.” (HR. Al-Bukhari, no.7373, Muslim, no.30. Lihat juga Al-Kunuuz Al-‘Adzhiimah, hal.5. Cet. Daarus Sunnah lin Nasyr wat Tauzii’)
Dari hadist yang mulia ini kita dituntut untuk membangun keyakinan bahwasnya dengan penciptaan seluruh mahluk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang menjadi tujuan utama dari penciptaan tersebut adalah kita menunaikan hak-Nya (mentauhidkan-Nya) dengan sungguh-sungguh agar dengannya kita tidak termasuk hamba-hamba-Nya yang diazab. Sebaliknya kita berharap rahmat-Nya yang luas dilimpahkan kepada kita, agar kita mendapatkan Surga-Nya sebagai ganjaran dari iman dan amal sholeh yang kita lakukan. Aamiin
Wallahu’alam.
***
Dompu, NTB : 8 Jumadal Ula 1444 H/2 Desember 2022
Penulis : Muhammad Hidayatullah, S.Psi (santri Ma’had Meci Angi angkatan ke 7)
Dimuroja’ah oleh : Tim Meciangi
Artikel : Meciangi.or.id







Masya Allah. Baarakallahu fiik.. cocok di mandadi admin meciangi.or.id D.yayat ke
InsyaAllah Abu Mutiah…. doakan saja… fiik baarakallah